Ragam

Mengenang Mahbub Djunaidi: Berpolitik Lewat Sastra

Instagram @pmiikece

Surabaya (beritajatim.com) – Mahbub Djunaidi, nama yang tidak asing terdengar, terutama bagi aktivis organisasi eksternal kampus. Mahbub Djunaidi itu seorang jurnalis, kolumnis, organisatoris, tapi jangan lupakan beliau juga seorang sastrawan ulung. Mahbub Djunaidi merupakan putra asli Betawi, ia lahir di Tanah Abang, 27 Juli tahun 1933. Mahbub merupakan putra Kiai Haji Muhammad Djunaidi, salah seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) terkemuka kala itu.

Karir bung Mahbub memang diawali dari dunia tulis menulis. Bahkan, Bung Mahbub membangun kebiasaan menulis sejak duduk di bangku SMP. Itu terjadi saat awal kemerdekaan, Mahbub hidup berpindah dari Jakarta ke Solo ikut keluarganya. Ketika di Solo itulah, tulisannya berawal.

Masa itu, cerpen Mahbub berjudul Tanah Mati dipublikasikan oleh majalah Kisah, majalah kumpulan cerita pendek bermutu. Karya itu mendapat komentar dan penilaian HB Jassin, sang legendaris sastra Indonesia sekaligus pengelola majalah kisah kala itu.

HB Jassin begitu kagum dengan tulisan Mahbub Djunaidi muda. HB Jassin menilai jika Mahbub mampu memandang persoalan dari segi yang kocak. Percampuran antara satire dan humor disertai unsur kritik. Gaya tulisan Mahbub dipandang ringan, menyenangkan, seolah-olah main-main, tapi masalah yang dibahas justru serius. Tulisan Mahbub seolah jadi keberhasilan luar biasa dari campuran jurnalistik dan sastra.

Jakob Oetama — kawan Mahbub Djunaidi sesama jurnalis, pendiri surat kabar Kompas dan kini Presiden Direktur kelompok Kompas-Gramedia, juga mengenal Mahbub sebagai jurnalis yang sastrawan. “Layaknya Bung Mochtar Lubis, disamping jadi wartawan adalah juga sastrawan, Mahbub juga demikian, tentu saja sekaligus politisi,” begitu pengakuan Jakob Oetama dalam buku Bung: Memoar Tentang Mahbub Djunaidi (2017:23).

Selama masa hidup Mahbub dikenal sebagai pribadi yang berani dan sederhana. Ia seorang penulis yang aktif mengkritisi pemerintahan Orde Baru melalui berbagai esai hingga menyebabkan penangkapannya pada tahun 1977.

Kritiknya atas demokrasi di Indonesia telah jadi landasan berbagai gerakan sosial baik dalam ranah kemahasiswaan hingga organisasi masyarakat keagamaan. Melalui pemikiran Djunaidi masyarakat Indonesia turut jadi pewaris sah berbagai konsep mendasar seperti landasan perkembangan teologi sosial, demokrasi, pendidikan dan keadilan sosial.

Mahbub Djunaidi yang juga dikenal sebagai ketua pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini punya banyak karya. Berikut daftar karya yang dapat kita baca hingga hari ini. Karya berjudul Dari Hari ke Hari, Kolom Demi Kolom, Humor Jurnalistik, Angin Musim.

Selain itu esai-esai Bung Mahbub juga dapat kita akses secara bebas di berbagai laman media daring. Beberapa karya itu bisa membuat kita lebih dekat dengan Mahbub Djunaidi yang lincah, halus, tapi jenaka guna menanggapi persoalan demokrasi, HAM, korupsi, hingga berbagai persoalan kompleks lain.

Bung Mahbub memang telah tutup usia pada 1 Oktober 1995. Pencipta Mars PMII ini akan terus abadi dengan karya, dedikasi, dan kreasinya dalam benak masyarakat Indonesia. Generasi muda layak bangga, dan meneruskan perjuangan Bung Mahbub sebagai tokoh luar biasa dan multi talenta. [dan/esd]


Apa Reaksi Anda?

Komentar