Iklan Banner Sukun
Ragam

Marchel Widianto Pernah Jadi Kurir Sabu Hingga Antar Jemput PSK

(Foto: Instagram, @marshel_widianto)

Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai Comika, Nama Marshel Widianto lekat sekali dengan persona orang miskin. Sebab, Marshel memang dulunya hidup dalam kehidupan yang serba kekurangan. Kisah kemiskinan tersebut lah yang membawa marshel sampai ke babak final kompetisi Stand Up Comedy di Indosiar.

Stand Up Comedy memang menjadi salah satu kesenian yang banyak membawa perubahan hidup pegiatnya. Bukan hanya Marshel, ada pula Dodit, serta Arafah yang akirnya bisa mengubah hidup mereka dengan Stand Up. Namun, kisah hidup Marcel belakangan kembali menjadi perbincangan masyarakat.

Pria kelahiran Jakarta, 30 Mei 1996 ini mejadi perbincangan setelah dirinya bersama Babe Cabita dijadikan brand ambassador produk skincare yang diperuntukan untuk laki-laki. Meski sempat menuai pro dan kontra dari kalangan netizen, namun ia tetap membuktikan dengan memberikan penampilan terbaik. Bahkan, wajahnya menjadi salah satu orang Indonesia yang terpampang di billboard Times Square New York, Amerika Serikat.

Dari ketenarannya tersebut, siapa menyangka bahwa Marshel ternyata pernah menjadi seorang kurir antar jemput pekerja seks komersial (PSK). Dalam kanal YouTube Deddy Corbuzier yang diposting Rabu, 29 September tersebut, ia menceritakan pengalamannya ketika berprofesi sebagai ojek PSK. Ia mengaku sekadar mengantarkan ke tempat tujuan dan mengantarnya kembali ke rumah.

Dari pekerjaan ini upah yang didapatkan pun juga tidak menentu, semua tergantung dengan mood pelanggannya. Dalam pengakuannya, Marshel pernah diberi uang 50-100 ribu rupiah untuk sekali pulang pergi.

Karena hanya sebagai ojek, ia tentu tidak tahu persis apa yang dilakukan oleh pelanggannya di dalam sana. Ia hanya mengantar sekaligus menjemput sesuai jam yang telah ditentukan. Namun, Marshel juga mengungkapkan bahwa tak jarang dalam perjalanan pulang pelanggannya bercerita apa yang telah terjadi malam itu.

Masa kelam Marshel bahkan tidak hanya itu, saat usianya baru menginjak lima tahun ia bahkan sudah menjadi kurir sabu. Sebagai anak kecil yang masih polos, saat itu Marshel hanya mengetahui bahwa yang ia antarkan hanya serbuk bedak untuk bermain karambol. Baru setelah masuk usia 13 tahun, ia baru sadar jika yang ia antarkan selama ini adalah barang terlarang.

Ketika menjadi kurir sabu tersebut, Marshel mengungkapkan bahwa ia diberi imbalan berupa mainan mahal pada masanya, yakni Tamiya beserta aksesorisnya. Meski sempat merasa sangat senang memiliki mainan tersebut, nyatanya Marshel tidak berani membawanya pulang karena khawatir sang ibu akan menanyakan atau bahkan memarahinya. [fyi/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar