Iklan Banner Sukun
Ragam

Makanlah Secukupnya, Sampah Sisa Makanan Sudah Overload

(Foto: Ketut Subiyanto, pexels)

Surabaya (beritajatim.com) – Sebagian besar dari kita pasti pernah mendapat teguran dari orang tua ketika dulu, kita makan dan tidak habis. “Nanti ayammu mati, lho kalau makannya tidak habis,” adalah kalimat yang sangat akrab dan sering kita dengar.

Walaupun tampak sepele, kebiasaan membuang makanan atau menyisakan makanan merupakan perilaku yang sangat tidak baik. Karena, berdampak besar pada populasi dan lingkungan.

Setiap hari banyak sisa makanan yang dibuang berasal dari rumah tangga, restoran, hotel, kafe, dan sisa acara Resepsi pernikahan. Sampah makanan atau sampah sisah makan sering diartikan sebagai hilangnya sejumlah pangan, antara rantai pasok pangan, dari proses produksi, agrikultur, penanganan penyimpanan pasca panen, dll. Akibatnya sampah menumpuk dan melestarikan perilaku konsumtif dan pengolahan pangan yang buruk.

Berdasarkan laporan di PBB disebutkan Sekitar 17% atau 1,03 miliar ton makanan sisah yang dibuang, adapun survei ekonomi nasional tahun 2018 mengemukakan bahwa mayoritas kota besar di Indonesia kedapatan Memproduksi sampah organik dalam jumlah besar ketimbang sampah lainnya.

Dinilai sangat ironis karena begitu banyak pangan yang dibuang karena masih banyak penduduk Indonesia yang masih kelaparan apalagi pada tahun 2018 sebanyak 13,8% balita masih dikategorikan kekurangan gizi dan 3,9% lainnya menderita gizi buruk.

Sedangkan bagi alam, sisa makanan yang menumpuk di tempat Pembuangan akhir akan mengeluarkan gas metana yang amat berbahaya bagi alam. karena gas ini memang tidak berwarna dan tidak berbau tapi mudah terbakar, Dan gas metana 21 kali lebih berbahaya ketimbang karbon-dioksida.

Dampak yang ditimbulkan dari penumpukan sampah sisah makanan Ini ialah menyangkut segala hal tentang Kesia-siaan dan berdampak bagi lingkungan seperti pemanasan global dan memicu terjadinya perubahan iklim.

Di Indonesia ada beberapa kalangan di Surabaya yang membentuk komunitas bernama Garda pangan, komunitas ini didirikan berdasarkan atas keprihatinan banyaknya sampah di Indonesia terutama sampah sisa makanan.

Komunitas ini berdiri semacam bank makanan dan para nasabahnya adalah para produsen makanan seperti restoran, toko roti, hotel, warung makan, dan katering. Cara kerjanya, para nasabah ini akan menyetorkan makanan yang overload, lalu para sukarelawan dari Garda pangan akan menyalurkan kepada pemulung, orang miskin, dan orang yang tinggal dipinggir kali. Dengan begitu akan mengurangi sisa makanan yang dibuang sia-sia. [ptr/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar