Iklan Banner Sukun
Ragam

Kepiluan Saun 20 Tahun Mengayuh Becak Tergerus Ojek Online, Kini Tak Punya Penumpang

Kediri (beritajatim.com) – Kehadiran teknologi menjadi alternatif untuk memudahkan kehidupan. Tetapi di sisi lain, bisa menggeser keberadaan yang lain. Terutama pada sektor tranportasi.

Kondisi pilu dialami Saun (75), pengayuh becak asal Kota Kediri. Sudah 20 tahun lamanya dia menjalani profesi tersebut namun kini harus menerima kondisi.

Usahanya tergerus kehadiran ojek online. Meski memilih bertahan, ia harus kehilangan banyak pelanggan lantaran beralih ke sistem transportasi mengandalkan digital.

Saun menyadari pengaruh hadirnya jasa transportasi modern berbasis aplikasi. Baginya yang sudah lanjut usia, selain mengalami keterbatasan modal usaha juga sulit mengikuti perkembangan teknologi.

“Kehadiran Gojek dan Grab berpengaruh besar terhadap pendapatan tukang becak. Tapi karena harus bertahan hidup, mau tidak mau harus tetap bekerja sebagai tukang becak,” kata Saun, pada Senin (23/5/2022).

Sehari-hari, Saun mangkal di sekitar Taman Sekartaji, Kota Kediri. Teman-temannya yang memilih bertahan, rata-rata juga sudah lanjut usia.

Saun cukup dikenal oleh sesama tukang becak. Ini karena dia sudah menggeluti profesi tersebut dalam rentang waktu cukup lama.

“Saya sudah 20 tahun mengayuh becak. Di saat anak-anak muda beralih jadi ojek online, saya tetap dengan becak kayuh ini,” imbuhnya.

Saun mengaku pernah mengalami zaman kejayaan saat becak menjadi alat transportasi yang diidolakan. Pada 2000-an, banyak penumpang yang memanfaatkan angkutan roda tiga ini.

Seiring maraknya alat transportasi modern, jumlah penumpang becak Saun pun ikut menurun. Terlebih, saat ojek online booming di Kota Kediri, banyak penumpangnya yang berpindah.

“Kalau sepi ya hanya mendapat Rp20 ribu dalam sehari. Tapi saat ramai bisa Rp100 ribu. Tapi biasanya kalau sudah dapat Rp 100 ribu, selanjutnya pasti sepi tarikan,” ingatnya.

Dia pun mengakui saat ini cukup sulit mendapat penumpang. Meski begitu, ia tidak patah semangat bekerja dari pagi hingga malam hari.

“Penumpangnya semakin sepi. Sedangkan harga kebutuhan pokok tidak pernah turun. Yang ada selalu naik,” kata kakek yang tinggal sebatang kara ini.

Saun memang hidup sendiri. Istrinya sudah lama meninggal dunia. Dia juga tidak memiliki anak. Hari-hari tua ia habisnya di atas becak dan jalanan Kota Kediri.

Untuk diketahui, jasa transportasi online mulai datang di Kota Kediri, sejak pertengahan 2017 silam. Awal kehadirannya cukup memperoleh penolakan dari tukang becak dan ojek konvensional.

Tetapi, seiring waktu, perseteruan antar dua kubu jasa transportasi ini berakhir, setelah pemerintah daerah mengatur zonasi. Ada titik-titik terlarang bagi ojek online maupun mobil angkutan online mengambil penumpang dan disepakati kedua belah pihak. [nm/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar