Iklan Banner Sukun
Ragam

Ini 4 Kisah Inspiratif Pengajar dalam Rangka Peringati Hari Guru Sedunia

(Foto: Mentatdgt, pexels)

Surabaya (beritajatim.com) – Pahlawan tanpa tanda jasa, itulah sebutan yang melekt erat bagi para guru. Mereka adalah pahlawan yang mendidik dan menjadi garda terdepan penginkatan kualitas manusia. Tanpa tanda jasa, karena berbeda dengan tentara yang mendapatkan lencana, guru tidak.

Untuk memperingati perjuangan mereka, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan tanggal 5 Oktober sebagai hari guru sedunia. Berikut ini beberapa kisah inspiratif para guru yang layak dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa, seperti dilansir dari berbagai sumber, Selasa (5/10/2021):

Maggie MacDonnell, Kanada

Melansir dari Global citizen, daerah Nunavik, Quebec Kanada, pernah menjadi wilayah yang krisi selama enam tahun karena meningkatnya angka bunuh diri. Salah satu guru di desa Salluit terpencil di Inuit, komunitas paling utara kedua Quebec, MacDonnell berinisiatif untuk melawan krisis tersebut. Ia kemudian mendirikan klub lari, pelatihan pencegahan bunuh diri, dan program keterampilan hidup untuk anak perempuan yang menghadapi kehamilan remaja dan pelecehan seksual di komunitasnya.

Michael Wamaya, Kenya

Wamaya, seorang guru tari balet asal daerah kumuh Kibera di ibukota Kenya, Nairobi mendedikasikan dirinya untuk mengajar dan menumbukan bakat minat pada anak-anak desa setempat. Berkat pengabdiannya tersebut, beberapa siswa berhasil menampilkan The Nutcracker atau musikal balet terkenal di Teater Nasional Kenya, sementara yang lainnya telah menjadi penari ulung, hingga memenangkan beasiswa untuk pendidikan tinggi.

Salima Begum, Pakistan

Begum merupakan guru di Sekolah Dasar untuk Wanita di Gilgit, Pakistan. Ia berhasil mengajar lebih dari 7.000 siswa di seluruh provinsinya, dan 8.000 lebih di seluruh negeri. Motto yang ia terapkan dalam hidupnya melegenda di kalangan siswanya, yakni “Belajar selama 24 jam, bukan selama 6 jam” Begum juga melibatkan murid-muridnya dalam kegiatan yang dapat dilakukan di luar kelas dalam upaya untuk mengajar gadis-gadis di komunitasnya tentang “belajar terus menerus.”

Mulyono, Indonesia

Pria yang akrab disapa Pak Mul oleh anak-anak suku Baduy ini layak disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Hal ini karena dedikasinya selama belasan tahun aktif mengajar membaca dan menulis anak-anak penduduk setempat yang tidak bersekolah. Melansir dari salah satu sumber, pemuda berusia 26 tahun ini merupakan satu-satunya warga Baduy yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. [rsf/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar