Iklan Banner Sukun
Ragam

Hari Wayang Nasional, Tak Sekadar Budaya Juga Sarana Penyebaran Agama

(Foto: Dino Januarsa, unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Dari tahun ke tahun wayang, seperti juga banyak seni budaya lainnya, mulai kurang diminati. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih rutin dan jenak menikmati wayang sebagai bagian dari seni budaya dan seni pertunjukan. Bahkan, kebanyakan dari kita – anak-anak milenial – mungkin sekalipun belum pernah menonton pertunjukan ini.

Meski begitu, wayang tetap menolak untuk mati. Bahkan, kesenian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO pada 2003 silam. Tanggal penetapan ini kemudian diambil sebagai peringatan Hari Wayang Nasional.

Wayang merupakan budaya asli indonesia. Dari teks dan situs arkeologi yang pernah ditemukan pada abad pertengahan, diketahui bahwa wayang, sudah ada di jawa dan bali sejak akhir milenium ke-1 Masehi.

Para peneliti yang percaya dan menyatakan bahwa wayang merupakan produk asli jawa adalah Brandes, Kuyt, dan Profesor D.A.J Hazeu ahli etnografi yang telah meneliti kehidupan masyarakat nusantara sejak masa purba. Alasan lain kenapa wayang dianggap sebagai produk asli nusantara utamanya jawa, adalah perbedaan boneka wayang dengan boneka yang ada di peradaban India dan Benua Asia lainnya.

Selain bentuk dan bahan pembuatan wayang yang berbeda dari boneka lain di Asia, kompleksitas yang ada di satu pagelara wayang juga menjadi bukti lain. Sebab, dalam satu pagelaran wayang, ada banyak perabot, alat musik serta orang yang terlibat.

Selain diperlukan aneka macam tokoh boneka wayang, juga dibutuhkan set gamelan lengkap sebagai musik pengiring, juga dalang sebagai sutradara lakon, serta sinden yang menjadi penyanyi. Ditambah lagi pakaian yang dikenakan oleh para staff wayang pun memiliki ketentuan tersendiri.

Tidak ada budaya pertunjukan boneka lain di Cina ataupun India yang memiliki kecanggihan, kedalaman cerita dan kreativitas seperti yang ada di wayang jawa. Di Indonesia, atau nusantara, catatan tertua yang bisa ditemukan dan membahas mengenai wayang berasal dari abad ke-9.

Yakni di kisaran tahun 840 Masehi. Catatan tersebut berasal dari Prasasti Jaha dari Kerajaan Medang di Jawa Tengah. Ada tiga macam lakon pewayangan yang tercatat di sana yakni: Atapukan, Aringgit, dan Abanol

Aringgit memiliki arti sebuah pertunjukan boneka wayang. Sedangkan atapukan artinya pentunjukan tari topeng, dan aringgit adalah seni humor.

Wayang dalam perjalanannya memang bukan sekadar sebagai sebuah pertunjukan hiburan semata. Wayang juga digunakan sebagai alat untuk menyampaikan ajaran agama dan ajaran-ajaran moral masyarakat.

Ketika agama hindu masuk di jawa misalnya, wayang menjadi alat untuk menceritakan ksiah-kisah yang lekat dengan nilai-nilai agama hindu seperti Mahabarata dan Ramayana. Pun ketika islam masuk. Cerita-cerita pewayangan kemudian disesuaikan dengan ajaran-ajaran agama islam.

Beberapa tokohnya pun mengalami perubahan dan penambahan. Seperti munculnya Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong sebagai batur para raja yang tidak ada di cerita asli Mahabarata dan Ramayana.

Dalam sejarahnya, pertunjukan wayang biasanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, perayaan hari besar dan kegiatan masyrakat. Seperti di acara mantenan, sunatan, ritual ruwata, sedekah bumi, serta perayaan hari kemerdekaan. [tur/bjo]


Apa Reaksi Anda?

Komentar