Iklan Banner Sukun
Ragam

Fakta dan Mitos Sistem Kebut Semalam Ketika Mengerjakan Tugas

(Foto: Jeshoot com, unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Sistem kebut semalam adalah sesuatu yang sudah melegenda. Hampir semua pelajar dari segala tingkatan, pernah dan bahkan masih menggunakan metode ini. Sebab, sejak dari sekolah dasar, kita memang sudah akrab dengan hal ini, mengerjakan PR atau tugas tepat di menit-menit akhir deadline.

Ada beberapa tanggapan pro juga kontra terkait SKS, baik menyangkut mental, output atau keluaran hasil yang dikerjakan, juga tentunya jam tidur yang juga sangat terpengaruh. Diantara pendapat yang berkembang mengenai sistem kebut semalam, ada yang bersifat mitos ada pula yang bersifat fakta.

Mitos pertama soal belajar dengan Sistem Kebut Semalam (SKS) membuat Anda lebih bersemangat untuk menghadapi ujian. Padahal faktanya SKS justru membuat mental Anda tidak siap dan tidak tenang saat ujian. Sebab, Anda akan memaksa diri sendiri untuk menyerap banyak informasi dalam durasi yang singkat.

Mitos pertama ini diperkuat dengan fakta jika sistem SKS ini justru membuat seseorang lebih mudah menyerah. Rasa semangat akan hilang saat melihat banyaknya tumpukan materi yang jadi kewajiban untuk dipelajari.

Mitos kedua soal SKS lebih efisien karena tumpukan tugas selesai sekaligus. Padahal faktanya, SKS ini justru membuat hasil pekerjaan tidak akan maksimal. Di samping itu, akan menyebabkan terbentuknya kebiasaan prokrastinasi alias menunda-nunda pekerjaan.

Menumpuk tugas akan membuat Anda justru lebih malas. Melihat tumpukan tugas yang banyak otak pun terdorong merasa beban, sehingga tidak bisa selesai sekaligus. Baiknya, tugas itu dicicil dengan kapasitas sehari ada perkembangan agar bisa selesai tepat waktu.

Mitos selanjutnya, tidur tidak mendukung proses belajar. Faktanya bahwa tidur yang cukup justru mendukung proses belajar. Saat tidur, otak seseorang akan menghapus koneksi neuron yang tidak berguna. Ini menguatkan koneksi neuron terkait apa yang sedang dipelajari.

Pada intinya SKS sebenarnya bukan rutinitas sehat yang layak untuk dilakukan. Pola belajar yang sehat akan berdampak pada pengembangan diri yang optimal. Dengan SKS pola belajar tidak akan sehat, sebab terburu-buru dan tidak ada perencanaan yang jelas. [dan/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar