Iklan Banner Sukun
Ragam

Drama Panjang Pertikaian Aremania vs Bonek, Apa yang Jadi Pemicunya?

Ilustrasi sepak bola. (Sumber foto: Phillipkofler/pixbay.com)

Surabaya (beritajatim.com) – Bulan Oktober diawali dengan kericuhan dan duka mendalam yang datang dari dunia sepak bola pada Sabtu, (1/10/2022) malam.

Usai laga Arema FC vs Persebaya, terjadi kericuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Mirisnya lagi, lebih dari 150 nyawa melayang akibat peristiwa ini, tak sedikit pula yang dibawa ke rumah sakit lantaran menderita luka serius.

Kerusuhan dipicu oleh emosi para suporter Arema, Aremania, lantaran kekalahan tuan rumah dengan skor 2 – 3. Diawali beberapa orang yang terjun ke lapangan hingga tak lama suasana menjadi kisruh dan tidak terkendali. Kewalahan, polisi dan pihak keamanan akhirnya melemparkan gas air mata, yang sayangnya membuat banyak korban berjatuhan.


Kejadian ini tentu sangat mengejutkan, bahkan hingga ke seluruh penjuru dunia. Banyak pemain sepak bola internasional yang prihatin dan menyayangkan peristiwa yang terjadi. Sejauh ini, kasus masih diinvestigasi, sementara jumlah korban tewas terus bertambah.

Banyak orang sudah tak asing lagi dengan drama panjang antara suporter Persebaya Surabaya dengan Arema FC, yakni Bonek dan Aremania. Kedua kelompok ini memang sering terlibat bentrok demi membela tim sepak bola dari tanah kelahiran masing – masing. Tak jarang perang berkelanjutan ini membuat warga daerah baik Surabaya maupun Malang ikut terkena imbasnya.

Lantas, hal apa yang mengawali permusuhan antar dua suporter ini? Hingga akhirnya kebencian seolah mengalir kental di darah mereka? Simak ulasannya berikut ini.

Awal mula pertikaian antara Bonek dan Aremania

Berlangsung selama bertahun – tahun, tanggal 23 Januari 1990 disebut sebagai awal mula terjadinya konflik. Menariknya, konflik ini berlangsung bukan pada saat pertandingan sepak bola, melainkan ketika para suporter sedang menyaksikan konser grup band Kantata Takwa di Tambaksari, Surabaya.

Di 30 menit pertama konser, kesabaran Bonek diuji dengan arek – arek Malang yang menguasai area depan panggung. Arema terus menggaungkan kata “Arema” dengan bangga, padahal kala itu konser diadakan di Surabaya yang notabene adalah daerah kekuasaan Bonek.

Geram, pemuda Surabaya pun membawa rombongan dengan jumlah yang lebih banyak, dengan tujuan dapat menyingkirkan arek – arek Malang. Keributan pun tak dapat terelakkan, hingga berakhir dengan tawuran di luar stadion dan berlanjut ke Stasiun Gubeng.

Sejak saat itulah rivalitas berlangsung sampai ke tahun – tahun berikutnya, bahkan seolah turun temurun dari generasi ke generasi. Di tahun 1992 tawuran antara Aremania dan Bonek juga terjadi saat konser Sepultura di lokasi yang sama.

Di sisi lain, ada versi yang mengatakan bahwa perseturuan berawal dari kecemburuan sosial. Pemberitaan di Jawa Timur lebih banyak membawakan kabar tentang Persebaya, seringkali klub tersebut menjadi headline padahal hanya melakukan latihan rutin. Sementara Arema FC yang kerap memenangkan pertandingan tidak tercium baunya oleh media.

Keadaan terus memanas seperti pada Februari 2020 lalu, yakni saat pertandingan semi final Piala Gubernur antara Persebaya melawan Arema. Saat itu laga diadakan di Stadion Supriyadi, Blitar, Jawa Timur. Jumlah massa yang membludak kembali di tak bisa di kontrol.

Kedua suporter pun bertemu di lokasi pasar herwan Kelurahan Kauman dan berakhir bentrok. Selain banyak korban cedera, beberapa fasilitas umum dan kendaraan juga menjadi sasaran. Seperti dilempar dengan batu dan kayu, hingga dibakar.

Beberapa upaya dilakukan untuk menghindari pertikaian, seperti pada liga yang berlangsung Sabtu kemarin. Suporter yang diizinkan masuk hanya Aremania saja, sementara tidak boleh ada Bonek yang menonton langsung di lapangan, mengingat pertandingan dilakukan di area Malang.

Namun sayangnya, ternyata hal itu tak membuat kerusuhan dapat dihindari, bahkan berujung menjadi tragedi kedua terbesar yang terjadi di dunia sepak bola internasional.(mnd/nap)


Apa Reaksi Anda?

Komentar