Ragam

Cara Mengatasi Jenis Depresi Musim Hujan dengan Menjaga Pola Makan

Foto: ilustrasi makan makanan sehat. (Sumber foto : pexels)

Surabaya (beritajatim.com) – Depresi ternyata juga bisa dialami seseorang setiap pergantian musim, loh. Depresi yang muncul selaras dengan perubahan musim ini dikenal dengan nama Seasonal Affective Disorder (SAD).

SAD biasanya terjadi pada bulan-bulan peralihan dari musim panas ke musim dingin, depresi ini bisa berlangsung hingga musim semi atau musim panas berikutnya. Meskipun juga bisa terjadi di musim lain, seperti musim panas atau gugur. Di Indonesia sendiri, SAD biasanya terjadi pada musim hujan, menjelang akhir tahun.

Gejala umum SAD termasuk perasaan sedih, tidak ada motivasi untuk semangat, tidak berenergi, kesulitan berkonsentrasi pada tugas sehari-hari, dan perasaan putus asa secara terus-menerus. Karena gejala ini berkaitan dengan musim, maka siklus dari SAD bisa sulit dihadapi setiap tahun.

Hubungan Kesehatan Mental dengan Kebiasaan Makan

Tidak ada pengobatan langsung yang sederhana untuk mengobati kondisi terkait depresi. Cara terbaik untuk mengobati SAD, terutama yang sangat parah adalah berkonsultasi dengan profesional. Psikolog dan psikiater dapat mendiskusikan rencana perawatan yang efektif yang dapat menggabungkan terapi atau bahkan pengobatan.

Namun jika dirasa masih dapat ditangani sendiri, kita bisa mengatasinya dengan mengubah gaya hidup. Melansir Healthline, Klinik kejiwaan Cleveland merekomendasikan untuk melakukan olahraga secara teratur, menghabiskan waktu di luar rumah, tidur yang cukup, dan makan makanan yang seimbang dapat membantu Anda mengelola gejala SAD.

“Meskipun tidak ada satu aturan makanan khusus untuk menghindari depresi musiman, namun ada beberapa makanan dan tips yang dapat membantu menangkal gejalanya,” kata Amy Goodson, MS, RD, CSSD, LD, penulis The Sports Nutrition Playbook.

Konsumsi makanan yang mengandung vitamin D

Amy merekomendasikan makanan yang kaya akan vitamin D. Meskipun beragam jenis vitamin penting untuk tubuh, namun kita lebih cenderung kehilangan vitamin D ketika menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan (sesuatu yang sangat umum ketika hari semakin pendek dan suhu turun udara turun).

“Salah satu alasan utama kita mengalami depresi musiman adalah karena kurangnya sinar matahari dan aktivasi vitamin D,” kata Amy.

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang kekurangan vitamin D lebih cenderung mengalami depresi, dan mungkin ada hubungan antara kekurangan vitamin D dengan gangguan mood tertentu seperti gangguan SAD.

Orang dewasa direkomendasikan untuk mendapatkan sekitar 600 mikrogram vitamin D setiap hari.

Makanan yang mengandung vitamin D yang dapat menjadi asupan makanan sehari-hari adalah susu sapi, ikan berlemak seperti salmon dan trout, serta telur. ​​Untuk sumber vitamin D nabati, Anda juga dapat menemukannya di jeruk, jamur, pisang dan bayam.

Namun, mendapatkan cukup vitamin D masih sulit dilakukan melalui sumber makanan saja. Jadi, jika memungkinkan, cobalah menghabiskan waktu di luar ruangan terutama pagi hari. Selain itu, asupan vitamin D juga bisa didapatkan dari suplemen.

Konsumsi protein yang cukup

Menurut Amy, mendapatkan asupan protein yang cukup sepanjang hari dapat membantu mengelola gejala yang menyertai depresi SAD.

Protein meningkatkan bahan kimia untuk mengelola perasaan baik di tubuh. Yakni serotonin dan dopamin. Jadi mengonsumsi protein secara konsisten setiap hari itu penting.

“Makan protein yang cukup juga membantu menjaga tingkat energi tetap seimbang, mencegah penurunan gula darah yang memicu perubahan suasana hati,” Kata Amy.

Pakar nutrisi merekomendasikan sekitar 20 gram protein per porsi, jika memungkinkan. Beberapa ide untuk mendapatkan asupan protein pada makanan yang paling mudah adalah dengan mengonsumsi telur dan kacang-kacangan.

Batasi asupan gula, terutama untuk makanan olahan

Gula sederhana yang sering ditemukan dalam makanan olahan dan makanan ringan dapat menyebabkan peningkatan gula darah. Gula menyebabkan perasaan membaik namun hanya sesaat. Justru konsumsi gula yang berlebihan dapat menurunkan energi.

Penelitian telah menemukan bahwa konsumsi gula tambahan makanan olahan mungkin memiliki efek negatif pada kesehatan mental secara keseluruhan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Scientific Reports menemukan hubungan antara asupan gula dan peningkatan gejala depresi. Studi lain dari The British Journal of Psychiatry menemukan bahwa responden yang secara teratur mengonsumsi gula dan makanan olahan dalam jumlah lebih tinggi lebih mungkin mengalami gejala depresi.

Sementara studi ini tidak terkait secara khusus dengan gejala SAD, temuan ini menunjukkan bahwa membatasi makanan olahan dan gula mungkin dapat membantu mengelola gejala keseluruhan yang terkait dengan depresi, secara umum.

Makanlah dalam porsi kecil dengan frekuensi yang lebih sering

Gejala umum SAD adalah lesu dan kekurangan energi sepanjang hari. Untuk mengatasi hal ini, Emy menyarankan untuk makan lebih sedikit, lebih sering, serta makanan tinggi serat dan kaya protein sepanjang hari.

Meskipun seseorang tidak dapat sepenuhnya menghindari depresi, mengikuti kebiasaan makan yang sudah direkomendasikan, banyak bergerak, dan menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai dapat membantu meringankan beberapa gejala yang terkait SAD. (kai/nap)

Apa Reaksi Anda?

Komentar