Iklan Banner Sukun
Ragam

Berdampak Pada Karir Seseorang! Mengenal Cancel Culture yang Marak di Dunia Hiburan Korea Selatan

Ilustrasi budaya cancel culture yang ada di Korea Selatan. (Sumber foto: Markus Winkler, unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Cancel Culture jadi istilah yang ramai digunakan belakangan ini. Terutama bagi Anda penggemar dunia hiburan Korea Selatan, pasti tidak asing lagi dengan cancel culture. Bahkan kondisi ini ternyata sudah dialami beberapa artis papan atas Korea Selatan.

Istilah ini sebenarnya ditujukan pada tokoh publik yang berperilaku kurang pantas. Mereka pun akan memperoleh sanksi sosial berupa penyerangan pada akun pribadi oleh warganet.

Cancel Culture sebenarnya berasal dari kata ‘cancel’ atau yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘membatalkan.’ Istilah ini merujuk pada penolakan yang dilakukan oleh khalayak ramai kepada seseorang, instansi, atau siapapun, yang berujung pada pemboikotan.

Adapun Cancel Culture ini punya berbagai dampak namun paling jelas terlihat di media sosial yaitu dalam bentuk penurunan jumlah followers.

Jika terjadi secara terus menerus, tentu dampak yang dirasakan adalah terkucilnya seseorang atau instansi, dan yang lebih besar sehingga menyebabkan rusaknya karir seseorang atau hancurnya reputasi sebuah instansi.

Cancel Culture sendiri sebenarnya sudah lama muncul, namun istilah ini baru digunakan secara terbuka oleh publik semenjak tahun 2017, yang bersamaan dengan gerakan #MeToo. Saat ini aktor prod Hollywood ternama, Harvey Weinstein, terbukti melakukan pelecehan seksual.

Sejak saat itulah istilah ini semakin sering digunakan oleh masyarakat hingga sekarang. Lalu apakah perilaku ini termasuk toxic? Sebenarnya, toxic atau tidaknya cancel culture ini tergantung dari cara pandang dalam menyikapi.

Ada beberapa orang yang menganggap jika cancel culture merupakan sesuatu yang salah karena bisa membunuh seseorang secara perlahan. Banyak orang yang telah menyalahgunakan cancel culture sebagai sarana membully orang lain.

Namun, ada pula yang menganggap bahwa budaya ini adalah salah satu bagian dari public shaming. Perilaku public shaming ini untuk mempermalukan orang lain di muka umum karena kesalahannya sendiri.

Di samping itu, ada pula yang beranggapan bahwa cancel culture diperlukan untuk memberi efek jera dan mampu menjadi sarana demokrasi secara virtual.

Lantas, budaya ini mendorong seseorang untuk menyuarakan pendapatnya dengan berani dan menentang sesuatu yang salah. (dan/ian)


Apa Reaksi Anda?

Komentar