Ragam

Belajar Filsafat Hidup Orang Jawa dari Ki Ageng Suryomentaram

(Foto: Agto Nugroho, unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Pernahkah kalian mendengar nama Ki Ageng Suryomentaram? Ia sering disebut sebagai guru spiritual proklamator Indonesia, Ir Soekarno. Ia juga menjadi rujukan mengenai nilai-nilai filsafat jawa.

Ki Ageng Suryomentaram adalah seorang ahli filsafat (filsuf) dari Indonesia yang dalam jejak hidupnya telah mewariskan berbagai pemikiran mengenai pengelolaan jiwa melalui karya tulis. Melalui pemikiran Suryomentaram banyak yang belajar tentang konsep kebahagiaan melalui praktik hidup sederhana.

Ki Ageng Suryomentaram memiliki nama asli Bendoro Raden Mas Kudiarmadji. Lahir pada 20 Mei 1892, Ia mendapat julukan istimewa sebagai Plato dari Jawa. Ki Ageng dikenal atas ajarannya mengenai Kawruh Jiwa atau nilai keutamaan manusia.

Ki Ageng menjadi inisiator dari lahirnya berbagai ajaran di bidang filsafat utamanya ilmu jiwa. Ia mewariskan banyak karya pada generasi selanjutnya. Diantaranya yang terkenal berjudul Kawruh Jiwa: Wedjanganipun Ki Ageng Suryomentaram no.1-4, Pangawikan Pribadi, Kawruh Pamomong, Piageming Gesang, Ilmu Jiwa, Aku Iki Wong Apa?, Ilmu Jiwa Kramadangsa serta Jimat Perang dan Rasa Manusia.

Ajaran Ki Ageng Suryomentaram berfokus pada proses pengenalan diri sebagai nilai keutamaan yang harus dikejar oleh manusia. Pengenalan diri ini bertujuan agar manusia bisa memperoleh kebahagiaan melalui praktik hidup sederhana dengan pendekatan esensialis.

Sebelum mengajarkan Kawruh Jiwa, Ki Ageng melakukan perjalan spiritual dengan membuang status bangsawannya dan hidup sebagai petani sembari menjadi buruh bangunan. Selanjutnya dalam praktik yang lebih indah lagi, Ki Ageng melakukan tapa, puasa, dan refleksi yang kemudian dituangkan dalam karya tulis dan ceramah.

Melalui ajaran Suryomentaram kita mewarisi pemahaman mengenai kebahagiaan dan tugas-tugas utama manusia di dunia. Sebagai generasi penerus yang sudah berlalu sangat lama, ajaran Ki Ageng sangat relevan kita praktekkan saat ini.

Melalui ajaran Ki Ageng, kita belajar bahwa kebahagiaan itu tidak harus berurusan dengan duniawi. Kebahagiaan akan terbentuk dari ketenangan jiwa, keluhuran batin, dan kesadaran diri sebagai manusia. Sadar sebagai manusia, berarti kita paham tugas kita di dunia adalah untuk menjaga alam, merawat sekitar, dan senantiasa ingat pencipta. (dan/tur)


Apa Reaksi Anda?

Komentar