Iklan Banner Sukun
Ragam

5 Fakta Mengenai Sesar Lembang, Ancaman Gempa di Bandung Raya

Ilustrasi bangunan rusak. (Sumber: unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) – Dampak dari gempa Cianjur sempat menghebohkan masyarakat di Bandung Raya bahkan Jakarta pada Senin (21/11). Dalam catatan BMKG, hal tersebut disebabkan oleh aktivitas Sesar Cimandiri.

Bandung Raya mendapatkan dampak dari goyangan gempa Cianjur. Sebagian masyarakat di Bandung Raya mengaitkan bahwa hal tersebut merembet ke Sesar Lembang. Lantas, benarkah hal tersebut?

Diketahui, Sesar Lembang memiliki panjang bentangan hingga 29 kilometer mulai dari Padalarang Kabupaten Bandung Barat hingga Palintang Ujung Berung.


Untuk memahami lebih lanjut, berikut 5 fakta tentang Sesar Lembang dengan ancaman gempa di Bandung Raya:

1. Gerakan Lempeng bergerak 3 mm per tahun

Berdasarkan hasil penelitian sejumlah ilmuwan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dapat dipahami terhadap patahan bergerak sebanyak 3 mm hingga 5 mm setiap tahunnya. Angka ini termasuk ke dalam kategori pergerakan kecil. Sesar Lembang bergerak dengan pola geser ke kiri, bagian sesar berbelok di sejumlah titik, pola gerak menjadi naik.

2. Panjangnya Gerakan Lempeng 29 km

Sesar Lembang merupakan patahan geser aktif yang membentang sepanjang 29 kilometer dari titik nol di ujung barat Kota Bandung (area Cimahi dan Kecamatan Ngamprah) hingga ke sisi timur Bandung (Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung dan sebagian area Jatinangor, Kabupaten Sumedang).

3. Terjadi Gempa Terakhir 500 tahun lalu

Peneliti gempa dari LIPI, Mudrik Rahmawan Daryono, menjelaskan mengenai ada dua sejarah kejadian gempa besar di Sesar Lembang. Kedua gempa itu terjadi pada abad ke-60 SM dan abad ke-15.

Walaupun begitu, penelitian ini belum dapat diketahui interval terjadinya gempa Sesar Lembang. Maka dari itu, memang perlu penelitian mendalam dan menyeluruh untuk mengetahui “ulang tahun gempa” Sesar Lembang.

Kesimpulan saat ini adalah Sesar Lembang telah memasuki akhir siklus gempa dan mulai mengeluarkan energi yang tersisa.

4. Terdapat Ancaman amplifikasi

Peneliti Puslit Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari memberikan penjelasan tentang sifat permukaan tanah di Bandung berbeda dengan Palu dan sekitarnya sehingga tidak ada potensi likuifaksi.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Cekungan Bandung didominasi tanah lempung, sehingga tidak ada potensi likuifaksi. Hanya saja masalahnya, tanah lempung dapat memperkuat guncangan gempa ke permukaan.

5. Potensi gempa mencapai hingga 7 SR

Berkaca dari magnitudo gempa sebelumnya, potensi gempa Sesar Lembang bisa mencapai 6,5-7 Skala Richter.

Hanya saja, gempa di kawasan sebelumnya berkekuatan lebih dari 6 SR. Penguatan guncangan alias amplifikasi menyebabkan getaran seismik terasa lebih kuat di permukaan tanah sehingga berpotensi memperparah kerusakan akibat guncangan gempa. (prd/nap)


Apa Reaksi Anda?

Komentar