Usaha Anti-Inflasi di Kota Malang

Target Angka Inflasi Kota Malang “terpleset” pada tahun 2019. Pada 13 Januari 2020, report pernyataan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KKPwBI) Malang, Azka Subakhan seperti diberitakan beritajatim.com menyatakan inflasi malang sebesar 2,93 persen pada tahun 2019.

Seharusnya angka tidak sebesar itu, dalam penuturannya target inflasi cukup sebesar 2,5 persen di Kota Malang. Walaupun terpeleset dari target diharapkan, Subakhan menganggap angka inflasi itu cenderung rendah.

Secara sosiologis, ada dugaan permintaan masyarakat terhadap barang pasar tinggi dibanding penyediaan pasar. Akan tetapi, upaya pasar memenuhi permintaan masyarakat cenderung masih cukup lemah.

Pemerintah Daerah Kota Malang perlu menggenjot berbagai program bagi masyarakat dan pasar, seperti ekonomi kreatif, seminar startup, akses perdagangan, aksesibilitas masyarakat terhadap lapangan pekerjaan, terutama penyediaan barang dan layanan jasa wisata serta hal lain dalam upaya penurunan angka inflasi.

Dilain sisi, pasar menyediaakan barang/jasa dari permintaan berbagai jenis pendatang – dari pelajar, mahasiswa, fresh graduate, wisatawan domestik dan mancanegara serta lain sebagainya— menambah jumlah permintaan fluktuatif di Kota Malang.

Dalam hal ini, pemerintah Kota Malang perlu responsif dan adaptatif terkait tentang perubahan pasar. Sehingga integrasi keduanya mampu mengubah keterplesetan angka menjadi terminimalisir.

Sementara itu, Pemerintah Kota Malang memerlukan program/kegiatan secara berkelanjutan.

Ditambah, dengan gencar Pemerintah Pusat mendorong daerah-daerah yang berpotensi untuk dapat kreatif dalam penciptaan program/kegiatan yang menggapai 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals).

Hal ini sebagai upaya pemerintah pusat mengentaskan kemiskinan, ketimpangan, kekurangan pangan, minimnya layanan pemerintahan kurang adil, dan lain sebagainya di regional maupun nasional.

Dengan begitu, pemerintah Kota Malang memerlukan sejumlah strategi. Salah satu sarana dan atau upaya pembangunan mengurangi inflasi adalah dengan pemahaman struktural-fungsional.

Dari pembelajaran skema AGIL bersama tokoh sosiologi modern yakni, Talcot Parsons dalam buku Ritzer & Goodman pada tahun 2014— adalah skema Adaptatif, Goals, Integrasi, dan Latensi— mengubah dan mempertahankan pembangunan suatu struktur masyarakat, dalam hal ini pemerintah Kota Malang menggunakan agil dengan skema di atas, misalnya:

1) Adaptasi, beradaptasi dengan permintaan pasar melalui program/kegiatan survey; 2) Integrasi, universitas dan lembaga penelitian Kota Malang terintegrasi dalam survey tersebut; 3) Goals, secara berkelanjutan pemerintah bersama pihak terkait membuat target-target semacam outcomes/Goals (tujuan); dan 4) Latensi, menciptakan kampanye dan promosi nilai-nilai luhur agar masyarakat menerima dan menciptakan kesadaran bersamadalam tercapainya tujuan tersebut.

Ali Hidayat Fatmayanto; 23 tahun
Mahasiswa S1 Sosiologi UGM





Apa Reaksi Anda?

Komentar