Tokoh Hebat Indonesia yang Lahir Bulan September

Ilustrasi: Tokoh, (Foto-freepik.com)

Jakarta (beritajatim.com) – Bulan September menjadi bulan istimewa bagi sebagian orang, termasuk para tokoh Indonesia yang lahir pada bulan tersebut.

Menurut beberapa sumber, orang yang lahir di bulan September sangat toleran dan pengertian. Mereka dikenal sebagai individu yang tidak menghakimi dan menghormati pandangan dan kepercayaan orang lain. Mereka berpikir terbuka dan selalu memberikan pendapat yang masuk akal dalam segala hal.

Berikut 5 tokoh Indonesia yang lahir pada bulan September:

Susilo Bambang Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono merupakan Presiden keenam Republik Indonesia yang lahir pada 9 September 1949. Artinya, pada tahun ini, SBY merayakan hari lahir  ke-72.

Lulusan terbaik AKABRI tahun 1973 ini menjadi presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Pada waktu itu, SBY terpilih melalui proses Pemilu Presiden putaran II pada 20 September 2004.

Susilo Bambang Yudhoyono atau yang akrab disapa SBY pun terpilih menjadi Presiden bersama pasangannya Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden RI.

Dino Patti Djalal

Dr. Dino Patti Djalal, M.A. merupakan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia yang menjabat dari 14 Juli 2014 hingga 20 Oktober 2014.

Dino Patti Djalal lahir 55 tahun silam di Beograd, Yugoslavia pada tanggal 10 September 1965. Profil Dino Patti Djalal lahir dari keluarga yang berasal dari Ampek Angkek, Agam, Sumatera Barat. Dino lahir dari ayah yang bernama Hasyim Djalal dan ibunya yang bernama Jurni.

Dino Patti Djalal menginjakkan kakinya di dunia politik untuk pertama kalinya pada tahun 1987 dengan bergabung dalam Departemen Luar Negeri Republik Indonesia. Dino pernah ditugaskan ke Dili, London dan Washington DC sebelum ditunjuk menjadi Direktur Hubungan Politik Amerika Utara pada tahun 2002.

Dino Patti Djalal menggantikan Wardana sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki. Ia juga pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat

Chaerul Saleh

Chaerul Saleh dengan gelar Datuk Paduko Rajo lahir pada 13 September 1916 adalah seorang pejuang dan tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri, menteri, dan ketua MPRS antara tahun 1957 sampai 1966.

Ia juga menelurkan ide negara kepulauan dengan batas teritorial 12 mil laut yang di­sahkan pada 13 Desember 1957. Atas jasa-jasanya Chaerul dianugerahi pangkat Jenderal TNI Kehormatan.

Gita Wirjawan

Pria kelahiran Jakarta, 21 September 1965 ini biasa dipanggil Gita adalah anak dari pasangan Wirjawan Djojosoegito dan Paula Warokka Wirjawan.

Ia didapuk sebagai kepala BKPM atau Badan Koordinasi Penanaman Modal. Kemudian pada tahun 2011, ia diangkat sebagai Menteri Perdagangan di Kabinet Indonesia Bersatu II. Pada masa akhir jabatannya, dia mengundurkan diri pada 31 Januari 2014 karena ingin berkonsentrasi pada pencalonannya sebagai calon presiden 2014 yang digelar Partai Demokrat.

Puan Maharani

Terakhir Puan Maharani adalah ketua fraksi PDI Perjuangan di DPR RI periode 2009-2014. Terlahir dalam keluarga politisi membuat ia sejak kecil sudah terbiasa dengan hingar bingar panggung politik. Kakeknya, Soekarno, proklamator Republik Indonesia, serta ibunya Megawati Soekarnoputri, Presiden RI kelima sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan..

Dalam kampanye di Jawa Timur, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri secara resmi memperkenalkan putri tunggalnya, Puan Maharani, sebagai penerusnya kepada publik.

Seiring dengan perjalanan waktu, Puan semakin terlibat dalam proses politik. Pada masa pemilihan presiden tahun 2009, Puan terlibat aktif di Mega Center, lembaga yang menangani pemenangan Megawati jadi presiden, walaupun menurutnya posisinya itu hanya sebagai observer.

Wanita kelahiran Jakarta, 6 September 1973 ini merupakan anak ketiga Megawati Soekarnoputri, atau anak pertama Megawati dari suaminya Taufiq Kiemas. Terlahir dalam keluarga politisi membuat Puan sejak kecil sudah terbiasa dengan hingar bingar panggung politik.

Semasa mahasiswa, Puan sempat merasakan dunia jurnalistik dengan magang di Majalah Forum Keadilan. Selain itu, dia juga pernah mengurusi bisnis Stasiun Pengisian Bahan Umum (SPBU), salah satunya, dikutip dari Gamma (2001), SPBU di Pluit Jakarta Utara.

Puan akhirnya terjun ke dunia politik praktis. Bermula dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNIP), ia lantas bergabung dengan PDIP, partai yang sejak lahir sudah dipimpin ibunya sampai sekarang.

Puan menempati posisi sebagai Ketua DPP PDIP Bidang Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat sejak 2005. Di Pemilu 2009, Puan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah V yang meliputi Surakarta, Sukoharjo, Klaten, dan Boyolali. Dalam beberapa kesempatan saat berkampanye, Megawati menyatakan bahwa Puan adalah penerusnya.

Di parlemen, Puan yang tergabung di Komisi IV DPR (membidangi pertanian, pangan, maritim, dan kehutanan) dipercaya menjadi Ketua Fraksi PDIP sejak 23 Januari 2012. Karier Puan di DPR berlanjut pada periode berikutnya. Di Pemilu 2014, ia kembali maju di dapil yang sama dan meraih 369.927 suara. Puan pun kembali duduk sebagai wakil rakyat, kali ini di Komisi VI DPR yang membidangi industri, investasi, dan persaingan usaha.

Puan ditunjuk oleh presiden pemenang Pilpres 2014, Joko Widodo (Jokowi), untuk masuk ke kabinet. Puan didaulat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Kabinet Kerja. Puan disebut-sebut sebagai salah satu menteri kesayangan presiden, barangkali karena statusnya sebagai putri dari Ketua Umum PDIP, partai yang melejitkan pamor Jokowi di kancah politik nasional. Kini, Puan Maharani resmi menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI periode 2019-2024. (ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar