The Power Of Gabut

Seperti milyaran manusia di muka bumi, banyak orang terpukul dan nyaris kehilangan diri akibat pandemi. Bisnis tiarap. Pemasukan nol. Hobby  jalan-jalan terhenti.  Silaturahmi terhalangi.

Banyak orang  terpaksa diam, menyepi, bercakap dengan diri dan mendekatkan jiwa padaNya. Tapi apakah itu mampu membangkitkan semangat  bertahan hidup?  Terlalu lama di rumah saja dan gabut, alias tidak melakukan apa-apa ternyata potensial menciptakan stress.

Harus melakukan sesuatu agar setiap membuka mata, kita merasa positif, ada yang akan dilakukan, ada yang ditunggu dan menunggu.

Wina Bojonegoro dengan bendera Padmedia publisher kemudian menelorkan ide. Dua hal:  kelas menulis cerpen via whattsapp dan parade baca cerpen 100 hari via instagram.

Semuanya berbasis sosial media yang  tidak berbiaya.  Apa yang bisa dilakukan agar orang-orang yang  terpaksa diam di rumah itu betah? Dua hal di atas adalah salah dua alternatif sesuai bidang yang digeluti Wina Bojonegoro.

Kemudian selama 10 minggu kelas digelar, menghadirkan beberapa narasumber yang juga rela tidak dibayar antara lain: Damhuri Muhammad, Yusri Fajar, Mashdar Zainal, ken Hanggara, Endri Kurniawati dan Wina Bojonegoro. Nama-nama tersebut adalah para sastrawan nasional kecuali Endri yang merupakan jurnalis. Tugasnya mengajar riset sebagai sebuah kekuatan cerita.

Proses kelas yang selalu mengerjakan tugas menulis dan membaca, kemudian mengikuti kelas pengajaran seminggu sekali, membuat para peserta sibuk. Tentu saja sibuk memikirkan menulis apa, bagaimana memilih diksi dan frasa, mencari judul yang tidak biasa, membuat pembukaan yang memikat pembaca, mencari penutup yang  tidak terlupakan dan sebagainya. Itu semua masih harus ditambah dengan pendalaman materi berupa revisi naskah. Setelah naskah-naskah itu dirasa cukup, naskah akan ditelaah alias dibantai beramai-ramai di wa group. Selain belajar menulis peserta juga dilatih memiliki daya kritis terhadap suatu karya. Mampu menulis, mampu membaca adalah target yang dijadikan standart  Wina Bojonegoro dalam mengemban kelas menulis daring angkatan pertama ini.

Damhuri Muhammad sebagai salah satu nara sumber sempat merasa kaget dengan hasil karya kelas menulis angkatan pertama ini. Beberapa karya di dalam buku ini di atas rata-rata kualitasnya. Bahkan layak masuk ke media besar. Wina Bojonegoro sebagai kepala sekolah pun merasa takjub, tidak menyangka hasil kelas ini demikian luar biasa, out of the box ide-ide penulisnya. Ternyata The Power of gabut itu benar-benar dahsyat hasilnya.

Para peserta yang terdiri dari peminat belajar dari berbagai propinsi, kemudian mendapat  sertifikat kelas, dan mendapat kesempatan karyanya dibukukan. Banyak yang merasa bahagia akhirnya mampu menulis fiksi meski berdarah-darah pada awalnya.

Dari total 28 peserta akhirnya terjaring 16 naskah ditambah 1 naskah ibu kepala sekolah, yaitu Wina Bojonegoro. Kreatifitas 16 perempuan dan satu lelaki ini ternyata tak berhenti sampai di sini. Kepanitiaan peluncuran buku yang diketuai Fifin Maidarina, mengelola sendiri seluruh rangkaian kegiatan peluncuran secara daring, dengan dibantu rekan-rekan Tribune Jatim dan Harian Surya untuk eksekusinya.

 





Apa Reaksi Anda?

Komentar