Surat dari Penjara

Siti Fadilah Supari: Predator Kekuasaan Global Bergentayangan Mencari Negara yang Bangkrut

Dr Siti Fadilah Supari

Jakarta – Menteri Kesehatan RI, 2004-2009, Dr. Siti Fadilah Supari kembali menulis surat dari penjara Pondok Bambu Jakarta, kepada dokter Indi. Surat yang dikirim ke media tersebut bercerita tentang pandemik corona.

Pandemik Corona yang mendunia adalah hilangnya peradaban karena kelaparan, karena kehilangan pekerjaan, karena kehilangan apapun yang tadinya dimiliki.

“Predator kekuasan global bergentayangan mencari negara yang kesulitan, yang bangkrut, yang kebingungan.  Disinilah kita bisa kehilangan negara kita. Ini dampak pandemi yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup kita berbangsa dan bernegara,” tegasnya dalam surat bertulis tangan itu.

Maka menurut Siti Fadilah, untuk menghadapinya  tidak boleh naif dan jangan nurut saja dengan WHO atau dengan siapapun elite global.

“Kalau merugikan bangsa dan negara  kita, harus kita lawan,” tegasnya.

Dibawah ini surat mantan Menteri Kesehatan yang pernah membatalkan Pandemi Global wabah Flu Burung pada tahun 2008 dan menutup labotorium marinir Amerika Serikat, Namru-2 pada tahun 2009 :

Cerita dari penjara

Dear Dokter Indi,

Ass ww

Sudah lama saya tidak berkirim surat kepadamu, bukan karena saya lupa, juga bukan karena saya tidak rindu padamu. Dan  juga bukan karena saya kehilangan kata kata untuk bercerita.

Saya masih seperti dulu, kerinduan adalah nafasku, kesendirian adalah degup jantung ku. Kata-kata untuk bercerita adalah aliran darah ku.

Saya tidak pernah ingin apa-apa untuk diriku sendiri, bahkan untuk bebas sekarang. Apa yang harus saya jalani,–saya jalani dengan kemantapan hati.

Indi, 

Kalau saya rajawali,– adalah rajawali yang mampu terbang sendiri.

Yang selalu ada di dalam hatiku adalah lilin yang nyalanya tertiup angin, kadang redup, kadang menyala terang. Nyala lilin itulah harapanku yang tidak pernah padam, yang selalu kumintakan kepada yang Maha Kuasa agar harapanku sesuai dengan kehendak-Nya.

Indi,

Saya sudah 3,5 tahun di dalam penjara, semuanya sudah menjadi biasa tidak ada dendam tidak ada penyesalan.

Semangatku masih seperti dulu,–cinta bangsa dan negara tidak pernah surut. 

Oh iya, ada yang berubah,–yaitu saya telah bertambah tua, rambut semakin memutih dan saya sudah berhijab.  Dulu saya tidakberhijab karena belum sadar dan sekarang sadar karena  lebih dekat dengan Allah SWT, Dialah yang tahu apa yang saya rasakan. Dialah pembimbingku ketika saya bimbang. Indi, dia jaga nyala lilin yang ada dihatiku agar tidak redup tertiup angin. Dia adalah harapan.

Indi,

Saya bangga saya di penjara  karena suatu prinsip yang harus saya tegakkan untuk kemaslahatan  rakyat yang tertindas. Mereka tertindas bukan oleh sesorang,– misal pemimpin negeri ini,–  Bukan! Tapi mereka tertindas oleh sistem  yang berassl dari penjajah baru yang sedikt demi sedikit  terbentuk  lah sistem baru sehingga  membuat rakyat menderita  seperti sekarang ini. Siapapun presidennya kalau tidak berani merubah sistem tsb tidak akan mungkin kita berdaulat!

Ya! Seperti sekarang ini kita  dalam berbangsa dan bernegara,–.apakah bener kita berdaulat dalam melindungi bangsa dan negara sesuai Preambule UUD 45?

Indi,

Saat ini kita dicekam ketakutan,– harus takut, harus tunduk, harus tidak bersama, tidak boleh kumpul,–karena ada Corona yang melanda dunia. Yang sangat aneh, cara berpikir ilmiahpun hilang. Semua berdasar opini,  asumsi dan katanya.

Aduh saya kesel saya ada di sini dikungkung tembok penjara yang dingin.

Saya tahu apa yang terjadi diluar sana. Penjahat-penjajat tu berulah lagi. Kali ini China yang dikerjain dan juga Amerika.

Ketika bulan Agustus 2019 ada jutaan babi yang mati di negeri China saya mengira akan terjadi suatu pandemik. Dan benar pada pertengahan Desember 2019 ada pasien yang diduga terjangkit virus dari kelelawar.

Hal ini berlnjut dengan korban yang berjatuhan. WHO datang pada tanggal 30 Januari untuk.menetapkan menjadi PHÈIC (Public Health International Emergency) yang tujuannya tidak jelas.

Korban semakin banyak. Virus seperti apa? tidak ada yang menanyakan. Sesuaikah morphologi virus dengan karakternya yang demikian dahsyatnya? 

Kemudian WHO menetapkan pandemik dengan dasar yang tidak jelas.

Saya sedih di dalam kamar yang dikelilingi  tembok penjara ini.

Saya menangis dunia kehilangan momentum untuk menghindar dari bencana.  Ketika dunia tersihir dengan kehebatan response public health yang luarbiasa dari China  dan belum pernah ada di dunia. 

Sementara itu, WHO yang seharusnya sibuk memadamkan api pandemi, malah ikut nonton response public health yang terhebat di dunia yang ditunjukkan oleh Pemerintah Xi Jìnping  itu, bahkan memuji-muji kehebatan China . (Padahal tugas WHO bukan menilai atau memuji)

Saya tidak kaget walau kagum juga dengan kemampuan kedisiplinan China

Saya sedih, saya catat surat untuk Mr. Jìnping di catatan harian saya:

“Mr Jìnping yang terhormat. Ada axioma di dunia ini, bahwa dibalik pandemi selalu ada konspirasi.

Konspirasi itu ada di depan anda sekarang.

Mr Jinping,

Sebuah konspirasi tidak bisa anda jawab dengan public health response (public health hanya untuk menolong korban)

Anda harus menjawab konspirasi dengan politik, karena Konspirasi adalah politik. Kenapa anda diam saja?

Please jawablah. Anda lebih kuat dan anda mampu cuma mungkin  anda tidak tahu siapa musuh anda? Ah saya tahu pasti anda tahu.

Mr Jìnping,  gerbang  bencana dunia ada disini,  tutuplah agar bencana ini tidak mendunia”

Surat itu saya tutup dengan hati yang berdegup,– pasti bencana akan mendunia

Setelah catatan itu saya tutup, saya hanya bisa menonton bagaimana virus itu menyebar terus, menyebar ke seluruh dunia. Yang lebih menakutkan adalah teror nya ďimana mana .Termasuk di negara kita tercinta.

Indi, tentang pandemi.

Saya inget apa konsekwensinya yang paling parah adalah hilangnya peradaban karena kelaparan, karena kehilangan pekerjaan, karena kehilangan apapun yang tadinya kita miliki.

Predator kekuasan global  bergentayangan mencari negara yang kesulitan, yang bangkrut, yang kebingungan.  Disinilah kita bisa kehilangan negara kita. Ini dampak pandemi yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup kita berbangsa dan bernegara.

Maka untuk menghadapinya  tidak boleh naif dan jangan nurut saja dengan WHO atau dengan siapapun elite global. Kalau merugikan bangsa dan negara  kita, harus kita lawan.

Indi, ini tulisan ku seri 1 ya,. saya capek karena nulis tangan tanpa meja ha ha. Saya sambung dengan tulisan berseri nanti

Siti Fadilah Supari

 

Jakarta, 13 Mei 2020

Penjara Pondok Bambu

 

Apa Reaksi Anda?

Komentar