PSBB ‘Belum’ Efektif Dalam Masa Pandemi?

Pelaksanaan PSBB, Petugas melakukan penyekatan dan mendata kendaraan yang masuk wilayah Surabaya. [foto/dok]

Pada masa normal, biasanya apabila telah memasuki bulan Mei maka tidak lama lagi liburan sekolah akan menjelang. Tapi itu pada masa normal dan bukan pada dewasa ini.

Dulu kalau mengisi waktu liburan sekolah mungkin belasan atau puluhan episode drama seri dapat menjadi bahan tontonan dalam mengisi waktu liburan.Tak hanya menontonnya di rumah, kita dapat mengajak teman, sahabat hingga keluarga untuk menghabiskan waktu di bioskop untuk menikmati apiknya layar sinema.

Beberapa tahun yang lalu, layar sinema kembali berwarna dengan kembalinya film Ada Apa Dengan Cinta 2.Sudah tentu untuk anak-anak generasi awal 2000-an mengenal fillm ini.

Film yang menceritakan romantisme kisah Rangga dan Cinta. Sampai- sampai di dunia nyata, ada juga yang memanggil pasangannya dengan sebutan dua pelakon yang bersinar kala itu.

Balik lagi ke Film AADC 2.Dalam Film tersebut tentu yang tak bisa dilupakan salah satunya adalah soundtrack “Ratusan Purnama” yang dibawakan secara indah dan menawan oleh Melly Goeslaw dan Marthino Lio.

Sejalan dengan filmnya, Rangga memang harus melewati ratusan purnama untuk kembali berjumpa dengan pujaan hatinya itu.

Tapi pada masa pandemi ini, nampaknya kita harus belajar menanti seperti Rangga dalam AADC 2 itu. Namun belajar menanti seperti Rangga itu sulit ternyata bung.

Belum ratusan purnama saja untuk menjalani kehidupan yang bak LDR di masa pandemi ini sudah menggusarkan banyak orang tak peduli itu dari kaum elit atau mereka yang berada pada garis kemiskinan.

Mulanya PSBB ditujukan untuk menekan laju penyebaran infeksi Covid-19.Awalnya PSBB memang hanya diterapkan di wilayah Jabodetabek namun kemudian diikuti juga oleh beberapa kota besar di Indonesia seiring pertambahan jumlah positif Covid 19.

Namun semenjak PSBB dijalankan, ada-ada saja kejadian yang terjadi di negeri ini dari tingkah kreatif netizen hingga perilaku yang memiriskan hati seperti mencari popularitas melalui prank sembako sampah ala salah satu youtuber.

Memang sih terkadang impian sering tak sesuai dengan realitasnya. Mulai dari yang di dunia nyata hingga yang bertakhta di dunia maya turut sumbang menyumbang untuk mengkritisi PSBB ini.

Sebenarnya tidak salahnya untuk mengkritisi PSBB ini, toh kita kan hidup di negeri yang menjunjung nilai dan prinsip berdemokrasi.

Namun sikap Pemerintah terkadang juga membingungkan publik terlebih pada masa pandemi yang membuat banyak orang tak menentu. Kalau boleh dihitung ada tiga sikap Pemerintah yang mengundang kebingungan publik.

Pertama terkait permasalahan mudik dan pulang kampung. Tapi kali ini tampaknya kita perlu membahas mengenai arti dari kedua istilah itu. Dulu larangan mudik ini awalnya diberlakukan untuk aparatur sipil negara sebelum juga berlaku untuk masyarakat umum.

Alhasil ada masyarakat yang rindu akan kampung halaman itu menggunakan seribu satu cara untuk pulang ke kampung halaman. Ulik mengulik ternyata salah satu alasan masyarakat yang ngotot untuk pulang ke kampung halaman itu adalah karena tidak adanya pekerjaan dan kehabisan uang di perantauan.

Namun setelah banyak pemberitaan beredar baik di media elektronik hingga media sosial, kemudian tak lama Pemerintah kembali melonggarkan izin terhadap penggunaan transportasi umum dengan beberapa catatan.

Kejadian ini sama dengan kebijakan Pemerintah terkait himbauan bekerja di rumah untuk mereka yang bekerja di luar sektor yang mendapat pengecualian dari Pemerintah.

Namun ternyata himbauan itu kembali dilonggarkan lagi dengan mensyaratkan mereka yang berusia di bawah 45 tahun dan berada pada sektor yang dikecualikan Pemerintah dapat kembali bekerja.

Di satu sisi memang dapat mengurangi dampak tindakan “merumahkan”tenaga kerja tapi di sisi yang lain akan menimbulkan sebuah permasalahan baru.

Belum lama diperbincangkan oleh publik mengenai kejadian terinfeksinya pegawai di salah satu supermarket dan buruh sebuah pabrik rokok yang memunculkan transmisi lokal di wilayah itu.

Tak berhenti disitu saja,kala masyarakat dihimbau untuk di rumah dan Pemerintah mempersiapkan bantuan sembako dan tunai kepada masyarakat ternyata praktiknya di lapangan sarat dengan berbagai permasalahan bahkan banyak diantaranya mengabaikan protokol kesehatan di kala pembagian sembakonya.

Bahkan sekarang ketika di beberapa daerah mulai melakukan pelonggaraan PSBB, banyak masyarakat yang mulai mendatangi pasar hingga pusat perbelanjaan dan menimbulkan keramaian seperti pada masa normal.

Kejadian demi kejadian tersebut tak pelak menunjukkan bahwa belum maksimalnya pelaksanaan PSBB baik dari sisi Pemerintah hingga masyarakat sendiri.

Oleh karena itu sudah waktunya untuk berhenti saling menyalahkan karena toh ternyata semuanya menyumbang kesalahan meski tak sama bentuk kesalahannya.Ini waktunya kita bergandeng tangan bersama sebagai suatu kesatuan bangsa dan yakinlah kita mampu untuk melalui masa pandemi ini dalam kebersamaan meski tanpa keramaian.

*) Kristianus Jimy Pratama, S.H.
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya,
Peneliti Hukum Social Sciences and Humanities Research Association
Email: [email protected]

Apa Reaksi Anda?

Komentar