Program Manajemen Lingkungan untuk Penurunan Kasus DBD di Jatim

Foto: Ilustrasi Nyamuk Demam Berdarah

Saat ini Jawa Timur sedang fokus bersama menghadapi bersama tingginya kasus Covid- 19. Akan tetapi jangan sampai melupakan penyakit tular vektor DBD (Demam Berdarah Dengue) yang sama mematikannya dengan Covid-19.

Dapat diketahui bahwa DBD merupakan salah satu penyakit yang diakibatkan oleh virus dengue yang cara penularannya melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpictus.

Faktor penyebab terjadinya DBD adalah kondisi lingkungan dan kebiasaan manusia yang buruk setiap harinya yang mengakibatkan cepatnya perkembangbiakan tular vektor DBD yaitu di mana nyamuk sangat menyukai tempat yang gelap, kotor, lembab, basah dan dingin.

Menurut data Dinas Kesehatan Jawa Timur, menunjukkan bahwa adanya penurunan kasus
DBD pada awal tahun 2021. Hal ini dapat diketahui dari penurunan jumlah pasien DBD yang
pada awal tahun 2020 berjumlah 1.074 orang dengan jumlah kematian 13 orang.

Sedangkan pada awal tahun 2021 berjumlah 408 orang dengan jumlah kematian 4 orang. Dari angka tersebut dapat diartikan bahwa adanya penurunan pada kasus DBD di Jawa Timur.

Adanya penurunan bukan berarti kita tetap berdiam diri dan tidak waspada. Virus yang dapat merengut nyawa ini harus tetap dicegah.

Pihak yang terlibat dalam pencegahan ini adalah masyarakat, pemerintah, dan juga instansi kesehatan.

Adanya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan program manajemen lingkungan. Manajemen lingkungan dapat berupa pemantauan dan pengamatan kondisi lingkungan dan perilaku manusia.

Program tersebut merupakan yang paling efektif untuk upaya pencegahan tular vektor. Upaya pencegahan dengan program ini dapat berupa membuat lingkungan khususnya rumah memiliki pencahayaan yang terang, pencahayaan dapat berpengaruh pada nyamuk yang terbiasa mencari makan atau tempat istirahat.

Nyamuk menyukai tempat yang kurang cahaya atau gelap dan terlindung dari sinar matahari.

Kemudian perhatikan kelembaban, hal ini dikarenakan jika suatu rumah memiliki kelembaban yang tinggi memungkinkan untuk nyamuk dalam berkembangbiak, dikarenakan kondisi ruangan
yang lembab identik dengan ruangan yang kurang dengan pencahayaan. Sehingga saat musim
kemarau penyakit DBD sangat rendah dibandingkan pada saat musim hujan.

Umur dari suatu nyamuk akan pendek dan tidak mampu melakukan pertumbuhan parasite pada kelembaban udara dibawah 60 % (rendah).

Selain itu perilaku manusia juga berperan dalam penyakit tular vektor ini. Perilaku manusia untuk pencegahan dapat dilakukan dengan menguras bak dan tidak menampung air yang dapat menyebabkan munculnya jentik-jentik.

Perlu adanya penggunaan anti nyamuk yang mampu untuk memberikan kemungkinan terhindar dari gigitan nyamuk ini, penggunaan pada siang hari dapat mengurangi permasalahan DBD ini.

Setelah itu tidak menggantung pakaian, adanya penggantungan pakaian menjadikan sebagai tempat nyamuk untuk beristirahat, dengan baju yang terkena keringat dan kotor.

Nyamuk senang hidup ditempat yang kotor. Oleh karena itu perlu adanya pemfokusan pencegahan penyakit tular vektor dengan program manajemen lingkungan sebagai tahap awal pengendalian vektor DBD di Jawa Timur untuk menurunkan kasusnya yang terjadi setiap tahunnya.

Vinny Angelica Bintoro
Mahasiswa Fakultas Bioteknologi
Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta


Apa Reaksi Anda?

Komentar