Anak Penjual Ayam di Pasar

Profil Dr Surya Tjandra Wakil Menteri Agraria/BPN

Dr. Surya Tjandra, S.H., LL.M.

Pengantar Redaksi: Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Ma’ruf Amin memperkenalkan 12 figur yang ia angkat untuk mengisi jabatan wakil menteri (wamen) di sejumlah kementerian. Pengenalan para wakil menteri ini dilangsungkan di veranda Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (25/10/2019).  Salah satunya Dr Surya Tjandra, politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini diangkat  menjadi Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional. Berikut Profil Surya Tjandra.

===================

Pengetahuannya sangat mumpuni. Bergelar doktor ilmu hukum, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini meraih master di School of Law, University of Warwick, Inggris. Terakhir, ia lulus di sekolah hukum terbaik di dunia, Universitas Leiden, Belanda.

Bahkan pria bernama lengkap Dr Surya Tjandra SH, LL.M, menjadi orang Indonesia pertama yang memberikan kuliah terbuka di Van Vollenhoven Institute, Universitas Leiden, Belanda.

Dalam disertasi doktornya di Universitas Leiden ini, Surya Tjandra berbicara soal perburuhan di Indonesia dengan judul Labour Law and Development in Indonesia.

Kendati demikian, kaki Surya tetap menjejak bumi. Ia menyadari, berbagai pengetahuan yang diperolehnya, haruslah bermanfaat untuk kepentingan rakyat banyak. Karena itu, ia mengabdi di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang menyediakan bantuan hukum bagi rakyat miskin dan terpinggirkan.

Surya banyak membantu para buruh. Tak hanya di Indonesia, bahkan sampai ke tingkat internasional. Ia tercatat sebagai Wakil Presiden Internasional Centre for Trade Union Rights, Inggris, dan komisioner Internassional Commission for Labour Rights, sebuah organisasi buruh internasional di New York, Amerika Serikat.

Selain itu, ia tak pelit berbagi ilmu. Itu diwujudkannya dengan menjadi tenaga pengajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. “Ilmu pengetahuan ini mengamanatkan saya untuk tetap berpijak di bumi dan membaktikan diri untuk harkat kemuliaan kemanusiaan,” kata Surya.

Surya juga menjadi sosok penting pada saat pengesahan UU No. 24 tahun 2011 mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Dialah Koordinator Tim Pembela Rakyat untuk Jaminan Sosial dari Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) yang mengawal pengesahan UU tersebut.

Membela rakyat kecil ini pernah dilakukannya bersama Munir Said Thalib, pahlawan Hak Azasi Manusia dari Malang, Jawa Timur.

Sosok Ibu yang Menjadi Sumber Moral

SURYA gemar mengayuh sepeda keluar masuk kampung untuk melihat berbagai realitas dalam masyarakat. Kebiasaan Ini bukan kepalsuan, itu apa adanya Surya yang memang terbiasa begitu sedari kecil.

Lahir di Jatinegara, Jakarta, pada 28 Maret 1971, Surya tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Ia adalah anak keenam dari tujuh bersaudara dari pasangan Satya Wirawan dan Wiriana Tjandra.

Suami-istri ini menghidupi keluarga dengan menjadi pedagang ayam potong di Pasar Jatinegara. Mereka tinggal di rumah kontrakan dan berpindah-pindah dengan penghasilan pas-pasan.

Uniknya, dalam keluarga Surya, justru yang berperan sebagai kepala keluarga adalah ibunya, Wiriana Tjandra. Wiriana menjadi sumber moral dan penghasilan keluarga.

Dari sang ibulah, Surya belajar manajemen kehidupan dan seni memimpin. “Beliau perempuan istimewa yang akan selalu istimewa bagi saya,” kata Surya yang sangat memuliakan sosok perempuan. Tak lekang dari memori Surya tentang kerja keras ibunya mendidik anak agar disiplin dan tekun mengejar cita-cita.

Keterbatasan ekonomi, telah membuat dua kakak Surya terpaksa berhenti kuliah di tengah jalan. Namun, situasi itu tidak membuat Surya menyerah. Ia tetap semangat belajar, kendati di akhir semester sering tak menerima rapor sebab belum bayar uang sekolah.

“Waktu itu, saya mengandaikan bahwa saya memang benar naik kelas,” katanya.

Keterbatasan biaya justru menjadi cambuk untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi. Surya melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Selanjutnya, ia mendapat bea siswa ke luar negeri, S2 di Universitas Warwick, Inggris dan S3 di Universitas Leiden, Belanda.

Latar belakang kesulitan ekonomi itu juga yang membuat Surya sangat peka pada isu kemiskinan dan ketidakadilan. Sehingga ia mengabdi di LBH Jakarta dan aktif membela buruh industri. Sebagai orang hukum, ia mengidolakan Adnan Buyung Nasution dan Yap Thiam Hien, duo pendekar hukum di negeri ini.

Surya Mampu Menangkan Rakyat dalam BPJS

UNTUK mengurai keterlibatan Surya pada kepentingan publik, rasanya tak cukup dengan hanya menuliskan dalam tulisan  ini.
Kita pilih saja salah satunya adalah keterlibatannya dalam Komite Aksi Jaminan Sosial. Sebuah aliansi besar gerakan sosial yang terdiri dari serikat buruh, tani, nelayan, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain.

Surya menjadi Koordinator “Tim Pembela Rakyat untuk Jaminan Sosial” yang menjadi kuasa hukum dari ratusan penggugat dari berbagai kalangan masyarakat, dan bertanggungjawab dalam merancang gugatan hingga mengikuti persidangan di pengadilan.

Ia menggugat pemerintah ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena lalai melaksanakan perintah UU No 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN).

Hasilnya, masyarakat memenangkan perkara. Pemerintah dinyatakan bersalah karena tidak melaksanakan perintah undang-undang, dan meminta pemerintah segera melaksanakan kewajibannya menyelesaikan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Kemudian DPR mengesahkan RUU itu menjadi UU No. 24/2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS). Hasil langsung dari perjuangan Surya, sekarang seluruh Warga Negara Indonesia memiliki jaminan kesehatan menyeluruh yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Munir dan Dukungan Tokoh Pembela Rakyat Kecil

SOSOK yang dikaguminya bernama Munir Said Thalib, pahlawan Hak Azasi Manusia dari Malang, Jawa Timur. Pertemuan terakhir Surya dengan Munir terjadi di Kedutaan Belanda di Jakarta, saat keduanya mengurus visa. Keduanya hendak melanjutkan studi di Negeri Kincir Angin itu.

Keberangkatan mereka hanya berselang dua hari. Surya berangkat lebih dahulu. Namun sayang, pada 7 September 2004 Munir tewas dibunuh dalam penerbangan menuju Belanda. Surya berusaha menjemput jenazah sahabat baiknya itu ke Bandara Schipol, Amsterdam, Belanda. Sayang pihak keamanan menghalanginya. Munir menjadi Korban dari sebuah sistem Politik yang belum berpihak.

Peristiwa kematian Munir, makin meneguhkan hatinya bahwa untuk memperjuangkan hak asasi manusia, tidaklah cukup bila hanya ada di luar sistem.

Tetapi juga harus masuk di dalam sistem Politik itu sendiri untuk memperbaikinya.
Ia akhirnya memilih masuk dunia Politik. Surya memilih gabung di PSI, meski banyak tawaran dari partai lain. Ia meyakini partai yang digawangi para anak muda itu, bisa motor perubahan di Indonesia

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia yang juga Badan Pengurus Perkumpulan KONTRAS, Usman Hamid, mengatakan ia dan Surya sama-sama mengenal Munir.

“Saya sangat mendukung keputusan politik Surya,” katanya.

Usman mengatakan Munir menginspirasi mereka. “Keberaniannya, kesederhanaannya, dan juga ketekunannya dalam membela mereka yang lemah. Mudah-mudahan itu cukup menjadi bekal Surya masuk dunia politik, dan lebih dari itu bisa membuat perubahan.”

Dukungan lainnya datang dari Luhut Pangaribuan, Ketua Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), Pengajar Pascasarjana & Program Sarjana FH UI.

“Dulu, secara bergurau, saya mengatakan Surya Tjandra akan menjadi Yap Thiam Hien kecil. Ternyata betul, dia diterima dan berkiprah sangat baik di LBH. Ia hampir menjadi komisioner KPK karena integritas dan kemampuannya,” kata Luhut Pangaribuan.

Dalam Pemilu Legislatif Juni 2019 lalu Dr Surya Tjandra maju ke senayan melalui Partai Solidaritas Indonesia dari Dapil  Jawa Timur V Malang Raya. Namun Surya Tjandra gagal melenggang karena kurang dalam perolehan suara. [ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar