Probiotik untuk Kebangkitan Unggas di Tengah Pandemi

Pedagang ayam di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Surabaya (beritajatim.com) – Adanya wabah pandemi COVID-19 menimbulkan dampak penurunan perekonomian dibanyak sektor industri, salah satunya adalah industri peternakan unggas.

Rendahnya permintaan pasar akibat daya beli masyarakat yang menurun akan produk protein hewani asal unggas antara lain daging dan telur, sangat dirasakan oleh para peternak secara langsung.

Harga jual produk unggas lebih rendah dibandingkan dengan biaya produksinya. Biaya produksi untuk penggunaan pakan ternak dapat mencapai 60%-70% dari biaya total produksi, sehingga diperlukan efisiensi untuk biaya pakan.

Namun usaha untuk efisiensi pakan tersebut dapat berdampak pada penurunan produksi telur maupun daging, sehingga diperlukan langkah strategis untuk menghadapi kondisi tersebut.

Selama ini untuk meningkatkan produksi, dapat digunakan Antibiotic Growth Promoters (AGPs), yaitu merupakan antibiotik yang ditambahkan pada ternak dalam dosis subteraputik, baik penambahan melalui pakan maupun melalui air minum.

Tujuan dari pemberian AGPs secara umum adalah untuk menekan bakteri patogen di dalam saluran pencernaan yang dapat menyebabkan ayam sakit.

Pemberian AGPs diharapkan dapat menekan angka mortalitas dan rasio konversi pakan (FCR) pada ternak.

Mekanisme kerja AGP dengan cara menekan jumlah populasi mikroba yang merugikan, membantu peningkatan penyerapan nutrisi, serta mengurangi kejadian infeksi subklinis pada usus.

Namun, penggunaan AGPs sejak beberapa tahun terakhir ini (berdasarkan Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan No. 18, 2009 juncto No41 / 2014, pasal 22 ayat 4c), penggunaan AGPs telah dibatasi penggunaannya di Indonesia karena terkait dengan isu global peternakan saat ini.

Adanya cemaran residu yang berbahaya bagi konsumen dan resistensi bakteri tertentu mengharuskan produk yang akan diekspor bebas dari residu bahan kimia tersebut.

Sebagai upaya untuk menghasilkan produk hasil peternakan yang asuh (aman, sehat, utuh dan halal), maka diperlukan alternatif penggunaan imbuhan pakan yang tidak menyebabkan residu dalam produk.

Salah satu hal yang dapat dipertimbangkan adalah penggunaan probiotik yang dapat digunakan sebagai sumber alternatif pengganti antibiotic growth promoters.

Penggunaan mikroba yang menguntungkan dalam upaya mengembangkan probiotik untuk unggas dapat digunakan untuk meningkatkan growth performans ayam.

Probiotik dapat digunakan sebagai bahan pakan imbuhan yang bertujuan untuk memperbaiki sistem pencernaan, mempercepat laju pertumbuhan, serta menghasilkan produk ternak yang lebih berkualitas.

Probiotik merupakan mikroba hidup non-patogen yang apabila diberikan dalam jumlah memadai dapat memberikan manfaat bagi kesehatan inangnya, karena dapat meningkatkan keseimbangan mikroflora usus.

Probiotik mampu memberikan efek positif terhadap kesehatanmanusia atau ternak, dengan cara memperbaiki sifat-sifat yang dimiliki oleh mikroba alami yangberada di dalam saluran pencernaan.

Jumlah populasi bakteri di dalam saluran pencernaan ayamdewasa dapat mencapai 1013 CFU/ml. Keberadaan mikrobiota tersebut berhubungan denganpotensi metabolik yang dapat mempengaruhi ketersediaan nutrisi serta kesehatan inangnya.

Bakteri asam laktat (BAL) termasuk dalam kelompok bakteri “baik” dan umumnyamemenuhi status GRAS (Generally Recognized As Safe), Gram positif berbentuk kokus ataubatang, tidak membentuk spora, pada umumnya non motil, katalase negatif dan oksidase positif.

Sifat-sifat khusus bakteri asam laktat adalah mampu menghasilkan asam laktat sebagai produkutama fermentasi karbohidrat.

Sebagian besar BAL dapat tumbuh sama baiknya di lingkunganyang memiliki maupun tidak memiliki O2, sehingga termasuk anaerob aerotoleran.Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan apakah BAL tersebut memiliki sifatsebagai probiotik, antara lain ketahanan terhadap keasaman dan garam empedu, memiliki kemampuan antagonistik terhadap bakteri pathogen serta mampu menghidrolisis senyawa nutrisikompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan menghasilkan asam laktat.

Produk tersebut dapat menghambat pertumbuhan mikroba lain terutama bakteri pathogen yang tidak diharapkan. Jika di dalam bahan terdapat bakteri asam laktat maka bakteri patogen seperti Salmonella sp. dan Staphylococcus aureus akan terhambat pertumbuhannya.

Spesies utama Lactobacillus yang terdapat pada ayam adalah L. acidophilus, L.salivarius, dan L. fermentum.

Jumlah bakteri golongan Lactobacilli pada sekum ayam sekitar 1×109 CFU/ml. Lactobacillus sp merupakan habitat alami usus halus yang memberikan pengaruhkeseimbangan pada ekosistem usus, dan memiliki kemampuan bertahan dari kondisi asamlambung dan garam empedu sehingga mampu hidup sampai usus besar.

Selain itu, bakteri tersebut meningkatkan aktivitas bakteri normal dalam saluran pencernaan, menyerap bahan-bahan berbahaya serta menghambat dan menekan pertumbuhan bakteri pathogen.Viabilitas dan syarat probiotik.

Jumlah mikroba hidup yang terdapat di dalam probiotik harus cukup untuk memberikan efek positif bagi kesehatan serta mampu berkolonisasi sehingga dapat mencapai jumlah yang diperlukan.

Viabilitas sel mikroba dalam produk probiotik harus mencapai 107-109 CFU/g,karena viabilitas probiotik akan mengalami penurunan selama masa penyimpanan dan saatberada di dalam sistem pencernaan.

Seleksi mikroba sangat diperlukan untuk mendapatkan bakteri asam laktat (BAL) sebagaistrain-strain probiotik yang unggul, sebab tidak semua BAL menunjukkan potensi sebagaiprobiotik. Syarat Probiotik antara lain:

1). Tidak bersifat pathogenik dan tidak menghasilkansenyawa toksik yang dapat merugikan hewan inang, 2). Mampu hidup dan bermetabolismedalam saluran usus serta mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan inangnya. 3). Mampubertahan hidup pada suhu rendah dan tahan terhadap asam lambung maupun konsentrasi asamorganik yang tinggi di saluran pencernaan. 4). Mampu melakukan perlekatan pada dindingsaluran pencernaan. 5). Mampu menghasilkan zat antimikroba, dan meningkatkan sistemimunitas tubuh. 6). Tahan terhadap proses produksi dalam pembuatan sediaan. 7). Memilikikestabilan secara genetik Kegagalan penggunaan probiotik.

Kegagalan penggunaan probiotik bisa terjadi karena berbagai hal, yaitu: Penggunaan aplikasi di lapangan tidak sesuai/tidak tepat; Penurunan viabilitas mikroorganisme probiotik disebabkan cara penyimpanan probiotik yang kurang tepat sehingga konsentrasi populasi bakteri dalam probiotik terlalu rendah; Jenis bakteri yang digunakan mungkin saja tidak sesuai dengankondisi hewan inang serta penggunaan dosis yang tidak memadai/tidak tepat.

Probiotik yang diberikan pada ternak dapat hanya terdiri dari satu macam jenis mikroba atau dalam bentuk kombinasi dari beberapa mikroba.

Pemberian probiotik pada ternak dapat diberikan melalui pakan atau air minum, apabiladiberikan dalam jumlah yang tepat dan jenis mikroba yang sesuai maka akan memberikanpengaruh positif bagi peningkatan performans produksi ternak karena meningkatkan kondisikesehatan usus sehingga dapat meningkatkan efisiensi pencernaan dan penyerapan nutrient.

Penggunaan probiotik memberikan hasil produksi telur (HDP) dan produksi daging ayam yanglebih baik, peningkatan kualitas produksi yaitu penurunan kandungan kolesterolpada produkdaging dan produk telur unggas, dibandingkan dengan tanpa penggunaan probiotik.

Sehingga penggunaan probiotik dapat membantu peternak untuk menurunkan biaya produksi pakanmelalui penurunan rasio konversi pakan dan peningkatan efisiensi pakan, tetapi hasil produksitetap optimal.

Widya Paramita Lokapirnasari
Dosen Departemen Peternakan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga
Email: [email protected]; [email protected],





Apa Reaksi Anda?

Komentar