Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini

Perkembangan teknologi yang semakin melesat di Indonesia tampaknya masih kurang diimbangi dengan peningkatan moral bagi para penduduknya.

Penyediaan teknologi tinggi yang seharusnya menjadi komponen dalam mensejahterakan warga Indonesia, nampaknya menjadi ladang baik oknum – oknum tidak bertanggung jawab untuk memperkaya diri dan golongannya, yang mengakibatkan kerugian keuangan negara.

Melansir data yang dilekuarkan oleh  The Word Economic Forum, Indonesia  berada pada posisi 80 negara terkorup di dunia tahun 2018.  Mengenaskan bukan? Apalagi melihat ciri khas negara Indonesia sebagai negara yang berbudaya dan berbudi luhur.

Melihat tingginya posisi Indonesia dalam daftar negara terkorup di dunia menunjukkan bahwa korupsi masih menjadi salah satu musuh terbesar pembangunan di Indonesia.

Berdasarkan data ICW tahun 2018, Indonesia harus mengalami kerugian negara hingga Rp 5,6 triliun. Jumlah yang fantastis mengingat masih banyak penduduk Indonesia yang menunggu bantuan negara untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Oknum penggerak korupsi di Indonesia jauh lebih menyedihkan, mereka adalah pemimpin – pemimpin dan wakil negara yang dipilih oleh masyarakat untuk mensejahterakan mereka, namun ternyata mencuri pundi – pundi uang dan dipergunakan untuk “mensejahterakan” diri mereka sendiri.

Tingginya angka korupsi ini menyebabkan banyaknya orang mempertanyakan dimana sikap jujur dan budi luhur para tersangka korupsi? Apakah mereka tidak mendapatkan pembelajaran anti korupsi?
Ataukah tidak dibekali dengan moral dan hati nurani yang bersih? pertanyaan yang terus muncul setiap tersangka korupsi tertangkap satu – persatu. Berbagai pencegahan dilakukan oleh negara untuk menyelamatkan penerus bangsa dari jiwa korupsi agar tidak tertanam dan menjadi hal biasa dalam kehidupan.

Kajian – kajian mengenai bahaya dari korupsi hingga pembuatan media interaktif yang menayangkan dampak dari tersangka korupsi juga ditempuh untuk kembali meluruskan moral agar tidak mengikuti jejak pemimpin – pemimpin di Indonesia ke balik jeruji besi karena tergoda dengan kekuasaan dan harta.

Pendidikan anti korupsi digencarkan kembali pada kurikulum pendidikan nasional, mulai dari tahap sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Jenis – jenis penyampaiannya beragam disesuaikan dengan tingkat pemahaman tiap jenjang sekolahnya, ada yang dalam bentuk media agar menarik, diskusi bagi mereka yang suka menyuarakan pendapatnya hingga debat untuk mnentukan langkah apa yang seharusnya dilakukan untuk menekan angka korupsi di Indonesia.

Pendidikan anti korupsi ini diharapkan memiliki output setiap warga negara sadar betapa bahayanya korupsi bagi kelangsungan perekonomian negara. Mulailah dengan menghargai setiap proses yang dialami, bukan hanya berdasarkan nilai saja. Karen apada kenyataannya pendidikan Indonesia masih berorientasi pada hasilm tidak pada proses.

Secara sosial, seluruh keluarga Indonesia diharapkan mampu memberikan edukasi yang tepat mengenai moral anti korupsi. Dimulai dari hal kecil, setiap orang tua mampu menumbuhkan rasa kejujuran dan menjaga tanggung jawab yang dilimpahkan kepada mereka.

Dengan penanaman etika dan moral yang baik sejak kecil, ketika dewasa mereka akan memandang suatu permasalahan sesuai dengan apa yang dipelajari saat kecil, menegani apa yang benar apa yang tidak. Kisah pendidikan anti korupsi yang dilakukan dirumah  diceritakan oleh Mutia Hatta, anak sulung Bung Hatta. Beliau mengisahkan kalau mobil RI-2 hanya dipakai oleh ayahnya, termasuk ibunya pun tidak diperbolehkan menaiki mobil RI-2, kecuali untuk acara kenegaraan.

 
Pola asuh antri korupsi ini akan lengkap jika diimbangi dengan pola hidup sederhana meskipun serba ada. Pola hidup sederhana ini akan menjadi “pagar pelindung” bila diserang dengan uang, karena orang yang sederhana akan bersyukur dengan apa yang dimiliki dan diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan tidak mengambil uang lebih yang bukan haknya.

 Generasi yang sangat dibutuhkan oleh Indonesia saat ini adalah mereka yang mampu mengatakan TIDAK pada korupsi. Peningkatan budaya anti korupsi menjadi PR besar yang akan terus dibawa oleh bangsa Indonesia dari tahun ke tahun bila tidak segera dituntaskan. Perbaikan kondisi pendidikan dan pola asuh anti korupsi orang tua di rumah dengan dukungan pemerintah harus terus dilakukan secara konsisten dan sinergis untuk menghasilkan output maksimal.

Mengacu pada tujuan pendidikan anti korupsi diatas, maka diharapkan pembelajaran yang diberikan dapat terus berkelanjutan. Generasi muda saat ini harus mampu merasakan bahwa mereka juga merupakan bagian dari Negara Indonesia yang bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi di dalamnya, termasuk pencurian uang negara oleh para koruptor.

Apabila para pendidik dan orang tua mampu membuat generasi saat ini sadar betapa krusialnya posisi mereka dalam pemberantasan korupsi, bahwa ini bukan hanya urusan politik semata tetapi menyangkut kesejahteraan masyarakat, maka semakin mereka mampu memaknai tugas pencegahan korupsi yang coba ditanamkan oleh negara.

Apa Reaksi Anda?

Komentar