Pendekatan Tebaran Jala Penentu Kebijakan dan Wartawan

Dalam praktek jurnalistik godaan terbesar wartawan adalah keinginan menuang semua fakta  yang diperolehnya di lapangan ke dalam tulisan yang hendak diberitakan. Dalam praktek jurnalistik yang seperti itu disebut menulis dengan pendekatan tebaran jala.  Godaan itu biasanya muncul karena beberapa hal. Pertama, si wartawan merasa jerih payahnya akan sia-sia jika fakta yang diperoleh di lapangan tidak tertuang ke dalam berita.

Kedua, si wartawan kesulitan memilih dan memilah mana fakta yang penting dan relevan dengan berita yang ditulisnya. Malah bagi wartawan pemula, menulis kata atau kalimat pertama saja sudah merupakan kesulitan  tersendiri. Ujung-ujungnya, si wartawan memasukkan semua fakta yang ditulisnya. Si wartawan menganggap, sayang jika fakta yang diperoleh dari lapangan dengan susah payah tidak dituang dalam tulisan berita.

Ada juga yang melihat wartawan menuang semua fakta yang dihimpunnya ke dalam berita karena kesulitan menentukan news peg, news hook dan news angle.  Akibatnya, berita bukan saja tidak fokus. Lebih dari itu, konsumen berita juga mengalami kesulitan. Konsumen kesulitan menyarikan berita yang ditulis wartawan. Konsumen mempertanyakan informasi atau berita apa sejatinya yang hendak disampaikan wartawan. Padahal, ada yang bilang jurnalisme sebuah kartografi. Jurnalisme menyampaikan berita, dengan segenap kaidah dan prinsip jurnalistiknya, agar dengan berita dan informasi itu warga bisa menyikapi dengan peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Jurnalisme menyampaikan informasi yang dengan informasi itu warga bisa menentukan nasib dan masa depannya berdasarkan berita dan infromasi yang dibacanya.

Kerja wartawan dan kerja penentu kebijakan sejatinya sama. Sama dalam hal keharusan menentukan peg, hook dan angle. Wartawan harus  lebih dahulu menentukan peg, hook dan angle sebelum menulis berita. Begitu pula dengan penentu kebijakan, mesti menentukan peg, hook dan angle sebelum menentukan dan menetapkan kebijakan. Tujuannya, agar kebijakan fokus dan terarah. Sebegitu rupa sehingga memudahkan perencanaan dan pelaksanaan kebijakan.

Tentu saja antara wartawan dan penentu kebijakan tidak persis sama. Tidak seperti wartawan, penentu kebijakan dihadapkan pada tantangan tambahan berupa keterbatasan anggaran. Keterbatasan yang justru menuntut penentu kebijakan harus lebih cerdas menentukan peg, hook dan angle yang dalam bahasa penyelenggaraan pemerintahan disebut kecerdasan menentukan skala prioritas. Dengan kecerdasan itu penentu kebijakan menjadi tidak gampang berwacana dan berencana. Penentu kebijakan tidak memilih dan memilah mana isu penting dan kurang penting. Mana pula isu yang jawabannya tidak boleh ditunda dan tertunda karena taruh umpanya darurat dan menyangkut hajat serta kepentingan banyak orang.

Selain kebijakan terkesan tidak terarah, penentu kebijakan yang sedikit-sedikit berwacana berpotensi menimbulkan kesan bahwa penentu kebijakan sejatinya tidak memiliki visi, misi dan rencana aksi. Kejadiannya kemudian menjadi sama dengan ketika wartawan kesulitan menentukan news peg, news hook dan news angle. Bersamaan dengan itu, ada godaan semua fakta maunya ditulis. Kesulitan berikutnya, wartawan mengalami kesulitan di bagian mana saja fakta itu harus dijejalkan ke dalam berita yang ditulisnya. Syukur kalau dengan cara itu akhirnya jadi sebuah tulisan atau berita. Sebab, menulis dengan pendekatan tebaran jala (semua fakta maunya dijejalkan) biasanya urung menjadi berita.

Penulis adalah anggota Persatuan Wartawan Indonesia Jember


Apa Reaksi Anda?

Komentar