Iklan Banner Sukun

Pendekatan Genetik Menuju Harmoni Gigi

(Foto: Shiny Diamond, pexels)

Harmoni gigi, rahang, dan wajah menjadi salah satu cabang ilmu Kedokteran Gigi, ilmu Ortodonti. Ilmu ini mencoba mempelajari kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi, rahang, serta jaringan otot-otot pengunyahan beserta syaraf dan pembuluh darah membentuk pola wajah tertentu.

Upaya preventif, interseptif, maupun kuratif secara bedah dan nonbedah menjadi fokus yang terus digali para ahli Ortodonti. Tujuannya untuk mengembalikan fungsi sistem pengunyahan atau stomatognatik dan estetika wajah yang harmoni optimal.

Dokter ahli yang mengerjakannya pun harus Specialis Orthodontis, yang menempuh Pendidikan tambahan 3-4 tahun setelah menyelesaikan Pendidikan Dokter Gigi.

Ada puzzle yang hilang dalam progres Ortodonti di Indonesia. Indonesia terbentang luas dari Sabang sampai Merauke dengan kepulauan dan etnisnya. Ada perbedaan karakteristik antara etnik Jawa dan ras Kaukasoid.

Mayoritas pasien seperti di Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut Pendidikan Universitas Airlangga (RSKGMP UNAIR) adalah etnis Jawa. Ada pondasi yang seringkali masih diabaikan oleh para dokter gigi. Pondasi tersebut berhubungan erat dengan ilmu genetik dan berperan besar pada bagaimana seharusnya dokter gigi melihat kasus maloklusi di Indonesia.

Kajian Maloklusi Gigi Barat dan Timur
Maloklusi adalah situasi ketika gigi atas maupun bawah tidak sejajar. Situasi tersebut akan mengurangi estetika dan menimbulkan masalah pada wajah. Dalam maloklusi, gigi, rahang, dan wajah adalah satu kesatuan tak terpisah.

Sepanjang proses tumbuh kembang manusia, gigi, rahang, serta wajah, akan tumbuh berkesinambungan dan saling mempengaruhi. Konsepsi, pemahaman, serta teori-teori ini telah banyak para dokter gigi pelajari dari literatur-literatur kedokteran gigi Barat. Sumber utama kajian kedokteran gigi di Indonesia maupun belahan dunia Timur.

Literatur Barat tersebut telah lama dianggap sebagai kebenaran absolut dan solusi atas permasalahan maloklusi di Indonesia. Patokan yang harus diikuti secara mutlak. Namun apakah literatur Barat dapat sepenuhnya menjadi jawaban atas masalah maloklusi di Indonesia?

Pada tahap ini, pembahasan soal perbedaan genetika muncul. Literatur kedokteran gigi Barat seperti yang kita ketahui, mempelajari seluk-beluk Ortodonti dari fenotip ras Kaukasoid.

Ras yang jelas-jelas memiliki karakteristik fisik dan wajah berbeda dengan kita ras Deutromelayu.
Dokter gigi Indonesia tidak seharusnya mencontoh mentah-mentah literatur kedokteran gigi Barat.

Garis besar dasar teorinya tentu saja sama, tapi ada banyak pekerjaan rumah yang harus dicari sendiri untuk menentukan diagnosis dan metode terapi yang tepat bagi pasien kita, ras Deutromelayu.

Berdasarkan argumen tersebut, variasi dalam maloklusi menjadi penting. Jika variasi yang ditemukan tidak sama dengan textbook, maka saatnya bagi kita untuk membaca, meneliti, dan melakukan koreksi.

Menjelajahi Ilmu Genetika dan Karakteristik Maloklusi Orang Jawa
Ilmu genetik bisa menjawab dan membantu menemukan marker perbedaan antar ras. Namun proses pencarian marker tersebut jelas tidak mudah. Gambaran dan pemeriksaan genetik begitu rumit dan dilakukan mulai dari sekuens DNA, membuat urutan DNA, hingga mencocokkannya dengan yang ada di Gen Bank (human genome). Pendekatan genetik ini berusaha menjawab perbedaan karakteristik gen kedua ras yang berdampak pula pada perbedaan maloklusi dan metode terapi.

Perbedaan gen sendiri terjadi karena pewarisannya dari gen ayah maupun ibu. Kelainan yang kemudian muncul pada pasien ternyata diturunkan dari kelainan yang muncul dari ayah atau ibu. Kelainan inilah yang menjadi bagian dari perubahan genetik.

I Gusti Aju Wahju Ardani Guru Besar FKG Unair

Perubahan genetik tersebut bukannya terjadi secara cepat, melainkan melalui proses serta dipengaruhi genetik atau keturunan, lingkungan, pola makan, hingga iklim. Kulit coklat, hidung kecil, rambut hitam, maupun kontur wajah bulat merupakan fenotip khas ras Deutromalayu.

Sebuah adaptasi yang menimbulkan perbedaan genetik. Apalagi dokter gigi masih seringkali sulit membedakan antara pola maloklusi klas I dan II, yang dipengaruhi besar oleh struktur gigi, rahang dan bentuk wajah.

Pada titik ini, pemahaman akan karakteristik genetik dan maloklusi ras Deutromelayu akan sangat membantu dokter gigi menemukan metode terapi paling tepat. Dokter gigi harus lebih fokus pada pasien yang mereka tangani daripada sekadar mengikuti hasil kajian Barat dengan fenotip yang berbeda dari pasien kita.

Masa Depan Ilmu Genetik, Ortodonti, dan Teknologi
Ilmu genetik dalam fenomena maloklusi adalah masa depan. Perlu membakukan karakteristik genetik melalui pola urutan DNA pasien sebagai langkah awal. Dalam proses pembacaan urutan DNA perlu juga kolaborasi dengan para ahli teknologi.

Masa depan ilmu genetik akan semakin cerah dengan bantuan teknologi. Perpaduan antara ilmu genetik dengan pendekatan teknologi ini disebut Biofarmatik. Ilmu yang membantu peneliti membuat database sekuen DNA dan pola maloklusi.

Hal tersebut dapat digunakan untuk merencanakan tindakan strategi pencegahan dalam menangani masalah yang akan dihadapi oleh pasien.

Harapannya, pendekatan tersebut akan membantu menemukan marker atau penanda khas dalam kasus maloklusi di Indonesia. Sehingga, pendekatan genetik dapat benar-benar membawa kita pada harmoni gigi, rahang, dan wajah melalui diagnosis dan terapi yang tepat bagi kasus maloklusi di Indonesia.

I Gusti Aju Wahju Ardani
Guru Besar FKG Universitas Airlangga Surabaya


Apa Reaksi Anda?

Komentar