Mengenang Tragedi 11 September 2001, Nasib Para Korban Setelah Dua Dekade

Ilustrasi: Duka Cita

Surabaya (beritajatim.com) – Dua dekade lalu gedung pencakar langit World Trade Center (WTC), New York, Amerika Serikat, ditabrak oleh dua pesawat komersial yang dibajak teroris.

Asap membumbung hingga ke langit. Ribuan orang tewas. Kenangan ini membekas hingga selalu dikenang dengan tragedi 11/9. Tak hanya itu, pesawat itu juga merobohkan beberapa bangunan lain.

Sedangkan pesawat ketiga menabrak Pentagon, kemudian pesawat terakhir jatuh di Pennsylvania.

Namun, dua dekade sejak tragedi 11 September 2001, hanya 60% korban yang telah diidentifikasi secara resmi. Pada 7 September, hanya beberapa hari sebelum peringatan 20 tahun serangan,

Kepala Kantor Pemeriksa Medis Kota New York mengatakan telah mengidentifikasi dua korban lagi. Kedua orang tersebut adalah seorang wanita bernama Dorothy Morgan, asal
Hempstead New York dan seorang pria yang namanya dirahasiakan atas permintaan keluarga.

Mereka berdua merupakan korban ke-1.646 dan ke-1.647 yang jenazahnya berhasil diidentifikasi. Secara total, peristiwa tragis itu telah memakan korban hingga 2.753. Artinya, sekitar 40% korban, atau 1.106 orang, masih belum teridentifikasi.

Dr. Barbara A. Sampson, kepala pemeriksa medis menyatakan bahwa pihaknya tidak akan pernah lupa, berapa lama pun waktu yang dibutuhkan, mereka akan terus berupaya mengidentifikasi korban.

Pihaknya berjanji untuk mengembalikan semua yang hilang kepangkuan keluarganya. Hal ini seperti yang dijanjikan pada 20 tahun lalu kepada para keluarga korban tragedi WTC untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk mengidentifikasi orang yang mereka cintai.

Menurut laporan NBC New York, jenazah Morgan ditemukan pada 2001, sedangkan jenazah pria yang tak disebutkan namanya itu ditemukan pada 2001, 2002, dan 2006, kata para pejabat.

Morgan sendiri diketahui berusia 47 tahun. Putri bernama Nykiah Morgan hingga kini masih hidup dan menunggu kabar kepastian ibunya, dengan hati penuh harap dan cemas.

Dalam sebuah wawancara dia menceritakan bahwa 11 September selalu menjadi hari yang menyedihkan paling sulit dia jalani. Dia pun selalu memilih tak acuh ketika dunia memperingati 11/9 setiap tahunnya.

Dia diam di rumah, menutup pintu, mematikan televisi, telepon, dan semua yang bisa membuatnya mengetahui hiruk pikuk peringatan 11/9. Nykiah mengaku telah menerima bahwa ibunya terbunuh dalam serangan teroris pada 2001 lalu, tetapi sebagian dari dirinya selalu menolak percaya.

Dia kerap berpikir jangan-jangan ibunya mengalami amnesia. Mungkin ibunya menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dan dia saat ini berbahagia. Bagi Nykiah, mengetahui kenyataan bahwa ibunya telah meninggal dua dekade kemudian benar-benar menyakitkan.

Semua harapannya runtuh. Tak ada lagi “kemungkinan-kemungkinan” yang bisa dia karang untuk membuat setitik harapan itu tetap hidup. Bahkan, dia mengungkapkannya seperti “melalui lagi saat-saat itu”.

Mengenang 20 tahun tragedi
Pada waktu setempat, Sabtu, 11 September 2021, Presiden AS Joe Biden memperingati dua dekade serangan 9/11 dengan mengunjungi tiga lokasi penyerangan. Upaya ini dilakukan untuk menghormati para korban serangan yang mengerikan itu.

Biden memulai bertolak ke New York untuk menghadiri upacara pada pukul 08.30 waktu setempat di lokasi WTC pernah berdiri sebelum pesawat meluluhlantakkan dua bangunan itu.

Lalu, dia menuju Shanksville, Pennsylvania, tempat United Flight 93 jatuh ke ladang setelah sejumlah penumpang melawan para pembajak dan mencegah pesawat menghantam target lainnya.

Yang terakhir, Presiden AS akan kembali ke wilayah Washington untuk mengunjungi markas besar Departemen Pertahanan AS, Pentagon, simbol militer AS yang juga turut menjadi target serangan pesawat teroris tersebut.

Namun, Biden tidak dijadwalkan untuk memberikan pernyataan di lokasi mana pun, tetapi dia merilis sebuah video sehari sebelumnya untuk mengungkapkan belasungkawa kepada para keluarga korban.

“Ini sulit sekali. Apakah itu tahun pertama atau ke-20, anak-anak tumbuh tanpa orang tua dan orang tua menderita tanpa anak,” kata Biden dalam video tersebut.

Pada peringatan tahun ini, banyak keluarga korban 9/11 meminta Biden untuk tidak melakukan acara-acara peringatan 20 tahun kecuali ia mencabut status kerahasiaan sejumlah dokumen.

Pekan lalu, Biden telah memerintahkan Departemen Kehakiman untuk meneliti dokumen-dokumen FBI yang menyangkut serangan 9/11, untuk menilai kemungkinan dicabutnya status kerahasiaan dan kemudian diterbitkan.

Hanifah B 
Anggota Perempuan Indonesia Satu


Apa Reaksi Anda?

Komentar