Mengejar Langkah Pemimpin Muda Pamekasan

Lahirnya pemimpin muda memimpin sebuah daerah, awalnya dikuatirkan. Pengalaman menjadi salah satu faktornya. Namun, kekuatiran itu, tidak lagi muncul, setelah sejumlah pemimpin muda, mampu menjawab dengan kerja inovasi dan terobosan percepatan kemajuan daerah.

Konsep pelayanan publik yang serba cepat, dengan memamfaatkan kemajuan teknologi menjadi salah satu unggulan inovasi sejumlah pemimpin muda, dalam memimpin daerah-nya.

 Abdullah Azwar Anas salah satunya. Bupati ujung timur Propinsi Jawa Timur itu, mampu mengubah stigma Kabupaten Banyuwangi, yang awalnya identik dengan citra santet atau klenik, kini berubah menjadi Kabupaten kreative dan inovatif.

 Banyuwangi tidak hanya dikenal sebagai Kabupaten kreative dalam bidang pelayanan publik. Kabupaten ini juga dikenal sebagai ladangnya tempat pariwisata. Tempat-tempat yang awalnya biasa, disulap menjadi tempat wisata, dengan konsep pengelolaan modern.

 Abdullah Azwar Anas membutuhkan kurang lebih tiga tahun untuk mengubah wajah Banyuwangi serta menyakinkan masyarakatnya, membawa banyuwangi berkemajuan. Pola pendekatan Abdullah Azwar Anas memang tergolong anti-mainstream. Misalnya saja, setiap dinas adalah dinas pariwisata, dari kota santet menuju kota internet, semakin terbawah semakin prioritas teratas, semakin misteri semakin diminati, semakin tersembunyi semakin dicari, hingga rumah sakit bukan tempat orang sakit.

Pola pendekatan ini, bagi sebagian orang awalnya dianggap tidak masuk akal. Namun, bagi Abdullah Azwar Anas dijadikan sebagai bagian dari ikhtiyar untuk memajukan daerahnya.

 Kini Banyuwangi menjadi pusat pembelajaran sejumlah daerah di Indonesia. Hampir semua daerah belajar ke Banyuwangi tentang pelayanan publik hingga pengelolaan wisata.

Kabupaten Pamekasan, rupanya akan meniru langkah positif Abdullah Azwar Anas. Beberapa pola pelayanan publik mulai digagas. Misalnya saja disektor kepengurusan administrasi kependudukan maupun kepengurusan ijin.

Jika semula masyarakat harus menunggu berminggu-minggu untuk mendapatkan pelayanan administrasi kependudukan maupun kepengurusan ijin, kini sudah disatukan dalam satu wadah bernama mall pelayanan publik. Semua yang menyangkut pelayanan masyarakat, ditampung di tempat ini. Sehingga, masyarakat tidak perlu lagi, bersusah payah, pindah dari kantor satu ke kantor lainya, untuk mengurus ijin.

 Gebrakan Baddrut Tamam sebagai Bupati, tidak berhenti disitu. Ia juga membuat gebrakan memodifikasi seluruh mobil dinas Pamekasan, dengan branding mobil batik. Baddrut menginginkan agar batik Pamekasan, dikenal masyarakat luas. Sehingga, tertarik untuk membelinya. Maka yang untung ialah pembatik Pamekasan yang tersebar di 28 sentra batik di Pamekasan, dan berada di 11 Kecamatan di Pamekasan (data dinas perindustrian dan perdagangan).

Masih disektor produk lokal, Baddrut juga mendorong produk lokal Pamekasan menebus pasar modern. Setidaknya menurut Data Dinas Koperasi dan UKM, ada kurang lebih 36 produk lokal Pamekasan, yang dinyatakan lolos verivikasi masuk pasar modern.

 Disektor produk lokal ini juga, Baddrut mendorong agar seluruh produk lokal berbasis UMKM, go-online. Baddrut ingin sekali, barang-barang yang dipakai masyarakat Pamekasan, berasal dari tangan-tangan kreative masyarakat Pamekasan. Apalagi, produk Pamekasan, bisa menarik masyarakat diluar Pamekasan, untuk membelinya.

Langkah yang kini ditempuh Baddrut ialah, mengikutsertakan sejumlah pemuda untuk memagangkan di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Dengan harapan, setelah mereka dilatih, bisa kembali ke Pamekasan, dan bersama-sama membangun usaha di Pamekasan.

Ditahun ini, Baddrut akan menjadikan semua dinas menjadi dinas entrepreneu’r. Melalui program ini, Ia menginginkan di Kabupaten ini tercipta sepuluh ribu wirausaha baru.

 Bagi sebagian orang, menciptakan sepuluh ribu wirausaha baru dengan jangka waktu lima tahun, dinilai sulit untuk diwujudkan. Namun, Baddrut berkenyakinan, dengan perencanaan yang matang dan program yang terukur serta target capaian yang jelas, 10 ribu wirausaha baru tersebut akan terwujud.

Cikal bakal menuju 10 ribu wirausaha baru itu, sebenarnya mulai terlihat. Di Kabupaten ini sudah ada wadah himpunan pengusaha online Pamekasan, termasuk pula sudah terbentuk kelompok usaha pemuda produktif, itu belum lagi kelompok wirausaha muda Pamekasan, yang terus bermunculan. Serta kelompok usaha mandiri masyarakat. Ini belum lagi jumlah UMKM yang memungkinkan terus bertambah di Kabupaten Pamekasan. Data BPS tahun 2016 menyebutkan jumlah pelaku UMKM di Kabupaten ini mencapai 195. 510 orang. Itu artinya, jika jumlah UMKM ini bertambah, maka pelaku wirausaha akan bertambah.

Perhargaan sebagai Bupati Entrepreneur 2019 yang disandang Baddrut tamam oleh Marketeer of the Year 2019 atau MarkPlus, menambah kenyakinan kita semua bahwa Kabupaten ini, mampu mewujudkan wirausaha baru.

 Tidak berhenti disitu, Baddrut menggandeng media-media massa nasional untuk meng-eksplorasi potensi serta mengenalkan Pamekasan dimata Indonesia. Baddrut ingin potensi dan keunggulan Pamekasan, tidak hanya diketahui oleh masyarakat Pamekasan saja, melainkan juga bisa dikenal masyarakat Indonesia secara luas. Ia juga sadar bahwa peran media sangat penting. Melalui eksplorasi potensi tersebut, ada efek misalnya datang investor untuk menanamkan investasinya di Kabupaten ini.

 Baddrut ingin Kabupaten Pamekasan segera maju dalam segala sektor. Sehingga, konsep yang sering disebut, yakni akan merubah Pamekasan dari biasa-biasa saja menjadi Kabupaten luar biasa bisa terwujud. Baddrut juga mengajak pembantu-pembantunya mengubah pola pikir yang stagnan, menjadi berfikir berkemajuan.

 Tugas besar membawa Pamekasan berkemajuan ini, juga harus didukung dengan birokrasi yang handal dan modern. Baddrut kini berusaha keras, agar pola pikir aparatur sipil negara, tidak hanya sekedar bekerja. Tetapi mampu membuat program bergizi, inovatif dan mampu memberikan mamfaat positif kepada masyarakat Pamekasan.

 Tidak berhenti di birokrasi, Baddrut rupanya ingin mendorong desa berkemajuan. Ia berkenyakinan, jika desa maju, maka masyarakatnya akan sejahtera. Salah satu upayanya, yakni mendorong desa tematik. Desa tematik mendorong arah pembangunan dan pengembangan desa, disesuaikan dengan keunggulan atau potensi yang dimiliki oleh desa tersebut. Sehingga, Pemerintah desa fokus pada keunggulan atau potensi yang dimiliki.

 Misalnya, Desa A memiliki potensi pertanian bawang. Maka fokus desa mendorong agar potensi bawang tersebut berkembang. Sehingga, seluruh pembangunan Desa, diarahkan untuk mendukung keunggulan potensi bawang tersebut. Mulai pemenuhan infrastruktur, fasilitas,  penciptaan sumber daya manusia yang kompeten,  hingga terwujudnya nilai tambah suatu produk. Demikian pula, potensi lainya, misalnya potensi pariwisata, potensi garam, potensi krupuk, potensi sayur mayur ataupun produk industri rumah tangga.

Terobosan Desa tematik ini sangat relevan dengan konsep membangunan desa mandiri, dengan mengoptimalkan bumdes dalam pengelolaan produk unggulan desa berbasis one village one product. Namun terobosan ini, perlu diawali dengan riset mendalam. Desa tidak perlu terburu-buru menentukan desa tematik. Riset sangat penting untuk menentukan potensi dan arah kebijakan yang akan dilakukan oleh Kepala Desa. Untuk merealisasikan riset tersebut, Desa membutuhkan pendampingan perguruan tinggi. Desa tinggal bekerja sama dengan perguruan tinggi, untuk dilakukan riset.

Pamekasan memang belum semaju Banyuwangi. Namun, ikhtiyar atau usaha menuju Kabupaten berkemajuan tersebut, perlu di apresiasi oleh masyarakat. Artinya, Pemkab Pamekasan sudah memiliki tekad tinggi, agar Kabupaten ini maju dan sejajar dengan Kabupaten lainya yang sudah maju dan berkembang di Indonesia.

***Penulis adalah Dosen STIE Bakti Bangsa Pamekasan

Apa Reaksi Anda?

Komentar