Membangun Budaya Growth Mindset di Kelas

IMG-20190528-WA0000
RENY DWI LESTARI S.Pd

Tulisan ini terwujud dengan bimbingan dosen kami, Engelberthus Kukuh W. M.Pd.

Mata KuliahInovasi Pendidikan IPS

Membangun Budaya Growth Mindset di Kelas

     Keberhasilan dalam pendidikan khususnya pembelajaran yang diberikan oleh guru terhadap, siswa ternyata tidak hanya terkait dengan metode dan strategi mengajar yang tepat, tapi juga terkait pendekatan terhadap pola pikir guru dan siswa itu sendiri. Pendekatan pola pikir siswa yang benar dari awal akan mempengaruhi seluruh hidup siswa tersebut ke depannya.

Melihat masih banyaknya sekolah yang masih terlalu fokus pada hasil atau prestasi siswa atau pola pikir tetap dan bukan pada proses – prosesnya. Guru sebaiknya lebih sering memberikan dukungan pada proses bukan pada hasil.

Pendekatan pola pikir ini, pada dasarnya berdasarkan pendapat ahli psikologi dari Stanford University Carol Dweck dibagi dua, yaitu fixed mindset atau pola pikir tetap, dan growth mindset, atau pola pikir berkembang.

Sayangnya guru harus menghindari  fixed mindset atau pola pikir tetap ini. Guru yang berpola pikir tetap ini memandang bahwa kecerdasan, karakter dan kemampuan kreatif siswa adalah kapasitas yang tidak berubah, bawaan lahir  dan memberlakukan siswa demikian juga.

Siswa yang mengalami pendekatan ini pada akhirnya bepikir demikian juga, yang terpenting baginya adalah kelihatan pintar.Mereka pada akhirnya cenderung menolak belajar sesuatu yang baru, karena kalau gagal takut dianggap bodoh. Biasanya mereka menjadi malu kalau  gagal atau tidak mengetahui sesuatu yang ditanyakan kepadanya.

Ada sebuah kisah, ada anak tidak bisa bicara sampai dengan usia 5 tahun, gagal mengikuti ujian sekolah, pelajar yang lambat, di duga mengalami penyakit dislexia (melamun). Dianggap bocah tidak pintar dan autisme. Itulah yang dialami Albert Einstein kecil, yang pada akhirnya menjadi seorang ilmuwan fisika hebat dengan teori relativitasnya. Beliau banyak sekali menyumbang tentang pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik dan kosmologi sehingga dianugrahi Nobel.

Pernahkah mempelajari yang sulit sampai mencoba berkali- kali ( Growth Mindset )  sebuah pola pikir dimana seseorang percaya bahwa kemampuan dan kecerdasannya dapat terus berkembang dengan terus berlatih dan hal ini sama seperti kisah Albert Einstein.

Mengapa ada murid lebih cerdas daripada murid lainnya. ( kuncinya bagaimana cara neuron itu diaktifkan otak seperti otot ) jika terus dilatih akan berkembang dengan kuat perlu sekali menanamkan pikiran ( Growth Mindset ) pada manusia.

Guru selaku pendidik mengutamakan  pendekatan  growth mindset atau pola pikir berkembang, yang melihat kecerdasan, kepribadian dan karakter seseorang atau siswa berproses untuk besar tumbuh karena tantangan dan kegagalan.

Siswa tidak cuma dilihat berhasil dan tidaknya berdasarkan prestasinya tetapi proses dan kegagalan-kegagalannya dianggap sebagai batu loncatan untuk memperluas dan menajamkan kemampuan yang sudah ada.

Kecerdasan dan kemampuannya akan terus berkembang seiring proses-proses yang bisa jadi penuh kegagalan. Para siswa yang memiliki growth mindset ini percaya  kecerdasannya dan ketrampilannya bisa terus tumbuh berkembang melalui usaha dan kegigiha, yang terpenting adalah belajar. Mereka termotivasi untuk  selalu berusaha dan bekerja keras.

Cara membangun Growth Mindset di kelas  pada peserta didik antara lain ;

1. Berikan pujian pada usaha yang dilakukan siswa, bukan pada hasil. Evaluasi terhadap murid sebaiknya terfokus pada perencanaan, proses, usaha, kemajuan dan strategi siswa dalam menghadapi tantangan. Bukan kemampuan atau hasil yang dicapai. Kalau kita lebih sering memuji perencanaan dan proses, maka siswa akan terbiasa merencanakan dan ikut dalam kegiatan pembelajaran dengan lebih baik.

2. Bangunlah budaya yang mengutamakan tantangan, daripada target yang terlalu mudah, beri tugas yang ada tantangan secara bertahap. Pastikan bahwa para siswa cukup tertantang di kelas. Buat mereka memahami bahwa tugas yang sulit adalah kesempatan untuk melatih otak dan mempelajari hal baru.

3. Perlihatkan dokumentasi proses yang dilalui siswa, bukan hanya hasil akhirnya  ( hasil akan seiring dengan usaha yang diberikan )

4. Menghias kelas bersama siswa dengan benda yang mengingatkan pentingnya Growth Mindset.

5. Pasang ekspektasi yang tinggi.  Katakan secara jelas bahwa anda berharap banyak dari siswa-siswa anda, bahwa kritikan juga akan selalu mereka dapatkan

untuk memperbaiki diri

6. Membangun budaya kelas yang menghargai kesalahan, sehingga suatu hal yang penting dalam proses belajar, lingkungan seperti ini akan memberikan rasa nyaman pada anak untuk terus belajar tanpa takut membuat kesalahan misalnya saya memulai kelas atau menjelaskan bahwa kelas ini sangat menghargai untuk setiap kesalahan yang dilakukan. Setiap ada siswa yang membuat kesalahan berikan kesempatan untuk menjelaskan jawabannya yang bertujuan untuk mengetahui letak kesalahan siswa  atau bagian mana yang belum dipahami siswa, dan ini sekaligus guru dapat menganalisa kelebihan siswanya masing- masing.

Dengan pendekatan ini, kita bisa lebih bijak dalam mendampingi kepala sekolah nanti. Kita tidak mudah menghakimi dan lebih banyak memfasilitasi perencanaan dan proses.

Growt Mindset harus diiringi startegi belajar yang tepat supaya tidak hanya menjadi mitos belaka, sebab sorang pendidik harus dapat mengajarkan siswanya berbagai teknik belajar. Manusia sedikitnya memiliki 3 gaya belajar, dengan mengenal gaya belajar siswa akan dapat mempermudah dalam mendesain proses belajar yang efektif.

Guru yang selalu memperbaiki diri dengan kompetensi yang dimiliki maupun yang akan dikembangkannya. Kalau sekarang di menggunakan suatu metode/strategi pembelajaran A, maka dia berupaya menguasai B dan seterusnya. Growth Mindset mendorong seorang guru untuk terus berkembang. Mereka melihat kemampuan sebagai sesuatu yang bisa dikembangkan dan dilatih. Sebagaimana Ade Rai melatih otot-ototnya menjadi binaragawan kelas dunia. Guru yang memiliki Growth mindset terus bereksperimen dan tertantang pada hal-hal baru. Gurupun demikian, dengan terus mencoba hal-hal baru, mereka sejatinya telah melakukan perubahan dan peningkatan kualitas diri. Meski kadang proses yang dijalaninya penuh kegagalan dan hambatan. Disitulah tempaan kompetensi dan kualitas diri menemukan muaranya.

Kita, tidak mungkin lepas dari kekeliruan dan kesalahan. Kadangkala, kritikan menunjukkan pada diri kita dimana letak keduanya (kekeliruan dan kesalahan). Alangkah eloknya jika setiap masukan, kritik, feed back tidak kita jadikan beban. Dengan menjadikannya beban, sama halnya kita merendahkan diri. Masuk dalam kubang keputusasaan dan ketidakpercayaan diri. Selamat berproses menuju guru dengan growth mindset.

Reny Dwi Lestari, Mahasiswa S2 Pendidikan IPS Universitas Kanjuruhan Malang

Apa Reaksi Anda?

Komentar