Iklan Banner Sukun

Marak Kampanye LGBT!! Bagaimana Peran Pendidikan?

foto: ilustrasi

Lucinta Luna, Millen Cyrus, Dorce Gamalama dan yang baru-baru ini sontak dibicarakan ialah Ragil Mahardika dan Fred Vollert Frederik merupakan sebagian dari banyaknya contoh kasus LGBT di Indonesia.

Hal ini didukung juga dari beberapa kampanye selebritis lain yang sempat viral di media sosial seperti pada kasus Darius Sinathrya yang memakai ban kapten berlambang pelangi pada saat bermain bola.

LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) merupakan masalah kejiwaan yang dialami seseorang. Istilah ini muncul pada tahun 1990 untuk menggantikan frasa orientasi seks sesama jenis. Masalah LGBT ini masih dianggap tabu di Indonesia karena kuatnya faktor kebudayaan dan keagamaan di Negara ini

Meskipun dianggap tabu, tetap saja tidak menutup kemungkinan bahwa LGBT akan menjadi ancaman yang serius kedepannya jika dibiarkan begitu saja tanpa adanya penanganan lebih lanjut oleh pemerintah. Terbukti saat ini, masalah LGBT yang dulunya masih ditutup-tutupi, kini mulai terpampang secara nyata.

Belum ada upaya yang nyata yang dilakukan oleh pemerintah dalam menanggapi gerakan LGBT, Baik secara hukum maupun pendidikan.

Berkaca dalam kasus kampanye LGBT yang baru-baru ini hadir dalam balutan konten khusus anak-anak, pemerintah hanya bisa mentake down video tersebut tanpa melanjutkan proses hukum.

Hal ini membuktikan kurangnya keseriusan dalam menangani kasus ini. Sementara dalam dunia pendidikan, bentuk pencegahan LGBT hanya sebatas sosialisasi yang tidak merata di berbagai sekolah.

Padahal, gejala LGBT seharusnya sudah mulai terindikasi sejak dini. Sehingga kedepannya lebih mudah ditangani. Salah satunya yang dilakukan pada SMAN 4 Kota Pariaman mengenai sosialisasi bahaya LGBT.

Jika ditarik sedikit kebelakang, mengenai kasus penanganan LGBT ini pemerintah terkesan saling melempar tanggung jawab. Seperti pada tahun 2016, menteri pendidikan saat itu Bapak Anies Baswedan dalam kunjungannya ke kantor Republica, Jakarta, pada rabu (17/2) menegaskan bahwa ini merupakan wilayah Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Padahal sebenarnya masalah penanganan ini merupakan tanggung jawab bersama demi melestarikan dan mempertahankan budaya tradisional dari ancaman budaya barat.

Guru sebagai Pendidik juga termasuk orang yang bertanggung jawab dalam hal penanganan LGBT ini. Pendidik dituntut mampu menuntun pola pikir peserta didik dalam menanggapi virus LGBT.

Guru seharusnya mulai menanamkan pendidikan akhlak dan budaya dalam setiap pelajaran khususnya pada mata pelajaran PPKN dan Agama.

Kedua pelajaran di atas memang sangat penting dalam menangani Penyebaran LGBT. Dalam pelajaran agama, guru membentuk pola pikir siswa bahwa

Selanjutnya, pendidikan Kewarganegaraan membentuk pola pikir kritis peserta didik dalam sudut pandang hukum, yang menyatakan bahwa

Rinaldy Pratama
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra-UNM/Makassar Sulsel
Email: [email protected]


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev