Manifestasi Covid-19 Pada Mukosa Mulut dan Indra Pengecap

Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO mengumumkan telah terjadi pandemi global yang disebabkan severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang menyerang sistem pernapasan, dan kemudian disebut sebagai COVID-19.

COVID-19 juga disebut sebagai the 1000 faces disease atau penyakit seribu wajah karena menimbulkan reaksi tubuh yang berbeda pada setiap orang.

Sekitar 80% menunjukkan gejala ringan dan dapat sembuh tanpa perawatan khusus, sekitar 15% menunjukkan gejala sakit berat, dan 5% dengan kategori kritis.

Gejala umum COVID-19 antara lain, demam (98%), sesak (55%), batuk (76%), nyeri otot (44%), dan rasa lelah pada saraf dan otot (44%).

Penyebaran COVID-19 sangat cepat dan menimbulkan dampak yang serius sehingga menimbulkan krisis di dunia, berdampak pada semua aspek kehidupan dan kesehatan.

Virus Corona tidak hanya menginfeksi saluran pernapasan, tetapi hampir semua anggota tubuh yang memiliki reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) seperti jantung, liver, usus, testis, otak, ginjal, pembuluh darah, mukosa lidah dan kelenjar ludah.

Dengan adanya reseptor ACE2 pada sel kelenjar ludah, maka mudah terinfeksi SARS-CoV-2 dan dapat menimbulkan gejala keradangan pada kelenjar ludah. Penelitian membuktikan bahwa didapatkan korelasi jumlah SARS-CoV-2 yang dapat dideteksi di dalam ludah. Namun pendekatan diagnosis melalui sampel ludah masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Mukosa lidah yang terinfeksi SARS-CoV-2 mudah terjadi inflamasi dan enantema yang memberikan gejala ruam atau bintik kecil, kemerahan di selaput lendir seperti gejala yang tampak pada pasien terinfeksi virus cacar air (Chicken pox), virus penyakit tangan-kaki dan mulut (hand-mouth and foot disease), campak, dan demam scarlet.

Gejala ruam ini dapat tampak pada 2 hari sebelum gejala COVID-19 muncul hingga 24 hari setelah terinfeksi COVID-19, dengan waktu rata-rata 12 hari. Gejala lain yang tampak dalam rongga mulut adalah plak berwarna putih pada lidah di daerah sentral, ulkus kekuningan, kecil dan banyak seperti gejala kandidiasis.

Didapatkan juga gejala bintil di bibir bawah dengan diameter sekitar 1 cm, lesi atrophik dengan pinggiran yang meninggi berwarna kuning-putih, kemerahan di daerah tonsil dan langit-langit yang tidak nyeri. Efek samping dari pengobatan COVID-19 juga dapat menimbulkan lesi sekunder di dalam rongga mulut dengan gejala klinis seperti kandidiasis, ulserasi, mulut kering, radang gusi, dan sariawan.

Selain gejala tersebut diatas, menurut The Center for Disease Control and Prevention (CDC), gejala awal seseorang terinfeksi COVID-19 juga dapat tampak di dalam rongga mulut, yang pada umumnya dirasakan pada hari ke-4 sampai hari ke 6, atau dapat juga seteleh 14 hari terinfeksi COVID-19.

Gejala tersebut adalah gejala dysgeusia /hypogeusia /ageusia yaitu perubahan /penurunan /atau hilangnya indera perasa / pengecap, dan pada umumnya disertai gejala hyposmia /anosmia yaitu penurunan atau hilang indra penciuman, dan juga sebaliknya gejala hyposmia /anosmia disertai gejala dysgeusia /hypogeusia /ageusia oleh karena sensasi rasa dan bau saling berhubungan. CDC menyimpulkan anosmia dan ageusia merupakan gejala umum COVID-19.

Munculnya gejala hyposmia/anosmia dan dysgeusia/ hypogeusia/ageusia disebabkan karena hidung dan rongga mulut merupakan akses paling awal masuknya virus. ACE2 tersebar pada system saraf, dan virus COVID-19 bermanifestasi ke sistem saraf secara langsung maupun tidak langsung.

Personel Polri yang bertugas di Mapolreatabes Surabaya menjalani swab tes, Sabtu (26/9/2020). (istimewa)

Menurut penelitian Lechien, didapatkan 85,6% – 88% pasien dengan COVID-19 derajat ringan sampai sedang, mengalami gejala anosmia dan ageusia, dan prevalensinya lebih tinggi pada wanita dibanding pria.

Sedangkan prevalensi hyposmia sebesar 15-25%, dan prevalensi anosmia sebesar 3-5%. Gejala hyposmia/anosmia dan dysgeusia/ hypogeusia/ageusia pada beberapa kasus dapat hilang setelah penyebab diobati, tetapi dapat juga berlangsung permanen. Adanya gejala di dalam rongga mulut berupa ruam dan berkurangnya atau hilangnya indra pengecap dapat mempengaruhi hidup seseorang yang memicu hilangnya napsu makan yang dapat berakibat turunnya berat badan, malnutris, depresi dan menurunkan daya tahan tubuh sehingga akan memperberat penyakitnya. Kedua gejala ini dapat sebagai penanda penderita harus waspada agar gejala tidak berkembang menjadi gejala yang lebih berat.

Profesi dokter gigi dan petugas medis yang terlibat pada pelayanan kesehatan gigi sangat rentan tertular COVID-19. Dengan adanya gejala klinis di dalam rongga mulut, maka dapat membantu dokter gigi untuk mendeteksi suspek COVID-19, sehingga dapat mencegah dan memutus mata rantai penularan.

Disamping itu mudahnya dokter gigi dan petugas medis tertular COVID-19 oleh karena saat komunikasi dan melakukan perawatan, posisi dokter gigi berhadapan langsung dengan rongga mulut dengan jarak yang sangat dekat dengan sumber droplet, serta proses pembuatan foto rontgen gigi yang dapat menyebabkan kontak droplet dan resiko refleks muntah.

Resiko terhirup aerosol yang berasal dari tindakan perawatan gigi seperti tindakan bedah, pengeboran gigi karena menggunakan high energy, pembersihan karang gigi karena menggunakan sonic dan ultra sonic, memoles gigi disertai semprotan udara dan air, dan produksi aerosol dapat bertahan di udara sehingga beresiko menyebabkan transmisi aerosol melalui kontaminasi airborne (udara).

Transmisi dapat juga terjadi melalui kontak tidak langsung yang disebabkan karena droplet yang jatuh dan menempel di permukaan benda seperti kursi perawatan gigi, peralatan serta benda disekitar, sehingga terbentuk fomit (permukaan yang terkontaminasi) yang dapat bertahan sekitar 3 jam hingga 9 hari.

Organisasi kesehatan dunia (WHO), Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PBPDGI) serta Pengurus Pusat Ikatan Konservasi Gigi Indonesia, merekomendasikan serangkaian langkah pencegahan yang komprehensif yang sangat membantu para dokter gigi dalam mencegah penularan serta memutus mata rantai penularan COVID-19.

Dengan menerapkan protokol pencegahan yang optimal dan pengelolaan pasien yang benar, maka dapat mencegah terjadinya penularan dari pasien COVID-19 ke dokter gigi serta sumber daya yang terlibat, dan juga sebaliknya mencegah penularan penyakit yang berasal dari dokter gigi serta proses perawatan gigi.

Dengan menerapkan protokol yang ketat, maka dokter gigi turut berpartisipasi aktif dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19, dan memberikan edukasi kepada pasien dan masyarakat agar patuh menjalankan anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol 3 M yang harus dilaksanakan oleh setiap orang dengan cara memakai masker dengan benar, menjaga jarak aman minimal 1 -2 meter, mencuci tangan sesering mungkin dengan menggunakan air mengalir dan sabun, dan tidak menyentuh area wajah tanpa mencuci tangan terlebih dahulu sehingga mencegah virus masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung atau mulut, disertai edukasi hidup bersih dan sehat agar tidak menularkan atau tertular COVID-19. Peran aktif semua pihak untuk ikut serta menjaga kesehatan masyarakat secara umum dengan memutus mata rantai penularan di level individu, keluarga dan masyarakat, menggerakan peran serta lintas sektor terkait dengan kesehatan gigi dan mulut, serta pemberdayaan masyarakat di wilayahnya.

“Wajib Terapkan protokol 3 M agar tidak menularkan atau tertular COVID-19”

 

Prof. Dr. Kun Ismiyatin, drg. MKes., SpKG(K)
Guru Besar FKG-UNAIR
KPS PPDGS Konservasi Gigi UNAIR




Apa Reaksi Anda?

Komentar