Kemana Perginya Aktivis 98?

“Dimalam hari ketika tembok China selesai. Kemana perginya para tukang batu?” kutipan itu bagian dari puisi Bertholt Brecht berjudul “A Worker Reads History”. Brecht mengkritik sejarah yang tidak adil dalam memotret peristiwa, hanya bertutur tentang orang-orang besar atau penguasa.

Padahal dalam segala peristiwa monumental tersebut, seperti terbentuknya imperium kekuasaan, jatuh bangunnya suatu dinasti, peperangan, pembangunan monumen dan sebagainya, para penguasa itu tidak bekerja sendiri. Banyak orang terlibat dan berkontribusi.

Namun yang mengisi narasi sejarah hanya para elite dan penguasa. Dibagian awal puisi, Bretch menulis, who built the seven gates of Thebes? The books are filled with names of kings. Was it the kings who hauled the craggy blocks of stone?

Puisi Bretch tersebut sangat tepat menggambarkan situasi pasca reformasi 1998. Sebelum Soeharto jatuh, ruang publik dipenuhi dengan hingar bingar aksi mahasiswa.

Tidak hanya di Jakarta tapi juga kota-kota lain di Indonesia. Begitu kokohnya kekuasaan Soeharto sehingga banyak orang tidak menyangka, demonstrasi mahasiswa saat itu jadi pelatuk runtuhnya kekuasaan yang telah digenggam selama 32 tahun.

Meski gerakan mahasiswa bukan satu-satunya penentu, tapi diakui atau tidak, berkontribusi besar dalam jatuhnya Soeharto. Namun ketika rejim lama terguling dan berganti rejim baru, mereka hilang dari panggung politik dan jauh dari episentrum kekuasaan.  Kemanakah perginya para aktivis mahasiswa 98 selepas hingar bingar politik itu?

Metamorfosis Politik

Jatuhnya Soeharto tidak lantas membuat seluruh struktur politik Orde Baru (Orba) tumbang. Para elite, kroni dan oligark yang pernah berada dalam lingkaran kekuasaan Soeharto dengat cepat bermetamorfosa menjadi bagian dari gerakan reformasi.

Tak butuh waktu lama, mereka kembali mendominasi panggung politik. Hingga kini, meskipun kepemimpinan nasional telah berganti 5 presiden, banyak elite politik lama masih berada dalam struktur politik dan kekuasaan.

Selepas reformasi, tidak banyak yang mengupas peran mahasiswa dan aktivis lainnya yang lebih sering disebut sebagai angkatan 98.

Mereka menjadi bagian dari kelompok yang disebut anonim. Ibarat pewayangan, seperti karakter yang berjejer menghiasi kanan kiri panggung. Hanya nama-nama para elite memenuhi narasi epos Mahabarata dan Ramayana.

Jika Bertholt Brecht mengetahui cerita wayang, pasti dia akan berpendapat sejarah dan narasi politik seperti dunia wayang.

Liberalisasi politik sebagai buah reformasi menghasilkan sistem politik berbiaya mahal, namun tidak selalu sebanding dengan kualitas produk politiknya.

Sistem pemilu saat ini ibarat pasar bebas dan mirip ragam festival infotainment. Dampaknya, daya dukung kapital dan popularitas menjadi kunci memasukinya. Namun, tidak banyak aktivis mahasiswa yang memilikinya.

Sebagai bagian dari gerakan mahasiswa dimasa itu, saya sangat memahami banyak aktivis tertarik melanjutkan perannya ke dunia politik. Masuk ke partai politik dan mencoba memperebutkan kursi parlemen, atau bertarung dalam kontestasi jabatan politik lainnya. Sebagian diantaranya berhasil menjadi lapis baru elite politik dan tetap kukuh hingga kini, namun banyak juga yang gagal dalam kontestasi itu.

Untuk itu, para aktivis harus memahami bahwa gerakan mahasiswa bukan layaknya investasi yang keuntungannya dapat dipetik pada saat masuk dunia politik. Jadi tidak tepat jika berharap secara otomatis dapat mengkapitalisasi hal tersebut pada saat masuk ke dunia politik.

Politik saat ini adalah rimba raya yang berbeda dengan dunia gerakan mahasiswa. Kompetensi yang dibutuhkan sebagai politisi seperti kepemimpinan, intelektualitas dan sebagainya yang diasah semasa menjadi aktivis mahasiswa, tidak serta menjadi “golden ticket” menelurusi rimba tersebut. Saat ini, banyak politisi bukan berlatarbelakang aktivis, tidak pernah belajar tentang ideologi dan apalagi digembleng dalam tradisi gerakan mahasiswa.

Sayangnya, aktivis yang berhasil masuk dalam struktur politik juga tidak banyak memberikan perubahan. Bahkan diantaranya gagal beradaptasi dan bertahan dengan dinamika politik. Ada pula yang langkahnya berakhir dijeratan KPK atau penegak hukum lainnya.

Meskipun demikian, politik jangan dijauhi, antipati atau menjadi skeptis. Aktivis mahasiswa juga tidak perlu bersikukuh menyebut diri sebagai gerakan moral. Karena pada dasarnya, gerakan mahasiswa adalah gerakan politik. Jika merujuk pada politik sebagai pengartikulasian ide/gagasan, pengorganisasian massa, dilandasi kepentingan tertentu (misalnya ideologi) serta upaya mengubah/membuat kebijakan publik. Semua itu dilakukan gerakan mahasiswa.

Hal yang membedakan dengan gerakan politik lainnya adalah adanya moralitas sebagai basis gerakan. Moralitas yang kental dengan nilai-nilai  dan idealisme daripada kepentingan pragmatis. Itulah yang seharusnya tetap dijaga oleh aktivis mahasiswa dimanapun berada.

Jalan Sunyi 

Sebagian aktivis mahasiswa 98 menempuh jalan sunyi, menepi dari hingar bingar politik. Dibalik jalan sunyi itu masih ada juga yang bergulat dengan problem kebutuhan hidup sehari-hari. Karena jalan aktivis juga tidak lantas membuahkan pendapatan ekonomi, kemudahan dalam bekerja atau berusaha.

Namun, situasi tersebut masih lebih baik dari nasib para aktivis yang tidak jelas keberadaannya, hidup atau mati seperti Petrus Bima, Suyat, Herman Hendrawan dan lainnya.

Bahkan yang meninggal pun, seperti para mahasiswa Trisakti (Elang, Royan, Hendriawan dan Hery Hartanto), Mozes Gatotkaca di Yogyakarta, sampai sekarang tidak diketahui pembunuhnya. Hingga kini 22 tahun reformasi, bidang gelap itu masih belum terbuka.

Siap untuk dilupakan, itu konsekuensi aktivis seperti halnya seorang pahlawan. Sebagaimana dikemukakan Soe Hok Gie dalam Catatan Harian Seorang Demonstran, “Seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi .” Selamat merayakan bulan Reformasi!

Ichwan Arifin.
Alumnus Pasca Sarjana Undip Semarang,
Mantan Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Semarang

Apa Reaksi Anda?

Komentar