Keluarga Antisipasi Tindak Kriminal

pendidikan keluarga

Hampir setiap hari tindakan kriminal terjadi. Semua terpampang jelas di berbagai media massa mulai cetak sampai elektronik. Pencurian, pembunuhan, pemerkosaan, dan entah apalagi. Pelakunya bukan hanya orang dewasa tapi juga anak-anak usia sekolah.

Pelaku kriminal anak-anak usia sekolah itulah yang sering membuat masyarakat mengelus dada. Tapi tidak perlu dipertanyakan mengapa karena sudah pasti akan memunculkan kambing hitam. Satu hal yang pasti ini adalah salah satu indikasi belum tercapainya tujuan pendidikan nasional.

Tujuan pendidikan nasional sesuai Pasal 3 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Salah satu indikator manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia adalah manusia yang paham akan norma. Norma tersebut salah satunya diajarkan melalui agama. Oleh karenanya untuk menjadikan manusia berakhlak mulia diperlukan pendidikan agama.

Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran atau kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.

Demikian definisi menurut Pasal 1 Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan. Salah satu jalur pendidikan yang dimaksud Pasal ini adalah jalur pendidikan informal.

Jalur pendidikan informal menurut Pasal 1 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Dalam jalur pendidikan ini, orang tua adalah pelaksana utamanya.

Pendidikan agama perlu dilaksanakan dalam keluarga didasarkan beberapa alasan. Berikut ini beberapa alasan yang logis menurut Pasal 5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007.

Pertama, pendidikan agama mendorong peserta didik untuk taat menjalankan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan agama sebagai landasan etika dan moral dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Kedua, pendidikan agama mewujudkan keharmonisan, kerukunan, dan rasa hormat diantara sesama pemeluk agama yang dianut dan terhadap pemeluk agama lain.

Ketiga, pendidikan agama membangun sikap mental peserta didik untuk bersikap dan berperilaku jujur, amanah, disiplin, bekerja keras, mandiri, percaya diri, kompetitif, kooperatif, tulus, dan bertanggung jawab.

Keempat, pendidikan agama menumbuhkan sikap kritis, inovatif, dan dinamis, sehingga menjadi pendorong peserta didik untuk memiliki kompetensi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan atau olah raga.

Dalam melaksanakan pendidikan agama ini orang tua dapat berpedoman pada prinsip tertentu. Berikut ini beberapa prinsip pendidikan menurut Pasal 4 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pertama, pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.

Dalam melaksanakan prinsip ini orang tua harus membimbing anak bahwa nilai-nilai yang dipelajari dalam agama bukan sekedar untuk dihafal. Lebih dari itu harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kedua, pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

Dalam prinsip ini orang tua harus dapat mengarahkan anak bahwa nilai-nilai dalam agamanya harus dipergunakan sebagai pedoman sepanjang hidupnya.

Ketiga, pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

Pada melaksanakan prinsip ini orang tua adalah teladan utama sang anak. Oleh karenanya saat orang tua mengajarkan suatu nilai pada anak maka secara logis orang tua juga harus melaksanakan nilai tersebut.

Keempat, pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Dalam melaksanakan prinsip ini orang tua dapat bekerja sama dengan lembaga lain yang ada di dalam masyarakat seperti pesantren (Islam), pesantrian (Hindu), Pabbajja samanera (Buddha) dan Shuyuan (Konghucu). Tujuan kerja sama tersebut agar anak memperdalam pengetahuan tentang agama yang dianutnya.

Demikianlah keluarga dalam mengantisipasi tindak kriminal. Salah satu caranya dengan memberikan pendidikan agama dalam keluarga.

Menurut Pasal 2 Ayat 1 Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama.

Singkat kata, dengan melaksanakan pendidikan agama sesuai prinsip dan berpedoman pada tujuan akan menghasilkan anak bangsa berakhlak mulia. Jika akhlak itu tertanam dalam jiwa dapat dipastikan tiada lagi tindak kriminal.(ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar