Iklan Banner Sukun

Kegiatan Guru SMP Hang Tuah 1 Surabaya

Surabaya – Guru SMP Hang Tuah 1 Surabaya menyelenggarakan pengembangan profesi (professional development) berupa pelatihan keterampilan berbahasa Inggris untuk komunikasi internasional.

Hal tersebut dilakukan seperti yang tertuang dalam pasal 40 ayat 2 Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pedidikan Nasional yang menyatakan setiap guru wajib mempunyai komitmen secara profesional meningkatkan mutu pendidikan.

Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dinilai penting agar guru-guru dapat berkomukasi dengan orang di luar Indonesia.

Kepala sekolah SMP Hang Tuah 1 Surabaya, Churiya Tul Anifah, S.Pd., menyampaikan bahwa kemampuan bahasa Inggris adalah penting bagi guru untuk dapat mengakses informasi atau referensi dalam bahasa Inggris dan untuk dapat membuka peluang kerjasama dengan lembaga pendidikan di luar negeri.

Kegiatan pelatihan ini terselenggara atas kerjasama antara SMP Hang Tuah 1 Surabaya dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melalui skema pengabdian masyarakat.

Saat penandatanganan nota kesepemahaman (MOU), dekan Fakultas Ilmu Budaya, Drs. Danu Wahyono, M.Hum., mengungkapkan “menjalin kemitraan dengan lembaga lain seperti SMP Hang Tuah 1 Surabaya merupakan langkah yang penting untuk dilakukan guna berjalannya sebuah institusi yang baik”.

Pelatihan bahasa Inggris untuk guru-guru SMP Hang Tuah 1 Surabaya ini dibagi menjadi dua kelas – Pre-Intermediate dan Intermediate, serta diikuti oleh seluruh guru mata pelajaran dan tenaga administrasi.

Salah satu peserta pelatihan di kelas Intermediate, Banu Rudywanta, menuturkan “I think Improving my English skill is important because I can have more opportunities to access information presented in English”, saat ditanya pandangan mereka tentang pentingnya belajar bahasa Inggris oleh salah satu tutor, Dr. Pariyanto, M.Ed., pada pelatihan ini.

“Walaupun usia peserta pelatihan tidak semuda anak kuliah, namun semangat mereka sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan dari keaktifan peserta pelatihan dalam menanggapi percakapan dalam bahasa Inggris dan saat melakukan roleplay dengan peserta lainnya. Mereka berharap keterampilan bahasa Inggris mereka dapat terawat dan dapat diaplikasikan sebaik mungkin”, pungkas Pariyanto. (ted)

Pariyanto
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Apa Reaksi Anda?

Komentar