Antisipasi Bencana Hidro-Meteorologis

Perlunya Kecerdasan Ekologis Berbasis Kearifan Lokal

Untitled
Sisa kebakaran lahan yang terletak di jalur pendakian Gunung Ijen yang menyebabkan banjir bandang di Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember

Manusia telah memasuki era modern dengan kemahiran-kemahiran yang dilakukannya sejak lama. Tidak dapat dipungkiri keberlangsungan hidup dan rutinitasnya  telah membawa dampak buruk yang ditimbulkan terhadap lingkungan.

Alam yang merupakan satu kesatuan sistem, kini semakin kritis. Manusia pada akhirnya memperoleh apa yang ia tanam. Sistem alam yang berubah menjadi ancaman bencana yang setiap harinya menjadi informasi yang kita konsumsi dengan kecepatan yang jauh melebihi daya dukung bumi.

Selama tahun 2018 sampai bulan Januari 2020, Bencana yang terjadi di Provinsi Jawa Timur tercatat sebanyak 691 kejadian yang menimbulkan 33 korban jiwa meninggal dan 622.590 jiwa menderita serta mengungsi.

Kejadian bencana yang  mendominasi berupa bencana banjir dan longsor lahan. Setiap awal tahun Kota Surabaya tidak pernah terlepas dari genangan banjir. Begitu pula dengan Kawasan Wisata Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Bondowoso yang pada musim hujan dilanda banjir bandang.

Bencana yang mendominasi khususnya di Jawa Timur merupakan bencana hidro-meteorologis yang berkaitan dengan perubahan iklim. Bencana yang sering melanda negara kita menjadi pertanyaan sekaligus pembelajaran bahwa bagaimana kita menyikapi berbagai bencana ini.

Jangkauan dan pemikiran manusia terhadap bencana terus menerus berkembang sehingga mengasah kecerdasan ekologis dalam menjawab adaptasi terhadap bencana. Kecerdasan ekologis (Ecological Intelligent) merupakan kemampuan yang dimiliki manusia untuk beradaptasi terhadap wilayah ekologis dimana ia berada.

Kecerdasan ekologis tercermin pada kearifan lokal yang dimiliki suatu wilayah. Kecerdasan ekologis pada diri manusia harus diasah terus menerus, karena kecerdasan ini adalah hal yang tergolong dekat dengan masyarakat.

Selain tercermin pada kearifan lokal (local wisdom), ada juga istilah-istilah seperti pengetahuan lokal (lokal knowledge), budaya lokal (local culture), hingga pengetahuan asli (indigenous knowledge). Semua istilah tersebut merupakan proses pembelajaran masyarakat dalam memahami perubahan-perubahan yang terjedi di sekitar lingkungan mereka.

Kepekaan masyarakat dalam setiap wilayah akan memiliki perbedaan dalam pencapaian local wisdom masyarakat tertentu. Indonesia memiliki banyak sekali kearifan lokal yang bisa kita ambil nilai kehidupannya dalam konteks pengelolaan lingkungan, yaitu salah satunya terdapat di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto disana kearifan lokal berupa upacara “Bersih Desa”. Pada upacara ini masyarakat desa berjalan bersama-sama sambil membawa makanan menuju sumber mata air Claket.

Setelah sampai pada sumber mata air diadakan acara “Selamatan” sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas Karunia-Nya berupa sumber air yang memberi penghidupan seluruh warga. Sehari sebelum diadakan upacara, warga desa terlebih dulu membersihkan dan menanam pohon di sekitar sumber air.

Kegiatan tersebut memiliki pengaruh yang kuat pada dimensi kepada Tuhan, alam dan warga sekitar. Secara khusus dalam hal lingkungan alam akan tetap seimbang. Air bersih akan selalu mengalir dan bencana bandang dapat diantisipasi.

Kearifan lokal di Desa Kemiren Kabupaten Banyuwangi berbentuk penghormatan terhadap situs Buyut Cili. Situs ini merupakan sebuah kompleks makam leluhur/pendiri desa yang dihormati dan disakralkan oleh masyarakat. Bentuk penghormatan yang berkaitan dengan lingkungan adalah ketika warga menebang pohon tidak didahului dengan izin dan selametan maka warga tersebut akan mendapatkan bendu (sanksi dari alam).

Hukuman lain yang berlaku pada setiap warga jika memanfaatkan alam sekitar situs tanpa izin atau permisi, seperti menebang pohon, panen dan memanfaatkan air selain untuk kebutuhan sehari-hari maka akan mendapat sanksi sosial. Masyarakat Desa Kemiren lebih takut terjadinya Bendu daripada mendapatkan sanksi sosial.

Pertanyaan kembali muncul, mengapa didaerah-daerah tersebut tetap mendapat bencana walaupun kearifan lokal tetap berlangsung. Hal ini dikarenakan kecerdasan ekologis tidak dimiliki secara kolektif oleh seluruh masyarakat.

Di pacet maupun di Bondowoso memliki penyebab bencana yang sama, yaitu hutan mengalami alih fungsi lahan. Di Pacet banyak sekali lereng-lereng yang diratakan untuk dibuat perumahan dan villa-villa baru, sedangkan di Bondowoso hulu DAS yang berada di Gunung Ijen ternyata mengalami kebakaran yang secara disengaja untuk membuka lahan baru yang akan ditanami kopi dan perkebunan.

Pengalaman yang melalui proses Panjang tersebut sehingga bisa menjadi kebiasaan masyarakat perlu untuk dilestarikan dan disebarluaskan kepada masyarakat agar sama-sama memahami bahwa pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama demi kelangsungan hidup generasi mendatang.

* Penulis adalah Mahasiswa Magister Manajemen Bencana Universitas Airlangga





Apa Reaksi Anda?

Komentar