Ikon Baru Jembatan Joyoboyo, Saatnya Lokalitas Jadi Andalan di Masa Pandemi

Jembatan Joyoboyo yang akan diresmikan tahun 2021

Surabaya – Jembatan Joyoboyo menjadi hits di penghujung tahun 2020 ini. Sebagian besar warga Surabaya mengabadikan wujud jembatan yang membentang di atas sungai Kalimas di kawasan Wonokromo itu dan mengunggahnya di media sosial.

Jembatan Joyoboyo memang menjadi ikon baru Kota Surabaya. Jembatan dengan panjang 150 meter dan lebar 17 meter, serta tinggi pilonnya 20 meter itu langsung menarik perhatian. Terlebih ada taman dan air mancur yang warna-warni di area jembatan.

Sebenarnya. Jembatan Joyoboyo bukanlah satu-satunya ikon baru kota Surabaya yang ‘lahir’ di tahun ini. Di tahun terakhir masa bakti Wali Kota Tri Rismaharini, Surabaya juga punya Alun- Alun Surabaya dan Museum Olahraga yang jadi ikon baru Kota Pahlawan.

Alun-Alun Surabaya di Balai Pemuda sudah diresmikan Bu Risma, panggilan akrab Tri Rismaharini pada 17 Agustus 2020. Sedangkan Museum Olahraga yang menempati Gelora Pancasila di Jalan Indragiri tinggal menanti seremoni peresmian.

Ikon-ikon baru kota Surabaya itu semua dikebut pengerjaannya agar tuntas di tahun 2020. Alun-Alun Surabaya, Jembatan Joyoboyo dan Museum Olahraga dilahirkan melalui proses pembangunan di masa sulit, masa pandemi Covid-19.

Gerak Terbatas, Andalkan Lokalitas

Pandemi Covid-19 memang sudah merenggut dan membatasi ruang gerak kita. Kebijakan PSBB dan anjuran untuk melakukan segala aktivitas dari rumah membuat kita serasa terkurung. Angkutan umum dibatasi, peraturan ke luar kota dan luar negeri pun hampir mustahil di awal-awal pandemi, dan masih penuh persyaratan di era new normal. Kondisi ini seringkali membuat kita bosan dan jengah.

Keinginan beraktivitas seperti sediakala masih menjadi wacana karena kita masih dibayangi was-was karena kasus Covid-19 tak kunjung melandai bahkan terus meningkat. Namun banyak yang sudah abai karena kejenuhan di era new normal ini. Banyak yang sudah rindu makan-makan dan jalan-jalan bersama.  Bandara-bandara mulai ramai. Di masa-masa libur panjang, hotel-hotel kembali penuh. Tempat-tempat wisata ternama ramai pengunjung.

Kehadiran ikon-ikon baru Kota Surabaya seolah menjadi pelepas dahaga buat warganya yang masih belum berani berwisata keluar kota ditengah kejenuhan. Hal itu menjadi menjadi kado catik akhir tahun bagi warga Surabaya.

Ikon baru itu menjadi hiburan baru bagi warga Surabaya di tengah pandemi Covid-19 yang harusnya bisa menjadi magnet baru bagi warga kota Surabaya untuk betah di rumah. Dengan begitu, harapannya mobilitas warga dibatasi sehingga bisa membantu mencegah penularan Covid-19. Wisata lokal yang instagramble bisa jadi salah satu alternatif cara menghibur masyarakat di kala pandemi seperti.

Dongkrak Citra Via Ikon-Ikon Lokal

Tak hanya memanjakan masyarakat setempat, ikon baru kota Surabaya berupa fasilitas umum dengan tampilan fisik menarik tentunya akan mendukung citra kota Surabaya. Setelah sebelumnya deretan taman disediakan di sudut-sudut kota Surabaya, Alun-Alun Surabaya dan Jembatan Joyoboyo yang dilengkapi sarana air mancur canggih bisa dinikmati warga secara gratis.

Tak bisa dipungkiri, sepanjang masa kepemimpinan Bu Risma, image Surabaya sebagai kota yang bersih dan teduh dengan taman yang asri langsung menempel. Secara perlahan tapi pasti, Pemkot Surabaya selanjutnya mulai membangun ikon-ikon baru kota Surabaya sekaligus memoles sudut-sudut kota. Termasuk kawasan Kota Tua di Surabaya Utara, salah satunya dengan mempercantik Jalan Panggung.

Kota Surabaya sudah memiliki Unique Selling Point dengan keberadaan ikon-ikon baru di beberapa lokasi. Di Alun-Alun Surabaya misalnya, daya tarik berupa air mancur dan kabut air serta tampilan area terbuka di Balai Pemuda sudah bisa jadi magnet.

Apalagi konsep Alun-Alun Surabaya yang membentang di area Bali Pemuda, di bawah Jalan Yos Sudarso dan di persil Jalan Pemuda no 17 itu nantinya juga akan dilengkapi pertunjukan kesenian. Alun-Alun Surabaya yang memiliki luas sekitar 1,4 hektar dengan adanya desain ruang basement ke depan akan memiliki jadwal pertunjukan kesenian tersendiri.

Bu Risma menyatakan nanti akan ada jadwal pertunjukan seperti Ludruk, wayang Orang atau kesenian lain yang jadwalnya akan disusun rapi dan diumumkan. Pertunjukan itu digelar secara terbuka dan warga bisa menikmatinya gratis.

Sementara di Jembatan Joyoboyo, warga bisa menikmati air mancur dan replika pohon dengan lampu warna-warni yang dibangun di area taman jembatan. Juga ada menara pandang di tengah-tengah jembatan ikonik itu. Warga Surabaya akan bisa melihat dan menikmati suasana Surabaya.

 

Bu Risma mengatakan Jembatan Joyoboyo didesain khusus karena fungsinya tidak hanya jembatan semata, namun juga akan menjadi wahana baru untuk warga Kota Surabaya yang ingin berekreasi.

“Jadi, ini bukan hanya sekadar jembatan, tapi juga bisa menjadi salah satu ikon Surabaya untuk berekreasi,” kata Risma.

Proyek jembatan bernilai Rp39 miliar itu kini sudah bisa dinimati warga meski belum diresmikan. Sebagai kota terbesar kedua setelah Ibu Kota, Jakarta, Surabaya juga tak lepas dari upaya membangun image atau pencitraan melalui kondisi kota dari sudut kekinian. Ikon baru Kota Surabaya berupa spot-spot menarik, dimunculkan oleh warga kota maupun pendatang di media sosial. Hal ini tentunya membangun citra kota Surabaya dengan sendirinya.

Ajeng Pintoharjanti

Menurut Frank Jeffkins (Nova, 2011:298), bahwa secara umum citra diartikan sebagai kesan seseorang atau individu tentang sesuatu yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya.

Demikian halnya citra Kota Surabaya yang teduh dan nyaman bagi warga, bukan hanya dibangun melalui media massa dan kekuatan warganet melalui media sosial saja. Tapi citra itu menjadi identitas yang menguat karena mayoritas masyarakat mendapatkan pengalaman langsung saat menikmati kondisi kota Pahlawan.

Citra surabaya yang sejuk dan nyaman dan ramah bagi warga tentunya bisa menjadi magnet bagi kunjungan wisata dan bisnis. Tapi bila memandang dari perspektif kondisi pandemi Covid-19 saat ini, citra itu justru berlaku intern. Harapannya, warga Surabaya tetap betah tinggal di rumah, tetap berada di kota Surabaya dan sebisa mungkin tidak bepergian ke luar kota.

Ya, kehadiran ikon-ikon baru Kota Surabaya yang menarik bisa menjadi magnet bagi warga Surabaya sendiri untuk bisa berekreasi di ‘rumah sendiri’. Tak perlu ke luar kota untuk melepas penat dan refreshing karena ancaman penyebaran virus Corona. Tak perlu ke luar kota karena Surabaya punya tempat-tempat sejuk dan menarik yang bisa dikunjungi gratis untuk berekreasi.

Tetap menerapkan protokol kesehatan dan tidak bepergian dulu dengan harapan bisa mengurangi risiko penularan Covid-19 . Bagi warga Surabaya yang mau rekreasi bersama keluarg ? untuk sementara, selama pandemi Covid-19 bisa berkunjung saja ke salah satu ikon menarik kota Surabaya, Gratis …

 

Ajeng Pintoharjanti
Pelaku Komunikasi Yang Rindu Pulang Ke Surabaya

 

 



Apa Reaksi Anda?

Komentar