Gotong Royong Desa Tanon Kecamatan Papar Kediri Hadapi Pandemi

Warga Desa Tanon Gotong Royong Hadapi Pandemi Covid-19

Tidak penting apapun agama atau sukumu.. kalau kamu bisa melalukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu…

Gus Dur

Pluralisme atau harmonisasi dalam perbedaan membuktikan telah menjadi tonggak sejarah berdirinya Negara Kesatuan RepubliK Indonesia. Berdirinya berbagai organisasi priyayi saat itu, mulai Boedi Oetomo, Syarekat Dagang Islam, hingga Sumpah Pemuda menuju Republik Indoneia adalah manifestasi dari sejarah pluralisme Negara Indonesia .

Dalam perjalanan berpuluh-puluh tahun Negara ini hingga saat ini masih mampu berdiri kokoh adalah karena adanya harmonisasi dari perbedaan mulai Sabang sampai Merauke.

Dalam menghadapi situasi pandemi yang serba kontradiktif, kemanusiaan dan pluralisme menjadi isu sentral dalam berkolektifitas dan bersolidaritas  hidup masyarakat hari ini.

Kita melihat betapa dampak pandemi yang mengglobal telah meluluh lantakkan sendi-sendi sosial, ekonomi serta psikologis sosial. Problema kemanusiaan menjadi su sentral hari ini, batasan kepercayaan, kesukuan sudah tidak bersekat lagi dalam menghadapi pandemi covid 19, dan memang seharusnyalah begitu.

Kita lihat dalam lintasan berita dunia, bagaimana negeri Beruang Merah- Rusia membantu Paman Sam  yang notabene musuh bebuyutan mereka, bagaimana di jazirah Timur Tengah, tidak jauh berbeda kita menyaksikan Israel membantu Palestina yang selalu berperang sejak era nabi-nabi pasca Ibrahim.

Kusnadi, Kades Tanon Kecamatan Papar

Problema kemanusiaan yang menggerakkan kedua Negara bebuyutan tersebut untuk bersolidaritas dan berempati.

Menghadapi situasi yang serba kontradiktif ini sangat diperlukan sekali dorongan-dorongan dan inisiasi dari public dalam berempati dan bersolidaritas, sehingga tidak ada lagi rakyat misisin yang tidak mendapat bantuan kemudian teriak-teriak karena tidak mampu membeli beras dan mungkin terpaksa mencuri karena harus dipaksa situasi untuk menghidupi keluarganya.

Bersolidaritas Atas Dasar Nilai Humanisme dan Perbedaan Keyakinan Religius

Negara ini berdiri atas perbedaan suku,ras,dan kayakinan religius, tentunya akan menjadi isu sentral dan menjadi kerentanan sosial (pemicu konflik sosial), ketika perbedaan tidak dipelihara dengan baik dalam menghadapi situasi pandemi ini.

Faktor ekonomi dan kecemburuan sosial bisa menjadi pemicu utama  konflik sosial, akan tetapi yang lebih membahayakan ketika kondisi masyarakat sudah pada titik nadir , maka akan dipolitisir dengan dalih agama dan kesukuan.

“Perjalanan sejarah Negara ini mencatat bahwa isu suku,agam ras telah menjadi pemicu konflik sosial, kita ingat bagaimana krisis 65 hingga 98 yang dimulai dari krisis ekonomi kemudian dipolitisir oleh beberapa pihak menjadi isu SARA, banyak penjarahan yang dilakukan oleh warga pribumi terhadap warga keturunan, ini harus diantisipasi sejak dini oleh Negara dan semua pihak,” tandas Nu’manut Tamim,relawan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Kediri.

Berpijak dari kondisi dan kultural kolektif desa yang sangat beragam, Desa Tanon Kecamatan Papar Kabupaten Kediri yang terdiri dari berbagai keyakinan diantaranya Islam,Hindu,Katolik,Protestan, Kejawen, maka Kepala Desa Tanon, Kusnadi bersama BumDesa, kelompok tani serta kelompok pembudidaya ikan dan toga tomas  menginisiasi untuk melakukan hal kecil tentang bersolidaritas kepada warga desa yang terdampak covid 19.

Kami melakukan inisiasi ini, karena bantuan dari pemerintah tidak akan mampu mencover semua warga desa kami yang berdampak covid 19. Di sisi lain kami mengajarkan kepada rakyat Desa Tanon untuk saling peduli dan bersolidaritas dalam menghadapi pandemi tanpa melihat keyakinan kita yang berbeda-beda.

“Untuk itulah kami kemudian berkoordinasi dengan semua tokoh agama dari keyakinan yang berbeda dan kemudian bersepakat bersama untuk mengadakan bansos kepada rakyat desa kami,”tegas Kusnadi.

Solidaritas adalah kunci kita terlepas dari situasi pandemi yang serba kontradikitf ini. Tidak perlu muluk-muluk dalam menafsirkan solidaritas dan kepedulian kita dalam menghadapi pandemi ini,

“Kami memaknai solidaritas dengan bergotong royong, bekerja bersama-sama, tolong menolong, dimana dalam berkegiatan itu disadari kesadaraan semua pihak yang berbeda tentunya dalam keyakinan religiusnya,” ujar Nu’manut Tamim DKR Kediri.

Oleh karena itu memaknai gotong royong  dan pluralisme dalam cara pandang kami adalah dengan melakukan serangkaian tindakan kecil seperti membantu lingkungan sekitar yang kekurangan logistik tanpa memandang agama dan keyakinan  yang mereka anut, saling berdonasi bersama untuk dibagikan  kepada warga kami yang membutuhkan (beras, ikan segar, masker,handsanitizer,desinfektan), juga untuk saling mengingatkan dan memberi edukasi kepada rakyat desa tentang pola hidup sehat dan bersih, bagaimana menjaga diri agar tidak terpapar virus covid, serta mengaktifkan kembali siskamling untuk menjaga keamanan bersama,karena dampak dari penerapan socialdistancing dan PSBB di banyak daerah memicu kriminal, tegas Tamim.

Kemarin tepat tanggal 19 mei 2020, pemerintah desa dan tokoh agama dari berbagai keyakinan yang ada di Desa Tanon mengadakan bakti sosial kepada 614 warga desa yang berdampak covid,mulai dari warga yang pekerjaannya hilang untuk sementara waktu, pengurus 4 tempat ibadah, anak yatim dan mereka yang tidak tercover skema bansos Pemerintah.

Langkah strategis  ini sangat penting dalam menjaga keharmonisan rakyat desa kami dalam situasi yang serba sulit ini dan kedepan pasca pandemi ini berakhir, begitu yang disampaikan Kepala Desa Tanon- Kusnadi.

“Kedepan kami berharap solidaritas yang kami bangun ini bisa  ditingkatkan hingga kondisi Negara benar-benar normal dan sehat, serta  semoga menjadi inisiasi bagi desa-desa lain, bahwa solidaritas dan kolektifitas dalam perbedaan adalah kunci pokok kita terlepas dari pandemi covid 19,” pungkas Nu’manut Tamim.(ted)

 

Apa Reaksi Anda?

Komentar