Iklan Banner Sukun

DKK Malang Gelar Seminar Peningkatan Mutu Berkesenian

Tari Oyeg-Oyeg, Pembukaan Acara DKK Malang

Malang – “Ketika sebuah kelompok seni pertunjukan selalu dihadiri penonton yang setia, ini menunjukkan bahwa tontonan tersebut telah mampu menjadi tuntunan bagi penggemarnya.” Begitu kata Robby Hidayat dalam Seminar Peningkatan Mutu Berkesenian Berbasis Tontonan dan Tuntunan Dalam Rangka Perwujudan Malang Makmur yang Berbudaya.

“Tetapi kalau yang menonton hanya teman-teman sendiri hanya sebagai penghormatan, itu namanya hanya ngguyupi.” Lanjut Robby yang berprofesi sebagai pengajar di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang itu.

Seminar yang diadakan 12 Juni 2022 di Hotel Cakra, Turen-Malang, itu merupakan kegiatan ke dua Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM) sejak dikukuhkan pada akhir 26 Mei 2022.

Suroso, Ketua DKKM, pada kesempatan itu mengatakan bahwa acara ini bertujuan membekali para pelaku kesenian di Kabupaten Malang agar mampu mewujudkan visi misi Pemerintah Kabupaten Malang yaitu Malang Makmur.

Sedang Mochammad Saiful Effendi, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, dalam paparannya mengatakan bahwa seni budaya memang seharusnya mempengaruhi perkembangan industri pariwisata yang berbasis budaya.

Saling pengaruh antara seni budaya dan industri wisata ini, lanjut Saiful, akan menjadi politik pemerintah dalam menentukan program pembangunan yang ujungnya adalah alokasi anggaran belanja Pemerintah Kabupaten Malang.

Sementara Tutik Yunarni, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Malang, menekankan bahwa pembahasan seni budaya dan pariwisata ini berkait erat dengan ketenagakerjaan. Itu sebabnya kerjasama lintas sektoral perlu dilakukan.

“Kelompok seni budaya semestinya bisa bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang merupakan lembaga perekonomian yang ada di desa-desa.” Begitu ia mencontohkan.

Berkait dengan anggaran pemerintah, Anwar Supriyadi yang menjadi Pelaksana Tugas Dinas Pariwasata Kabupaten Malang, mengingatkan bahwa kelompok-kelompok kesenian di Kabupaten Malang harus menata organisasinya secara profesional. Hal ini berkait tertib administrasi dalam pengucuran anggaran pada kelompok kesenian. Selain susunan pengurus, kata Anwar, ada juga soal keharusnya memiliki Nomer Induk Kesenian dan NPWP.

Salah Satu peserta, Kelompok Perempuan Berkebaya dan Bersanggul, Dampit-Malang

Dengan profesionalisme organisasi kelompok kesenian tersebut, tegas Anwar, DKKM diharap bisa menjadi tandem kerja Dinas Pariwisata Kabupaten Malang. Maka, katanya lagi, jangan sampai ada tuduhan bahwa yang mendapat fasilitas hanya kelompok tertentu saja.

Dalam upaya meningkatkan kualitas berkesenian, Cokro Wibowo Sumarsono, Ketua Bidang Organisasi DKKM, dalam paparannya mengatakan bahwa seniman tidak boleh anti kritik. Tak terkecuali seni tradisional, kritik seni sangat dibutuhkan agar menjadi lebih baik.
Di sisi lain, seniman tradisi harus terlibat pula dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrebang) di desa-desa maupun kecamatan agar kesenian tidak tertinggal dalam program-program desa.

“Para pelaku kesenian juga harus terlibat dalam pembentukan atau kegiatan Lembaga Adat Desa (LAD) yang sudah menjadi program pemerintah.” Pesan Cokro.

Seminar tersebut dihadiri perwakilan dari 33 kecamatan se Kabupaten Malang juga organisasi pemuda serta muspika setempat. Acara yang diawali dengan Tari Oyeg-Oyeg karya Ki Soleh Adi Pramono berlangsung hingga siang hari diwarnai udara mendenga dan hujan deras. (far/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev