Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu Berencana Rangkai Wisata Sejarah Purbakala

IMG-20190628-WA0030
Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Jumat (28/6/2019)

Batu (beritajatim.com) – Banyaknya peninggalan prasejarah yang ada hampir di seluruh desa-desa Kota Batu membuat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan ingin merangkainya menjadi paket wisata sejarah purbakala.

Seperti contohnya di desa Sumbergondo yang direncanakan menjadi desa wisata sejarah berkat terdatanya reco-reco dan punden yang sampai saat ini masih dipergunakan warga untuk ritual selametan desa, pertapaan, dan pemujaan.

“Kita sudah mendata reco dan punden-punden batu yang ada di desa Sumbergondo dan desa-desa lainnya dari tahun 2010 hingga sekarang yang berjumlah ratusan karena setiap desa dan dusun punya punden sendiri-sendiri. Untuk desa Sumbergondo sendiri kurang lebih ada 35 punden, yang besar ada dua yaitu punden Amartani dan Punden Cemoro Doyong”, ungkap Nurad (43) Seksi Sejarah Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu, Jumat (28/6/2019)

Artefak-artefak sejarah yang telah diketemukan tersebut selanjutnya akan dilakukan proses eksvakasi tujuannya untuk menentukan usia artefak tersebut. Caranya dengan melihat bentuk dan ciri-ciri artefak tersebut, seperti gaya pembuatannya, jenis batuannya, ornamennya, pernak-perniknya. Artefak yang berhasil di identifikasi tersebut biasanya mengacu ke masa-masa kerajaan entah Majapahit, Singosari, dll.

“Melakukan proses eksvakasi tersebut gak boleh sembarangan mas, kita bekerjasama dengan BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Trowulan Mojokerto. Mereka lembaga yg berwenang dalam menggali situs-situs peninggalan prasejarah. Jadi kalau kita asal gali saja namanya eksvakasi liar, sebaiknya harus dihindari”, imbuhnya.

Nurad (43) juga mengatakan bahwa untuk membuat wisata sejarah harus mempertimbangkan berbagai aspek, seperti infrastrukturnya, akses jalannya, penjaga/kuncennya. Untuk saat ini artefak-artefak yang ada di Desa Sumbergondo masih dalam tahap pemagaran dan pavingisasi sebagai tindakan preventif dari pihak-pihak yang kurang bertanggungjawab.

Beliau berharap agar warga masyarakat Batu dan para pengunjung bisa lebih menjaga dan melestarikan warisan budaya tersebut. Harapan untuk Kota Batu sendiri, ingin menjadikan Kota wisata terpadu. Maksudnya bukan hanya menjual wisata artificial seperti Jatimpark, namun juga memaksimalkan desa-desa wisata dan sejarah yang tersebar di Kota Batu ini.[ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar