Debat Pilkada, QA dan NIAT Belum Lirik Gresik Selatan

Pasangan calon (Paslon) M.Qosim-Alif (QA) dan Pasangan Calon (Paslon) Fandi Akhmad Yani-Aminatun Habibah (NIAT) saat debat pertama Cabup-Cawabup Gresik

Menyaksikan debat pilkada Gresik 2020 tahap pertama semalam sungguh menyisakan sebuah
kekecewaan. Betapa tidak, kedua pasangan calon bupati dan calon wakil bupati Kabupaten Gresik dalam debat semalam belum membumi.

Ada banyak persoalan yang luput dari pandangan para cabub dan cawabup kedua kubu. Padahal tema debat yang pertama ini adalah tema yang sangat krusial yakni menyelesaikan Persoalan Daerah Meningkatkan Pelayanan dan Kesejahteraan Masyarakat.

Jika kita kupas satu persatu tema debat semalam, dalam hal Menyelesaikan Persoalan Daerah ada
banyak hal yang tak terjawab dari kedua paslon, seperti: Kemacetan “Abadi” di Legundi yang selalu menghiasi laporan masyarakat di salah satu radio swasta Surabaya.

Masyarakat Gresik Selatan sudah sangat resah dan sangat terganggu aktivitasnya dengan persoalan ini, tapi kedua kubu tidak memiliki perasaan yang sama dengan masyarakat Gresik selatan.

Maklum kedua kubu paslon tidak ada satupun yang berasal dari Gresik selatan. Sehingga tidak memiliki chemistri yang sama.

Selain itu ketimpangan pembangunan infrastruktur antara Gresik utara, Gresik Kota dan Gresik selatan juga menjadi persoalan yang tidak pernah menjadi fokus untuk diselesaikan bagi kedua paslon.

Meskipun Gresik selatan (Wringinanom, Driyorejo, Kedamean dan Menganti) bisa menghasilkan 28,69 Miliar/tahun (data BPS 2019) ternyata belum cukup membuat kedua paslon fokus mengembangkan Gresik selatan.

Jalan-jalan yang rusak, sempit, debu, polusi udara, limbah industri dan seabreg permasalahan yang butuh penanganan cepat. Tidak ada pasar baru, bahkan sekolah dan tempat ibadah banyak yang mangkrak.

Dalam hal kesejahteraan Masyarakat, kedua pasangan paslon masih belum mampu mensinergikan
industri-industri yang menjamur di Gresik untuk mendorong tumbuhnya UMKM di Gresik.

Pengusaha UMKM masih berjuang sendiri dalam mengembang tumbuhkan usahanya. Padahal dana-dana Corporate Social Responsibility (CSR) bisa digunakan untuk mendorong pengusaha UMKM di Gresik.

Bukannya berusaha mensinergikan justru solusi para paslon malah menggelontorkan dana dari APBD untuk membantu mereka. UMKM butuhnya bukan hanya disuntik modal namun membantu pemasaran produk mereka itu jauh lebih penting untuk keberlangsungan mereka.

Dampak dari banyaknya Industri di Gresik belum dirasakan manfaatnya sepenuhnya oleh
masyarakat Gresik. Justru banyak kita jumpai masyarakat yang mengganggur yang tinggal di sekitar Industri itu berdiri.

Munculnya banyak industri tidak disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena masyarakat hanya menjadi buruh-buruh di pabrik itu, dan tak pernah bisa menjadi leader centre.

Ironis memang, tapi itulah potret dinamika kehidupan masyarakat Gresik dari tahun ke tahun dan dari Bupati satu berganti ke Bupati yang lainnya.

Secara keseluruhan dari pemaparan visi dan misi kedua paslon semalam ibarat “jauh panggang dari api”. Ibarat jargon kampanye yang menina bobokkan para pemilihnya. Nasehat kami kepada kedua paslon “Imam (pemimpin) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari.) jadi semua rakyat Gresik akan meminta pertanggung jawaban Anda kelak di yaumil akhir atas kepemimpinan Anda di Kabupaten Gresik.

Haris Islam,
Direktur, Pusat Utilitas Data dan Analisa Kebijakan Kabupaten Gresik (PUDAK Gresik)





Apa Reaksi Anda?

Komentar