Iklan Banner Sukun

Apakah Pecandu Narkoba Dapat Dipulihkan dengan Rehabilitasi?

Demi wujudkan generasi yang terbebas dari narkoba, Pemerintah terus melakukan pencegahan, pemberantasan dan penanganan penyalahgunaan narkoba atau narkotika. Rehabilitasi narkoba menjadi salah satu penanganan penting bagi pecandu narkoba di Tanah Air.

Dalam UU nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, penanganan narkotika mulai berubah. Jika semula menekankan pada penindakan hukum, yakni penjara bagi pecandu maupun pengedar, dalam undang-undang, penanganannya beralih ke rehabilitasi.

Tahapan pertama yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) adalah rehabilitasi medis. Tujuannya agar pemakai atau pecandu lepas dari pengaruh dan ketergantungan narkoba.

Ketika tahap rehabilitasi medis untuk memutus ketergantungan pada zat adiktif berhasil dilalui, maka akan masuk tahap kedua yakni rehabilitasi sosial atau therapeutic communities. Dalam rehabilitasi ini dilakukan penanaman sikap serta dukungan moral dan sosial, agar mantan pecandu bisa kembali mandiri, produktif dan melakukan fungsinya di keluarga, lingkungan dan masyarakat.

Apakah pecandu narkoba bisa dipulihkan dengan rehabilitasi?
Pecandu narkoba perlu direhabilitasi untuk menghentikan ketergantungan. Pengertian rehabilitasi adalah cara untuk membantu seseorang agar bisa pulih dari penyakit kronis, baik fisik maupun psikologisnya. Bagi yang belum mengetahui apa itu rehabilitasi narkoba, ini merupakan upaya yang dilakukan untuk menghentikan ketergantungan obat-obatan terlarang.

Proses rehabilitasi narkoba pun tidak sederhana. Kecanduan narkoba adalah penyakit yang kronis, di mana penderitanya tidak bisa secara langsung berhenti mengonsumsi narkoba dalam hitungan hari.
Dalam kebanyakan kasus, pecandu harus menjalani rehabilitasi narkoba dalam jangka panjang. Mulai dari tahap awal (detoksifikasi) hingga dinyatakan sembuh dari ketergantungan.

Mengenai berapa lama rehabilitasi narkoba, para pecandu biasanya butuh sedikitnya 28 hari hingga 1 tahun untuk pulih, bergantung tingkat keparahan kecanduannya hingga respons tubuh pasien dalam menerima pengobatan.

Pada dasarnya, rehabilitasi bukan hanya bertujuan membuat penggunanya berhenti memakai narkoba. Rehabilitasi juga bertujuan memastikan orang tersebut bebas narkoba seumur hidup, serta kembali melakukan hal-hal produktif di dalam keluarga hingga lingkungan sekitarnya.

Pada pasal 54 dalam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Pecandu narkoba wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarga kepada Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL), seperti pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk pemerintah untuk mendapatkan pengobatan atau perawatan melalui rehabilitasi.

Selain melapor ke IPWL, pecandu juga bisa melapor dengan cara mendaftarkan diri dan mengisi formulir secara lengkap pada situs resmi Sistem Informasi Rehabilitasi Indonesia (SIRENA) miliki BNN. Pecandu narkotika yang telah melaporkan diri maupun dilaporkan oleh orangtua atau wali tidak akan dituntut pidana.

Pilih Pusat Rehabilitasi yang Dapat Membantu Keluar Kecanduan Secara Total
Narkoba masih menjadi masalah serius yang dihadapi Indonesia. Dikutip dari Indonesian Drugs Report 2022, paparan narkoba pada kelompok umur 15-24 dan 50-64 tahun masih terus meningkat. Diketahui, prevalensi pengguna narkoba dengan usia umur 15-24 tahun dan 50-64 tahun pada 2019 masing-masing berada di angka 1,8 persen dan 1,96 persen. Namun pada 2021, angka tersebut mengalami kenaikan dengan persentase masing-masing 1,96 persen dan 2,17 persen.

Untuk menekan prevalensi pengguna dan pecandu narkoba, diperlukan perhatian khusus dari semua elemen masyarakat. Utamanya, dalam hal rehabilitasi narkoba.

Guna membantu para pecandu untuk lepas dari jeratan narkotika, zat psikotropika, dan obat terlarang tersebut, pusat rehabilitasi narkoba swasta Ashefa Griya Pusaka menghadirkan program rehabilitasi melalui program Individual Treatment.

Program rehabilitasi narkoba di Ashefa Griya Pusaka dilakukan oleh tenaga profesional yang bersertifikasi, selain itu masing-masing pasien juga akan mendapatkan terapi dengan metode Individual Treatment Plan secara eksklusif. Layanan yang tersedia di Ashefa Griya Pusaka meliputi rehabilitasi secara medis dan rehabilitasi secara sosial terhadap pasien.

Di Ashefa Griya Pusaka, pasien akan mendapatkan program rehabilitasi narkoba yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien berdasarkan hasil asesmen awal yang telah dilakukan sebelumnya. Beberapa program yang tersedia di Ashefa Griya Pusaka diantaranya adalah Program Rawat Inap (minimal 3×28 hari), Program Rawat Jalan Intensif, dan Program Rawat Jalan Reguler.

Sementara untuk pemilihan layanannya, terdapat empat pilihan layanan yang terdiri dari layanan Suite, VVIP, VIP, dan Executive. Disamping layanan yang profesional dan lengkap yang disediakan oleh Ashefa Griya Pusaka ini, kuatnya keinginan dari pasien untuk dapat pulih kembali serta dukungan semangat dari keluarga dan kerabat agar pasien dapat meraih pemulihannya juga berpengaruh besar.

Peran Penting Masyarakat Dalam Rehabilitasi Sosial
Dalam menjalankan rehabilitasi sosial, peran masyarakat sangat dibutuhkan agar para mantan pecandu narkoba tidak kembali kambuh atau relaps menggunakan narkoba. Beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat dalam rehabilitasi sosial terhadap mantan pecandu di antaranya:

1. Berikan Dukungan
Lepas dari ketergantungan narkoba adalah perjuangan berat yang harus ditempuh pecandu untuk bisa sembuh. Maka dari itu dukungan dari masyarakat sangat diperlukan. Bantulah mereka saat membutuhkan pertolongan dan dengarkan saat ia ingin bercerita atau ‘curhat’.

2. Tunjukkan Empati
Ingatlah bahwa mantan pecandu juga manusia yang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Terimalah mantan pecandu yang sungguh-sungguh ingin sembuh dengan tangan terbuka, tanpa menghakimi dan menyudutkan perilaku mereka di masa lalu.

Tunjukkan bahwa Anda ada untuk mereka. Jika mereka adalah orang terdekat kita, maka jadilah teman terbaik untuk mereka dan ajak untuk sering beraktivitas positif.

3.Hapus Stigma Negatif
Stigma negatif bisa mempersulit mantan pecandu untuk diterima masyarakat. Selain itu, juga akan menempatkan psikologi mantan pecandu dalam kondisi tertekan, sehingga memicu mereka kembali ke lingkungan lama dan menjerumuskan kembali ke narkoba. Singkirkan sejenak stigma negatif dan bantu mereka dengan hal-hal positif yang membangun.

Itu tadi 3 hal yang harus dilakukan keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitar untuk membantu para pecandu narkoba keluar dari belenggu narkoba.


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev