Apakah Kelas Daring Bisa Menggantikan Kelas Tatap Muka Secara Langsung?

Foto: Ilustrasi Kelas Daring

Semester baru akan kembali dimulai. Beberapa bulan yang lalu, kabar tentang penggunaan sistem hybrid dalam perkuliahan sempat ramai dibicarakan. Sistem pembelajaran hybrid adalah perpaduan antara pembelajaran luring dan daring.

Beberapa kampus bahkan sudah mengeluarkan keputusan resmi untuk mulai menjalankan sistem pembelajaran hybrid ini di semester ganjil 2021. Namun nampaknya rencana tersebut masih harus ditunda.

Angka penderita Covid-19 naik kembali dengan drastis dan demi alasan keselamatan, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diterapkan secara nasional. Mau tidak mau kegiatan pembelajaran daring harus kembali dilakukan.

Pandemi Covid-19 nyatanya telah mengubah tatanan kehidupan dan budaya berbagai organisasi. Sebelum pandemi, kegiatan pembelajaran dilakukan secara tatap muka, pendidik dan peserta didik hadir bersama-sama di kelas.

Namun untuk meminimalisir kontak fisik, kegiatan tersebut kini dilakukan secara daring dengan bantuan bermacam-macam aplikasi. Sebut saja Zoom dan Google Meet. Dua aplikasi tersebut adalah aplikasi konferensi video yang saat ini banyak digunakan oleh institusi pendidikan di Indonesia, terutama pada tingkat perguruan tinggi, khususnya untuk kelas-kelas daring sinkronus.

Sinkronus adalah metode pembelajaran jarak jauh yang mengharuskan pendidik dan peserta didik untuk hadir di waktu yang bersamaan. Walaupun bersifat maya, di kelas yang memanfaatkan metode ini, dosen dan mahasiswa dapat berinteraksi secara langsung seperti halnya kelas tatap muka biasa.

Namun apakah penggunaan aplikasi konferensi video dalam perkuliahan dapat menggantikan peran kuliah secara tatap muka langsung? Pada studi-studi awal yang dituangkan oleh Short, William, dan Christie dalam buku The Social Psychology of Telecommunications (https://www.worldcat.org/title/social-psychology-of-telecommunications/oclc/2585964) (1976), dijelaskan bahwa komunikasi yang termediasi secara digital dianggap kurang personal dan lebih berorientasi pada distribusi informasi saja jika dibandingkan dengan komunikasi tatap muka.

Hal ini dikarenakan komunikasi yang termediasi secara digital memiliki keterbatasan saluran yang menyebabkan isyarat sosial tidak tersampaikan. Saluran yang dimaksud di sini adalah bentuk penyampaian informasi, bisa berupa suara, visual, atau tulisan.

Sebagai contoh, saluran yang digunakan telepon, voice-mail, atau jenis konferensi suara lainnya adalah bunyi. Informasi hanya ditangkap melalui indera pendengaran, dengan kata lain isyarat verbal hadir, namun isyarat visual tiada.

Jumlah saluran yang digunakan dalam setiap media komunikasi akan mempengaruhi tingkat kehadiran sosial penggunanya. Semakin banyak jumlah saluran yang digunakan, maka tingkat kehadiran sosial akan semakin tinggi.

Kehadiran sosial mengacu pada sejauh mana seseorang memandang kehadiran peserta komunikasi dalam proses komunikasi yang sedang terjadi. Caspi dan Blau dalam tulisannya yang berjudul “Social Presence in Online Discussion Groups: Testing Three Conceptions and Their Relations to Perceived Learning” (https://link.springer.com/article/10.1007/s11218-008-9054-2) (2008), percaya bahwa kehadiran sosial penting dalam pendidikan berbasis online karena hal tersebut menentukan iklim pembelajaran.

Sedangkan  (1976), Short, William, dan Christie (1976) masih dalam bukunya The Social Psychology of Telecommunications, menegaskan bahwa komunikasi termediasi secara digital dianggap memiliki tingkat kehadiran sosial yang lebih rendah dibandingkan komunikasi tatap muka karena isyarat nonverbal atau paraverbal dan karakteristik status setiap individu tidak dapat ditransmisikan. Isyarat nonverbal contohnya adalah gestur, mimik wajah, ekspresi mikro, sedangkan isyarat paraverbal misalnya seperti intonasi dan nada suara.

Komunikasi yang termediasi secara digital menggunakan bantuan aplikasi konferensi video tidak dapat menghadirkan tanda atau isyarat nonverbal secara penuh seperti pada pertemuan tatap muka langsung. Isyarat verbal bisa hadir, namun sebagian atau seluruh isyarat nonverbal dan paraverbal bisa saja hilang, seperti jika peserta pertemuan virtual mematikan kamera. Dosen akan kesulitan untuk melihat gestur dan mimik wajah mahasiswa, apalagi jika mahasiswa tersebut hanya diam saja dan menolak untuk ikut ke dalam diskusi. Ikatan emosional yang diharapkan terbentuk seperti pada kuliah tatap muka langsung, bisa jadi sulit terbentuk.

Hilangnya isyarat membuat komunikasi menjadi lebih lambat dan terkadang bagi beberapa individu, informasi yang disampaikan menjadi lebih sulit dipahami. Misalnya dalam penyampaian informasi secara tatap muka langsung membutuhkan waktu 5 menit, namun jika termediasi secara digital, maka waktu yang dibutuhkan untuk menyampaikan informasi secara utuh akan lebih dari 5 menit. Seringkali infomasi juga mengalami delay atau keterlambatan untuk sampai kepada penerima pesan. Apalagi jika mengingat koneksi jaringan internet di Indonesia yang seringkali tidak stabil.

Walther dalam artikel jurnalnya yang berjudul “Relational Aspects of Computer-Mediated Communication: Experimental Observations over Time” (https://pubsonline.informs.org/doi/abs/10.1287/orsc.6.2.186)  (1995), menjelaskan bahwa hilangnya isyarat ini dapat diatasi dengan memberikan waktu lebih lama pada proses komunikasi termediasi secara digital. Dengan menggunakan waktu yang lebih lama untuk bertukar informasi, akan dapat membentuk kesan pribadi sehingga relasi secara emosional juga akan berkembang. Dengan melakukan hal tersebut, Walther menganggap bahwa komunikasi yang terjadi baik dalam pertemuan luring ataupun daring adalah sama, tak terkecuali pada pertemuan virtual dengan bantuan aplikasi konferensi video.

Di lain sisi, menurut pandangan Sproull dan Kiesler dalam buku Connections: New Ways of Working in the Networked Organization (https://books.google.co.id/books?id=xAviIJ-D-1EC&printsec=frontcover#v=onepage&q&f=false) (1991), mereka yang menggunakan komputer atau media digital lain untuk berkomunikasi, menunjukkan perilaku yang lebih bebas ketimbang mereka yang berkomunikasi langsung secara tatap muka.

Hal ini menyebabkan pada beberapa kasus khusus, para mahasiswa cenderung lebih aktif dalam perkuliahan daring dibanding perkuliahan luring. Beberapa mahasiswa lebih suka bertanya dan mengajak dosen untuk berdiskusi pada kelas-kelas daring. Juga beberapa kasus lain, bagaimana mahasiswa dengan bebas mengobrol mengenai topik lain di luar mata kuliah menggunakan fitur chat di aplikasi zoom atau menggunakan filter animasi untuk mempercantik tampilannya di konferensi video seperti topi atau kacamata. Atau juga menggunakan background video yang seringkali mendistraksi fokus belajar. Walaupun tidak ada larangan dalam melakukan hal-hal tersebut (kecuali jika memang sudah tertulis di kontrak belajar), namun hal tersebut tidak terjadi pada kelas tatap muka langsung.

Jika dibandingkan dengan media pembelajaran lain seperti Google Classroom atau email, aplikasi konferensi video seperti Zoom dan Google Meet memiliki tingkat kehadiran sosial yang lebih besar. Tapi pertemuan virtual ini tidak sepenuhnya dapat menggantikan pertemuan tatap muka langsung. Meski Walther berpendapat bahwa pada akhirnya komunikasi yang dilakukan secara luring maupun daring adalah sama, namun tetap tidak bisa dianggap sama jika mengingat ketiadaan isyarat dan bagaimana harus lebih banyak waktu dipergunakan untuk mentransmisikan informasi yang sama. Bertatap muka secara virtual tentu berbeda rasanya dengan bertatap muka secara langsung.

Pertemuan virtual dapat dijadikan sebagai alternatif komunikasi dengan beberapa penyesuaian agar perkuliahan dapat tetap berjalan di masa pandemi ini. Dosen dan mahasiswa setidaknya harus bisa mengoperasikan aplikasi konferensi video.

Tidak harus mahir, dosen setidaknya mampu memanfaatkan fitur-fitur dasar yang disediakan oleh aplikasi konferensi video tersebut. Misalnya, jika menggunakan aplikasi zoom, maka fitur seperti share screen, record, dan breakout-room bisa digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar.

Penyampaian informasi bisa diimbangi dengan metode lain, tidak hanya mengandalkan kelas sinkronus menggunakan aplikasi konferensi video, namun bisa memanfaatkan kelas dengan metode asinkronus. Seperti memanfaatkan Google Classroom dan aplikasi lain yang serupa dalam menyampaikan materi kuliah. (ted)

Dwi Masrina, S.Sos., M.Med.Kom.
Lecturer and Researcher
Faculty of Communication Sciences
Universitas Padjadjaran, Bandung, West Java


Apa Reaksi Anda?

Komentar