Iklan Banner Sukun

Ancaman Peningkatan Keparahan Covid-19 akibat Kerusakan Rongga Mulut

(Foto: Shiny Diamond, pexels)

Data dari worldometer pada minggu pertama bulan Agustus 2022, Covid-19 secara global dilaporkan sebanyak 589,613,092 kasus, dan telah berakibat fatal pada lebih dari 6 juta penduduk dunia.

Para ilmuwan menyimpulkan Covid-19 dapat merusak organ vital akibat adanya badai sitokin, sehingga terjadi penyebaran infeksi ke seluruh tubuh.

Covid-19 diketahui menyebar melalui droplet yang berasal dari rongga mulut. Beberapa jurnal ilmiah menyatakan bahwa jaringan periodontal yang ada di rongga mulut, khususnya sulkus gingiva (celah gusi) dianggap sebagai reservoir virus corona.

Artinya, keparahan yang timbul pada pasien Covid-19 selama ini, bukan tidak mungkin juga berasal dari akumulasi Covid-19 pada sulkus gingiva.

American Academy of Periodontology memberi pernyataan yang senada, ada keterkaitan antara periodontitis (inflamasi jaringan periodontal) dengan keparahan akibat Covid-19.

Jaringan periodontal semakin tidak terlepas dari sumbangsih permasalahan kesehatan di Indonesia saat ini, yaitu stunting, yang digambarkan sebagai kondisi gangguan pertumbuhan anak balita akibat kekurangan gizi kronis.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kekurangan gizi tersebut terjadi sejak bayi dalam kandungan, dan rata-rata baru terlihat setelah anak berusia 2 tahun.

Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) oleh Kementerian Kesehatan tahun 2021, angka prevalensi stunting di Indonesia sebesar 24,4%.

Ini merupakan masalah serius karena yang terkena dampaknya adalah generasi penerus bangsa. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ada keterkaitan antara kesehatan jaringan periodontal dengan kesehatan janin.

Penyakit periodontal yang terjadi pada masa kehamilan, dapat mengganggu pertumbuhan janin akibat penyebaran infeksi dan inflamasi dari jaringan periodontal menuju plasenta maupun uterus.
Kesehatan jaringan periodontal (penyangga gigi) mutlak harus diperhatikan.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar oleh Badan Litbangkes Kemenkes RI tahun 2018, prevalensi periodontitis di Indonesia mencapai angka 74,1%. Awal kerusakan jaringan periodontal tidak menimbulkan rasa sakit, sehingga seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terkena penyakit periodontal.

Rata-rata penyakit periodontal ditemukan pada fase lanjut yaitu periodontitis. Oleh karenanya penyakit periodontal dianggap sebagai silent pandemic.

Bagian dari jaringan periodontal yang mempunyai peran penting dalam mekanisme pertahanan tubuh adalah dentogingival junction.

Dentogingival junction merupakan perlekatan antara gingiva (gusi) dengan permukaan akar gigi. Perlekatan ini merupakan tabir pemisah antara lingkungan rongga mulut dengan bagian yang lebih dalam.

Bila perlekatan ini rusak, maka infeksi bakteri maupun virus dapat menerobos masuk dan menyebar ke seluruh tubuh, sehingga kesehatan tubuh menjadi terancam. Oleh karena itu, perlu mengetahui tanda-tanda awal ancaman kesehatan tubuh yang berasal dari kerusakan jaringan periodontal.

(1) gusi berwarna kemerahan dan mudah berdarah. Ini merupakan tanda telah terjadi infeksi-inflamasi pada gingiva. Pada rongga mulut yang sehat, terjadi keseimbangan jutaan mikroorganisme, antara lain terdiri dari bakteri, virus dan jamur.

Jika keseimbangan ini terganggu, maka mikroorganisme menjadi patogen, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada dentogingival junction.

Bila dentogingival junction mengalami kerusakan maka ini dapat menjadi awal penyebaran infeksi-inflamasi ke seluruh tubuh.

(2) gigi goyang, merupakan tanda bahwa telah terjadi kerusakan pada dentogingival junction. Kerusakan ini menyebabkan mikroorganisme patogen beserta toksinnya dapat masuk ke jaringan yang lebih dalam sehingga menimbulkan kerusakan pada tulang penyangga gigi, sehingga gigi tidak lagi kokoh pada tempatnya. Bila hal ini terjadi, maka potensi penyebaran infeksi-inflamasi ke seluruh tubuh semakin besar.

(3) gigi terlihat memanjang. Sebenarnya bukan giginya bertambah panjang, namun gusinya yang mengalami pengurangan ketinggian. Ini dapat terjadi jika invasi mikroorganisme patogen telah mengakibatkan kerusakan pada dentogingival junction. Kondisi ini juga berpotensi penyebaran infeksi.

Ketiga tanda tersebut harus dikenali. Invasi mikroorganisme patogen ke jaringan periodontal dapat menimbulkan infeksi-inflamasi pada area lokal maupun menyebar secara sistemik.

Agung Krismariono

Konsep inilah yang mendasari adanya keterkaitan antara kerusakan jaringan periodontal dengan penyakit sistemik.

Dentogingival junction menjadi sangat penting, karena walaupun tempatnya di bagian yang tersembunyi di dalam rongga mulut, yaitu di sulkus gingiva, namun menjadi salah satu gerbang pertahanan tubuh yang potensial untuk mencegah masuknya mikroorganisme patogen serta penyebaran infeksi ke seluruh tubuh.

Studi keterkaitan antara periodontitis dengan penyakit sistemik dikembangkan melalui hubungan status kesehatan periodontal yang buruk dengan keberadaan penyakit sistemik.

Sebagian besar studi menitikberatkan pada potensi periodontitis menyebabkan gangguan pada kesehatan umum, antara lain dengan hipertensi, gangguan pada masa kehamilan, diabetes melitus, infeksi saluran pernafasan, rheumatoid arthritis, serta beberapa penyakit sistemik yang lain.

Studi membuktikan bahwa sekitar 80% pasien hipertensi, memiliki kebersihan mulut yang buruk. Ditemukan pula bahwa penyakit periodontal berpengaruh terhadap kehamilan, mengganggu kesehatan janin, menyebabkan lahir prematur maupun berat bayi lahir rendah serta merupakan faktor resiko terjadinya pre-eklampsia pada ibu hamil.

Studi lain membuktikan keparahan diabetes melitus dapat diturunkan dengan kebersihan mulut yang baik. Demikian pula penyakit alergi dapat diturunkan keparahannya dengan menjaga kebersihan mulut.

Bahkan berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan, seharusnya keparahan pasien Covid-19, dapat dihindari jika pasien mempunyai jaringan periodontal yang sehat.

Demikian pula dengan tingkat keparahan stunting pada balita, sangat mungkin untuk diturunkan jika kebersihan rongga mulut termasuk kesehatan jaringan periodontal ibu hamil dapat terjaga.

Oleh karenanya penting untuk menjaga kebersihan rongga mulut, utamanya menjaga dentogingival junction agar terhindar dari ancaman penyebaran infeksi ke seluruh tubuh. Melakukan kunjungan rutin ke dokter gigi adalah strategi yang tepat untuk menjaga kesehatan umum.

Agung Krismariono
Guru Besar bidang Ilmu Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev