Iklan Banner Sukun

Analisa Saham dan Kenaikan Suku Bunga The Fed

(Sumber foto: Austin Distel, unsplash)

Surabaya (beritajatim.com) -Samuel Kesuma, CFA – Senior Portfolio Manager, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia memberikan ulasan sahamnya kepada pembaca beritajatim.com. Berikut dibawah ini tanya jawab soal ekonomi dan saham.

 Di tengah siklus kenaikan suku bunga The Fed dan kekhawatiran resesi ekonomi, pasar saham global mencatat penguatan di bulan Juli. Apa pendorong kinerja pasar?

Sentimen pasar didukung oleh ekspektasi bahwa The Fed sudah mendekati puncak dari siklus kenaikan suku bunganya dan akan mulai beranjak lebih dovish di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi. Sentimen pasar juga tertopang oleh laporan keuangan emiten AS kuartal dua yang lebih baik dari ekspektasi, terutama karena ekspektasi pasar terhadap kinerja emiten sudah sangat rendah di tengah kondisi inflasi tinggi yang dapat menggerus marjin laba. Selain itu dari perspektif valuasi, pasar saham AS sudah turun ke level yang atraktif di bulan Juli, di mana rasio P/E sudah turun ke -1 standard deviasi di bawah rata-rata lima tahun, memberikan entry point menarik bagi investor yang menilai kalau seluruh berita negatif terkait melemahnya pertumbuhan ekonomi, inflasi tinggi, dan kenaikan suku bunga yang agresif sudah diperhitungkan oleh pasar saat ini.

Ekonomi AS mengalami kontraksi -0,9% di Q2-2022, yang merupakan kontraksi ekonomi dua kuartal berturut-turut, apakah ini berarti AS mengalami resesi ekonomi?

Secara teknis kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut dapat dikatakan sebagai resesi. Tapi kami melihat kondisi saat ini lebih kompleks dari definisi tersebut. Umumnya pada kondisi resesi terdapat tingkat pengangguran yang meningkat, serta aktivitas industri dan konsumsi masyarakat melemah. Namun saat ini kami tidak melihat kondisi tersebut terjadi di Amerika. Tingkat pengangguran masih sangat rendah di 3,5% dan tingkat ketenagakerjaan masih pada level kuat yang tidak mengindikasikan kalau ekonomi dalam kondisi resesi. Secara umum kami melihat data PDB Amerika ini sebagai indikasi bahwa ekonomi Amerika dalam kondisi pelemahan, kondisi yang wajar seiring dengan kenaikan suku bunga secara agresif. Kami ekspektasikan pertumbuhan ekonomi Amerika akan relatif rendah di semester dua tahun ini dan 2023.

Di tengah pelemahan ekonomi AS bagaimana Anda melihat arah kenaikan suku bunga The Fed ke depannya?

Saat ini prioritas utama The Fed adalah menanggulangi inflasi walaupun harus sedikit “mengorbankan” pertumbuhan ekonomi. Kami melihat The Fed akan melanjutkan kenaikan suku bunga di tahun ini hingga terdapat bukti kalau tekanan inflasi mereda secara konsisten. Menariknya sudah terdapat indikasi tekanan inflasi mulai berkurang seiring dengan meredanya harga komoditas dunia. Harga minyak dunia sudah turun ke bawah USD100 per barel, turun 26% dari titik tertingginya di USD127, dan harga gandum yang sempat melesat karena konflik Rusia-Ukraina juga sudah turun 45% dari titik tertingginya. Apabila kondisi ini dapat dipertahankan, maka sangat mungkin bagi The Fed untuk mulai mengurangi intensitas kenaikan suku bunganya yang dapat menjadi kabar positif bagi pasar finansial. Ekspektasi pasar saat ini memperkirakan suku bunga The Fed dapat mencapai 3,5% di akhir tahun, dengan besaran kenaikan suku bunga tiga rapat terakhir tahun ini akan lebih kecil dibanding kenaikan 75 bps di bulan Juni dan Juli.

Bagaimana dengan dampak perlambatan ekonomi global terhadap outlook ekonomi Indonesia?Apakah terdapat ancaman resesi bagi Indonesia?

Kami melihat kondisi Indonesia saat ini berbeda dengan kondisi di kawasan negara maju yang cenderung mengalami perlambatan. Indonesia berada pada siklus pemulihan ekonomi didukung pembukaan kembali ekonomi yang suportif bagi pertumbuhan konsumsi domestik. Berbagai data seperti penjualan otomotif, keyakinan konsumen, dan pertumbuhan kredit terus menunjukkan pemulihan sepanjang tahun ini. Dari sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terus menurun mengindikasikan penyerapan kerja yang membaik. Data pertumbuhan ekonomi mengafirmasi momentum pemulihan ini dimana ekonomi tumbuh 5,44% YoY di kuartal dua 2022, naik dari 5,01% di kuartal pertama. Saat ini kami melihat risiko resesi terhadap Indonesia relatif minim, karena pemulihan konsumsi domestik memberi bantalan bagi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global.

Inflasi domestik merangkak naik sepanjang tahun ini dan sudah melampaui batas atas target BI. Apakah BI terlambat menaikkan suku bunga (behind the curve) seperti yang terjadi pada The Fed? Bagaimana pandangan Anda terkait kebijakan suku bunga BI?

Samuel Kesuma, CFA

Meskipun inflasi umum meningkat mendekati 5%, namun inflasi inti – yang merupakan acuan kebijakan BI – tetap terjaga di 2,86% per bulan Juli. Dengan inflasi inti yang masih terjaga maka memang belum ada urgensi bagi BI untuk menaikkan suku bunga sejauh ini. Menariknya, nilai tukar Rupiah merupakan salah satu nilai tukar dengan kinerja terbaik di Asia tahun ini, walau BI belum menaikkan suku bunga, mengindikasikan keyakinan pasar terhadap kredibilitas kebijakan moneter BI. Sebetulnya BI juga memiliki alat kebijakan selain suku bunga untuk menyerap likuiditas domestik, seperti melalui kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM). Sepanjang tahun ini GWM sudah naik dari 3,5% menjadi 7,5% di Juli, jadi sebetulnya pengetatan kebijakan moneter sudah dilakukan secara gradual sepanjang tahun ini. Namun seiring dengan pemulihan ekonomi, kami melihat inflasi inti akan naik secara gradual sehingga BI berpotensi menaikkan suku bunga ke level 4,0% – 4,25% tahun ini.

Setelah menguat menyentuh rekor tertinggi di Q1-2022, IHSG bergerak fluktuatif dan belum kembali ke level tertingginya. Bagaimana pandangan Anda terhadap outlook IHSG? Berapa target level IHSG untuk akhir tahun ini?

Kami memiliki pandangan positif terhadap outlook pasar saham Indonesia. Volatilitas pasar di kuartal dua lebih disebabkan oleh sentimen global karena The Fed yang menjadi lebih agresif dan kekhawatiran resesi ekonomi. Namun secara fundamental kondisi makroekonomi domestik tidak berubah, tetap suportif di mana momentum pemulihan ekonomi terus terjadi. Meningkatnya aktivitas domestik dan harga komoditas yang suportif berdampak positif pada profitabilitas emiten dalam pasar saham. Ekspektasi target level IHSG kami dapat mencapai 7600 dengan ekspektasi pertumbuhan earnings di kisaran 12%. Yang dapat menjadi katalis pasar ke depannya adalah apabila terdapat perbaikan sentimen pasar global seperti The Fed yang menjadi lebih dovish atau meredanya tekanan inflasi global secara konsisten.

Bagaimana filosofi investasi dan strategi portofolio Anda untuk menghasilkan alpha?

Pengelolaan reksadana saham MAMI dilakukan secara aktif yang didasari oleh analisa fundamental dengan riset mendalam untuk membentuk portofolio yang optimal. Kami menerapkan kerangka GCMV (growth, cashflow, management, valuation) dalam pemilihan saham untuk menyaring saham dengan fundamental yang baik dan tingkat valuasi yang atraktif. Untuk strategi portofolio, kami memiliki pandangan positif pada sektor yang menangkap potensi pertumbuhan struktural Indonesia di bidang pembangunan industri energi terbarukan dan ekonomi digital. Kami melihat eksposur di saham sektor komoditas dan teknologi dapat menangkap potensi Indonesia dalam tema ini. (ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV

Shin Tae Yong Puji Rumput Lapangan Thor Surabaya

Menjajal Mobil Listrik Wuling Air ev