Ada Apa Dengan Ente, Anies?

Anton Miharjo

Anies Baswedan di beberapa media mengaku menyerah tak mampu membiayai warga terdampak. Katanya, anggaran sudah tidak ada.

Menurut Menkeu, Sri Mulyani, Ente mengaku saat ini Jakarta sudah tidak cukup memiliki anggaran, dan bermohon pada pemerintah pusat tuk membiayai. Padahal dari 3,6 juta warga yang layak dibantu, 70% sudah dibantu pemerintah pusat. Ente hanya cukup membantu yang 30%, atau 1,1 juta orang.

Jangan melucu, Anies!! Situasi yang serba susah ini, anda yang jago bermain kata-kata seharusnya lebih bijak dalam mengunakan anggaran.

Dari semua Provinsi di Indoensia, APBD Jakarta salah satu yang tertinggi, Rp 87, 95 Triliun. Pun dalam urusan pendapatan daerah, seperti yang ente katakan di pidato-pidato sebelumnya, Jakarta di tahun ini bisa meraup Rp 57, 56 triliun.

Bandingkan dengan daerah lain yang pendapatan asli daerahnya hanya bermain di angka Rp 10-20 Miliar. Ente seharusnya malu pada daerah-daerah miskin itu. Mereka sampai hari ini masih bersemangat dan berjibaku membantu rakyatnya yang lagi kesusahan. Tidak cengeng.

Urusan semangat tempur, Ente bisa belajar dari Bupati Boltim-Sulut, Sehan Landjar. Bermodal mobil pick-up, ia berkeliling kampung tuk membagikan bansos. Di sana ada semangat. Bahkan, bupati Boltim yang PAD-nya hanya berkisar Rp 18 miliyaran, saking semangatnya bisa memarahi menteri.

Juga bisa belajar dari Bupati Merangin-Jambi, Al-Haris, ia terus bekerja membagi-bagikan sembako pada warganya tanpa banyak kata-kata. Siang dan malam mengecek warganya. Membantu semampunya tanpa harus mengeluh

Ente juga bisa menelpon Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Tanya mereka, apa resepnya menjadi pemimpin yang tidak cengeng. Di Jawa Tengah dan Jawa Barat tingkat kesulitan yang dihadapi untuk mengurusin warganya jauh lebih rumit, mereka berdua mengurusi warga yang jumlahnya dua kali lipat dari penduduk Jakarta. Tapi mereka tidak mengeluh. Semangat dan Kreativitas tetap muncul.

Di situasi yang sulit ini, cukup warga saja yang mengeluh. Jangan anda ikut-ikutan. Anda itu pemimpin. Ingin jadi presiden, tapi ngurusin warga miskin saja sudah mengeluh. Aneh!

Bahwa, ente mengatakan ekonomi sedang tidak normal dan berimbas pada PAD. Menurutku, itu nggak perlu dikata-katai lagi. Semua sudah tahu, dan semua daerah mengalami hal yang sama. Tapi bedanya di situasi sulit, selain ente, tidak ada yang cengeng. Mereka bisa memaksimalkan anggaran yang serba minim.

Ngacahlah, Anies..! Dan kurangi konferensi pers tuk urusan yang tidak perlu. Ente cukup berdiam diri sehari saja guna memperhatikan dokumen APBD Jakarta dan mengkalkulasi ketersediaan anggaran.

Ente hanya cukup membedakan mana yang prioritas dan yang tidak. Biaya-biaya yang tidak penting ditiadakan saja. Bahkan bila perlu proyek-proyek fisik yang belum dikerjakan bisa direalokasi untuk membantu warga-mu yang sudah mulai kelaparan.

Dan tolong data warga secara benar. Bila perlu, Tim TGUPP-mu itu yang jumlahnya sekompi itu, ditugaskan tiap hari untuk mempelototi data warga miskin.

Anggaran yang serba minim harus cepat dan tepat sasaran. Saya cukup risau mendengar bansos yang dibagikan menyasar PNS, anggota DPRD, dan orang-orang mampu lainnya.

Ente ini, Anies, memang lucu. Mengaku tidak ada anggaran, tapi justru mengeluarkan biaya commitment fee sebesar Rp 360 Miliar. Anda cukup menarik kembali biayai itu! Ente tidak perlu takut, kecuali anda mendapatkan keuntungan dari commitment fee lomba formula-E.

Bila Perusahaan pengadaan lomba itu marah? Biarkan saja! Toh, lomba formula-E tidak dilakukan juga nggak ada pengaruhnya.

Anda harus paham, di sini di Jakarta dan di Indonesia lebih suka nonton lagu Solo Balapan daripada Balapan formula-E.

Anton Miharjo-Pengamat Politik 
Email:¬†[email protected]

Apa Reaksi Anda?

Komentar