Politik Pemerintahan

Zona Hijau, Wali Kota Mojokerto: Warga Bisa Salat Ied dengan Protokol Kesehatan Ketat

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Banyak zona hijau membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto mengizinkan penyelenggaraan salat ied pada Hari Raya Idul Fitri 2021. Namun diharapkan warga menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan hanya boleh dilaksanakan di daerah yang zona aman berdasarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari mengatakan, berdasarkan data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Mojokerto, per 10 Mei 2021 dari 681 Rukun Tetangga (RT) hanya ada 12 RT yang berada pada zona kuning. “Hal ini berarti bahwa di Kota Mojokerto boleh dilaksanakan salat Idul Fitri selama dalam pelaksanaannya tetap mematuhi protokol kesehatan,” ungkapnya, Selasa (11/5/2021).

Merujuk pada SE Gubernur Jawa Timur Nomor 451/10180/012.1/2021 tentang penyelenggaraan sholat Idul Fitri Tahun 1442 H/2021 di Saat Masa Pandemi Covid-19 di Jawa Timur, lanjut Ning Ita (sapaan akrab, red), beberapa aturan yang harus dipatuhi dalam pelaksanaan salat idul fitri 1442 H. Bagi wilayah dengan zona merah salat idul fitri dilaksankan di rumah masing-masing.

“Untuk daerah zona oranye jamaah salat tidak boleh lebih dari 15 persen kapasitas tempat ibadah. Untuk daerah zona kuning dan hijau kapasitas jamaah adalah 50 persen dari kapasitas tempat ibadah. Bagi para lansia atau orang dalam kondisi kurang sehat, baru sembuh dari sakit atau perjalanan, disarankan tidak menghadiri salat Idul Fitri di masjid dan lapangan,” katanya.

Bagi para jamaah selain wajib memakai masker juga disarankan untuk membawa sajadah sendiri serta membawa tempat untuk menyimpan alas kaki. Masih kata Wali Kota perempuan pertama di Kota Mojokerto ini, khutbah Idul Fitri dilakukan secara singkat dengan tetap memenuhi rukun khutbah yakni paling lama 10 menit dan surat yang dibaca hendaknya hanya surat-surat pendek.

“Setelah selesai salat jamaah juga harus kembali ke rumah masing-masing dan menghindari berjabat tangan dengan bersentuhan secara langsung. Kepada panitia penyelenggara salat Ied, sebelum menggelar salat Idul Fitri di masjid dan lapangan wajib berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, Satgas Penanganan Covid-19 dan unsur keamanan setempat untuk mengetahui informasi status zonasi dan menyiapkan tenaga pengawas,” katanya.

Tujuannya agar standar protokol kesehatan dijalankan dengan baik, aman dan terkendali. Selain tentang penerapan protokol Kesehatan yang ketat dalam sholat Ied, Ning Ita juga melarang adanya takbir keliling guna mengantisipasi terjadinya keramaian.

Menurutnya, tidak akan ada open house di Rumah Rakyat seperti tahun-tahun sebelumnya sehingga dihimbau agar halal bihalal juga tidak diadakan di lingkungan kantor maupun komunitas. [tin/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar