Politik Pemerintahan

Warga Kampung ‘Klaster Sampoerna’ Surabaya: Kami Bangga Didatangi Gubernur

Surabaya (beritajatim.com) – Ada sebanyak 115 warga wilayah Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut Surabaya yang melakukan isolasi mandiri di rumahnya masing-masing. Ini setelah hasil rapid test mereka dua kali reaktif dan belum dilakukan tes swab hingga hari ini.

Sedangkan, masih ada 21 warga Kedung Baruk yang telah dilakukan isolasi di sebuah hotel di Surabaya. Mereka ini yang hasil rapid test-nya dua kali reaktif dan sudah dilakukan tes swab PCR, tetapi masih menunggu hasil swab yang belum keluar.

Artinya, ada total 136 warga Kedung Baruk yang merupakan gabungan pegawai PT HM Sampoerna dan warga sekitar menjadi terdampak. Mereka ini masuk dalam ‘Klaster Sampoerna’.

Saat ini wilayah Kedung Baruk yang berada di Jalan Raya Kedung Baruk, Kelurahan Kedung Baruk telah dijadikan ‘Kampung Tangguh’ Cegah Covid-19 oleh Polrestabes Surabaya menggandeng Kodam V/Brawijaya dan Pemkot Surabaya.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama Kapolda Jatim Irjen Pol M Fadil Imran, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansyah, Kapolrestabes Surabaya Brigjen Pol Sandi Nugroho, Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono serta beberapa pejabat OPD terkait melakukan kunjungan ke Kampung ‘Klaster Sampoerna’ di Kedung Baruk ini pada Selasa (19/5/2020) malam.

Rombongan Forkopimda Jatim ini langsung disambut petugas Satgas Covid-19 Kelurahan Kedung Baruk untuk dilakukan protokol kesehatan, yakni cek suhu tubuh dengan menggunakan thermo gun.

Ketua LPMK Kelurahan Kedung Baruk sekaligus Koordinator Satgas Covid-19 Kedung Baruk Surabaya, Sugiono yang mewakili warga mengaku sangat bangga sekali mendapat kunjungan Gubernur Jatim. Ini karena telah mendapatkan perhatian dari pemerintah.

“Terus terang dengan kehadiran Bu Gubernur Jatim, warga Kedung Baruk sangat bangga sekali, karena apa yang kami lakukan saat ini sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah. Sementara ini, kami masih swadaya untuk dapur umum permakanan dari warga, RT dan RW. Belum ada bantuan dari Pemkot Surabaya untuk kegiatan yang kami lakukan. Sebenarnya kemarin Satgas Covid-19 di Kedung Baruk ini dibentuk dan melakukan pembatasan wilayah atas permintaan daripada Pemkot, karena di tempat kami ini adalah Klaster Sampoerna,” ujar Sugiono kepada wartawan.

Pihaknya mengaku sudah mengajukan permintaan bantuan kepada Pemkot Surabaya sejak 14 Mei 2020. Di mana sebelumnya telah dilakukan rapat koordinasi bersama di Kantor Kecamatan Rungkut, yang dihadiri oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya, Irvan Widyanto.

“Kami disuruh membentuk Satgas dan melakukan pembatasan. Belum dapat tanggapan sampai saat ini untuk permintaan bantuan permakanan. Aturan dari Pemkot itu untuk mendapat bantuan permakanan, mereka harus sudah dinyatakan positif (hasil tes swab). Saya sudah sampaikan ke Bu Gubernur untuk bisa melakukan isolasi mandiri terhadap 115 warga yang reaktif rapid test di rumahnya dan menunggu dilakukan tes swab. Sedangkan 21 orang lainnya sudah diisolasi di hotel, menunggu hasil tes swab. Sementara ini untuk kebutuhan dapur umum, kami lakukan swadaya,” tuturnya.

Ia mengakui proses isolasi mandiri di perkampungan Kedung Baruk ini menimbulkan permasalahan baru. Ini karena warga yang sudah reaktif rapid test merasa dikucilkan dan tetangga yang lain takut tertular.

“Karena itu kami membuka dapur umum untuk membantu pemenuhan kebutuhan warga yang reaktif dengan cara swadaya. Seharusnya bantuan permakanan ini tidak perlu menunggu konfirmasi positif dulu, karena kami sudah bergerak,” jelasnya.

Sugiono mengaku bersyukur karena aspirasi yang disampaikan kepada Gubernur Jatim langsung direspon malam itu juga. “Alhamdulillah kami langsung mendapat kepastian bantuan dari Pemprov Jatim berupa 1 ton beras, kemudian 200 kg telor, 200 dus mie instan dan 1000 buah masker serta vitamin C,” paparnya.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa kunjungan ke Kampung Tangguh Kedung Baruk ini merupakan bagian dari rencana Kapolda Jatim dan Pangdam V/Brawijaya yang akan membuat Kampung Tangguh dan Kampung Asistensi berbasis RT/RW, mengadopsi kampung tanggguh yang ada di Malang.

“Jadi, Kampung Tangguh ini langsung komandannya adalah Pak Wakapolda Jatim dan Karo OPS. Ini yang kita lihat ternyata daerah yang dipilih menurut saya sudah daerah-daerah yang berisiko tinggi. Jadi, bukan saja OTG di situ, tetapi sudah mereka yang reaktif, satu gang saja di Kedung Baruk tadi katanya ada 115 warga yang sudah rapid test-nya reaktif dan sudah ada 21 warga yang diisolasi,” kata Khofifah.

Kampung Kedung Baruk ini, lanjut Khofifah sudah harus ada di dalam special treatment. Kalau bisa ada special treatment dan cepat diswab, Insya Allah besok rumah sakit darurat di Jalan Indrapura Surabaya sudah bisa beroperasi.

“Jadi, kalau sudah di swab dan hasilnya positif, maka harus dievakuasi. Hari ini isolasi mandiri mungkin kita nomorduakan, nomor satu harus dirawat di rumah sakit. Karena kalau sudah positif tentu harapannya ada treatment yang lebih khusus dan lebih serius serta lebih terukur,” ujarnya.

Kapolda Jatim, Irjen Pol M Fadil Imran menambahkan bahwa kampung tangguh di Surabaya sesuai masukan Kapolrestabes rencananya ada sebanyak 107 kampung.

Namun, Polda bersama Kodam V/Brawijaya akan memberlakukan ini di seluruh Jatim, khususnya di daerah yang diketahui ada warganya yang dinyatakan positif Covid-19 dan PDP. Nantinya, akan dikoordinir oleh Kapolres dan Dandim yang bergandengan tangan untuk mendorong para kepada desa dan kepala dusun membetuk sebuah gugus tugas atau satgas di tingkat desa.

“Nanti dibantu oleh petugas Babinsa dan Babinkamtibmas ada pembagian yang menangani bidang kesehatan dan dampak sosialnya secara mandiri untuk menghadapi persoalan yang spesifik di lingkungannya, kira-kira begitu,” pungkas Kapolda Jatim. (tok/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar