Politik Pemerintahan

Warga Indonesia Timur di Surabaya Gelar 1 Juta Tanda Tangan untuk Papua

Surabaya (beritajatim.com) – Keluarga besar masyarakat Indonesia Timur di Surabaya menggelar aksi sejuta tanda tangan di area Car Free Day (CFD) depan Masjid Al Falah, Jalan Raya Darmo Surabaya, Minggu (1/9/2019) pagi.

Ratusan masyarakat Surabaya yang mengetahui aksi tersebut menyempatkan membubuhkan tanda tangannya menggunakan spidol di kain putih sepanjang 5 meter. Mereka turun dari sepedanya, mereka menghentikan langkahnya sejenak saat lari pagi demi kedamaian di Papua dan keutuhan NKRI tercinta.

Sekadar diketahui, permasalahan mahasiswa Papua di Jawa Timur khususnya Surabaya dan Malang,
menyebabkan eskalasi konflik yang semakin tinggi di berbagai daerah khususnya di tanah Papua.

Permasalahan tersebut berawal dari kasus dugaan pelecehan bendera Merah Putih di Asrama Mahasiswa Papua Jalan Kalasan Surabaya. Ada oknum yang diduga penghuni asrama membuang bendera ke dalam selokan, sehingga memicu kemarahan masyarakat.

Di tengah-tengah kemarahan warga tersebut ada oknum yang secara spontan mengeluarkan umpatan rasisme yang tentu tidak dapat dibenarkan dan harus dikutuk bersama.

Saat ini para pelaku yang diduga terlibat dalam kasus rasis tersebut sudah diperiksa aparat kepolisian, bahkan sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara pelaku pelecehan simbol negara, hingga kini belum ada kabar pemeriksaan siapa-siapa pelakunya.

“Kejadian ini dengan cepat diviralkan dan dipropagandakan oleh pihak-pihak berkepentingan yang menginginkan Indonesia terbelah, sehingga dengan cepat menyebar dan memicu kerusuhan di berbagai daerah khususnya di Papua dan Papua Barat. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya berita hoaks terkait kasus di Surabaya yang semakin memperkeruh suasana,” kata Koorlap Aksi Sejuta Tanda Tangan, Marsekan Ibrahim kepada wartawan.

Bahkan, menurut dia, ada pihak-pihak tertentu dari LSM yang diduga melakukan provokasi, baik melalui statement di media maupun menemui langsung mahasiswa Papua, seakan-akan ada Intimidasi dan pengusiran terhadap mahasiswa Papua di Jawa Timur.

Akibatnya, muncul opini bahwa mahasiswa Papua di Jawa Timur merasa ketakutan untuk berkomunikasi dengan
pihak lain, padahal kenyataannya mahasiswa dan masyarakat Papua hidup nyaman dan aman di Surabaya.

Ini dibuktikan dengan tulisan di spanduk yang tampak dibentangkan di pagar depan Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya. Spanduk itu bertuliskan ‘Lepas Garuda dan Referendum is Solution’. Kemudian, juga ada tulisan ‘Siapapun yang Datang, Kami Tolak’.

Melihat kondisi itu, Keluarga Besar Masyarakat Indonesia Timur (Papua, NTT dan Maluku) di Surabaya menyatakan sikap:

1. Seluruh komponen senantiasa menjunjung tinggi persamaan derajat dan mencegah terjadinya tindakan diskriminatif terhadap sesama anak bangsa.

2. Waspada pemecah belah bangsa memanfaatkan usu Papua.

3. Permasalahan Papua jangan ditunggangi dengan kepentingan politik.

4. Orang Jawa Timur tidak Rasis, Wong Suroboyo ora Rasis, tetapi ada pihak-pihak yang ingin mengadu domba masyarakat Papua dengan warga Surabaya soal Rasisme.

5. Stop provokasi dan berita hoaks, karena hanya akan memperkeruh suasana.

6. Kami bangga dan cinta dengan Papua

7. Papua adalah Surga Kecil Turun ke Bumi, Papua bagian dari NKRI, dari dulu dan selamanya. (tok/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar