Politik Pemerintahan

Wafat, Ini Pesan Terakhir Ketua Tim Pemenangan SANDI

Malang (beritajatim.com) – Duka mendalam dirasakan koalisi Malang Makmur yang mengusung Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Malang, Sanusi-Didik Gatot Subroto (SANDI) nomor urut 1.

Ketua Tim Pemenangan SANDI, Hari Sasongko, meninggal dunia setelah mobil yang dikendaraiannya saat kunjungan kerja DPRD Kabupaten Malang menuju Yogyakarta, menabrak truk di Jalan Tol Solo-Ngawi, Jumat (13/11/2020) lalu.

Pasca kejadian, Sasongko dinyatakan kritis akhirnya menghembuskan nafas terakhir, Rabu (18/11/2020) siang. Almarhum sebelumnya menjalani perawatan medis di RSUD Dr.Moewardi, Surakarta, Jawa Tengah.

Selama menjalani perawatan, Sasongko yang masih menjabat anggota DPRD Kabupaten Malang sekaligus pernah dua periode menduduki kursi Ketua DPRD itu, masih tetap memberikan semangat kepada Tim Pemenangan SANDI untuk bekerja keras.

Pesan itu sebagaimana yang disampaikan kepada Calon Wakil Bupati Malang, Didik Gatot Subroto yang notabene kawan satu fraksi di DPRD Kabupaten Malang dari PDI Perjuangan.

“Bekerja, gotong royong, semangat, jangan bergantung orang lain, bekerja untuk diri sendiri. Itu yang dipesankan almarhum. Arif bijaksana itu yang dipesankan oleh beliau,” ungkap Didik, Rabu (18/11/2020) malam usai mengantarkan almarhum ke peristirahatan terakhir.

Kata Didik, almarhum Hari Sasongko adalah pribadi yang sederhana, tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja. “Pak Hari Sasongko itu orangnya sangat sederhana, familiar, tidak banyak bicara, bisa mengayomi, tut wuri handayaninya cukup bagus. Kami dari DPC PDIP merasa kehilangan sosok kepemimpinan beliau. Almarhum adalah kader terbaik PDIP diantara yang lain,” ucap Didik dengan mata sembab.

Didik menilai, almarhum adalah kawan yang sangat bersahaja. Bisa menjadi orang tua, mengayomi di saat ada problematika. “Beliau pasti memberikan solusi-solusi yang sejuk yang tidak melukai banyak pihak. Itu yang ada di konsep-konsep beliau sebagai politisi,” terangnya.

Selain bisa menjadi sosok orang tua, lanjut Didik, Hari Sasongko juga bisa menjadi sahabat, teman, bapak, kakak dan lain sebagainya. “Almarhum bisa menjadi semuanya. Kawan, bapak, orangtua, dan sahabat yang baik dan begitu sederhana. Ini menurut saya yang tidak dimiliki yang lain. Maka inilah yang menurut saya penting, kita banyak belajar dari beliau, yang tentunya ini ajaran-ajaran yang beliau lakukan kepada kita,” tuturnya.

Cara berpolitik yang santun dan bersahaja yang dimiliki Hari Sasongko, lanjut Didik, ibarat semangat bagi kader-kader PDI Perjuangan untuk melakukan reproduksi kader-kader baru agar lebih baik lagi ke depan. Bagaimana politik itu dijalankan, sosok almarhum bisa menjadi teladan yang baik.

Jenazah Sasongko tiba dirumah duka malam ini sekira pukul 19.00 WIB. Tangis haru keluarga, sahabat, dan rekan politisi lain, serta masyarakat Kabupaten Malang, tak terbendung saat mobil ambulans datang di rumah duka, Desa Tambakasri, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.

Usai disalatkan di rumah duka dan di Masjid Al-Ikhlas Tambakasri, sekitar pukul 19.45 WIB ratusan pelayat mengantarkan jenazah almarhum menuju tempat peristirahatan terakhir di makam desa setempat. [yog/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar