Politik Pemerintahan

Viral ‘Mati Corona Ala Madura’, Ini Temuan Wagub Jatim di Lapangan

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak yang ditemui dalam kunjungannya ke beberapa ponpes di Sumenep, demi memutus rantai penyebaran Covid-19 dan mempercepat upaya vaksinasi pada Senin (2/8).

Sumenep (beritajatim.com)  – Beberapa waktu belakangan, dunia maya kembali digegerkan dengan cuitan salah seorang pengguna twitter. Akun tersebut diketahui menuliskan cuitan mengenai “Mati Corona ala Madura”.

Cuitan itu seperti menggambarkan kondisi masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan seakan-akan tidak ada virus Covid-19. Tentunya hal ini menjadi atensi khusus Pemprov Jatim.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak yang ditemui dalam kunjungannya ke beberapa ponpes di Sumenep, demi memutus rantai penyebaran Covid-19 dan mempercepat upaya vaksinasi pada Senin (2/8).

“Kami senantiasa berusaha mendapat gambaran di lapangan sekaligus mencari masukan dari beberapa tokoh, dan kami menemukan hal yang berbeda-beda dari satu titik ke titik yang lain,” ungkap Emil.

Kunjungan pertama yang dilakukan di Pondok Pesantren Darur Rahmah Pangarangan, Wagub Emil mendapat gambaran umum terkait kondisi di lapangan.

“Pondok pesantren dan tokoh agama mayoritas sudah sangat mendukung upaya pemerintah untuk menerapkan prokes dan mempercepat vaksinasi,” tuturnya.

Emil sempat berbincang dengan salah satu santri di ponpes Darur Rahmah Pangarangan.

“Lalu saya tanya gitu pernah percaya enggak sama dokter gitu ya 50%, lantas paling percaya kepada siapa? Jawab santri percaya ke kyai,” ungkap Emil.

“Kyai ini kan sudah divaksin, tetapi tetap saja orang tua santri takut anaknya divaksin,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut Wagub Emil menjelaskan.

“Memang masih perlu diperbaiki (kepatuhan prokes dan vaksinasi masyarakat) tapi tidak seperti yang kita bayangkan (tidak se-ekstrim dimana kebanyakan tokoh diasumsikan tidak mendukung prokes dan vaksinasi), dari apa yang kita dengar pengasuh pondok pesantren maupun pengajarnya juga sudah divaksin tetapi memang kendala yang terbesar ada pada masyarakat sendiri yang tidak mengizinkan anaknya untuk di vaksin,” tuturnya.

Melanjutkan ke titik selanjutnya di Pondok Pesantren Mathaliul Anwar Kepanjen, Wagub Emil menyebut perlunya startegi komunikasi yang jelas dan terpercaya guna meningkatkan kepercayaan masyarakat.

“Hoax (kalau divaksin bisa meninggal) ini menjadi tantangan kita bersama agar masyarakat mendapat informasi yang baik dan benar, berseiring dengan upaya mendorong minat vaksinasi kita tidak mungkin untuk memaksa orang yang takut alangkah lebih baik kita memberikan penjelasan yang lebih bisa dipercaya,” jelas mantan pengurus PCI NU Jepang ini.

“Upaya memberikan penjelasan ini merupakan upaya mendasar yang harus dilakukan, ini akan membantu Kepala Desa untuk mengatasi kesulitan dalam memberi penjelasan kepada warganya,” tambahnya.

Setibanya di titik terakhir, di Pondok Pesantren Ash-Shofwah Al-Malikiyyah Wagub Emil mendapat masukan terkait pemulasaraan jenazah.

“Ada yang mendasar lagi yaitu terkait dengan adanya anggapan bahwa kalau meninggal karena covid19 itu tidak disholatkan, sehingga penting adanya perwakilan keluarga yang menggunakan APD untuk menyaksikan pemulasaraan jenazah,” jelasnya.

“Kita bisa memaksimalkan fasilitas kesehatan terdekat untuk membantu masyarakat mendeteksi keluhan yang dialami masyarakat agar masyarakat sadar dulu terhadap kondisi kesehatannya masing-masing, memahami apakah ada potensi komorbid atau tidak,” jelas Emil.

“Ini akan meminimalisir ketakutan masyarakat untuk memeriksakan kesehatan dirimya sekaligus dari pemeriksaan ini bisa menjadi pintu masuk bagi tenaga kesehatan tingkat Desa,” imbuhnya.

Sebelum berpamitan Wagub Emil mengapresiasi peran pondok pesantren termasuk Kyai dan guru
“Kita harus mengapresiasi upaya dari tokoh-tokoh agama yang sudah berusaha memberikan teladan tetapi kita juga harus melakukan berbagai hal untuk meng-counter hoax yang ada,” ungkapnya. (ted)



Apa Reaksi Anda?

Komentar