Politik Pemerintahan

Uji Coba Sekolah Tatap Muka di Jember 1 Maret 2021

Bupati terpilih Jember Hendy Siswanto [foto: Humas Unej]

Jember (beritajatim.com) – Bupati terpilih Hendy Siswanto berencana menggelar pembelajaran tatap muka di sekolah secara bertahap di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Uji coba akan dilakukan di beberapa sekolah pada 1 Maret 2021 dengan melibatkan banyak pihak.

Hal ini dikemukakan Hendy, dalam acara talk show Jember Lawyers Club, di Kafe Menepi, Kabupaten Jember, Senin (8/2/2021) malam. “Jika tanggal 17 Februari saya dilantik, saya berharap pada 1 Maret bisa dilakukan dengan bertahap, dengan aturan yang ketat. Kita ambil pilot project beberapa sekolah dulu, dan kita floor di mana kelemahan-kelemahannya,” katanya.

Hendy melihat pembelajaran sekolah tak cukup hanya dengan metode daring. “Saya melihat sistem pembelajaran daring (dalam jaringan) seperti menonton televisi. Belajar bukan hanya belajar text book sesuai aturan buku. Bukan itu,” katanya.

Hendy mendapat informasi, bahwa kemungkinan Covid masih akan jadi persoalan hingga empat tahun ke depan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana pendidikan anak-anak jika hanya melalui dalam jaringan.

Menurut Hendy, substansi pendidikan adalah pembelajaran moral dan akhlak. “Guru harus menilai sisi itu juga. Pertemuan tatap muka jadi penting,” katanya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Hendy, jika jumlah warga yang terkena Covid-19 kurang dari satu persen dari total populasi warga sebuah daerah, maka pembelajaran tatap muka bisa dilakukan. “Kalau pembelajaran terus-menerus lewat daring, maka kita di Jember akan mengalami lost generation. Pelajaran tentang moral, etika, disiplin akan hilang. Kapan akan dirasakan? Lima tahun ke depan,” katanya.

Setelah dilantik, Hendy akan berdiskusi dengan satuan tugas penanganan Covid kabupaten. “Kalau satgas setuju, masyarakat setuju, tentunya ini akan melibatkan seluruh elemen masyarakat,” katanya. Elemen yang akan dilibatkan adalah satuan tugas Covid-19, ASN, guru, orang tua, rukun tetangga-rukun warga, dan perguruan tinggi.

Bagaimana jika ada siswa di sekolah yang ternyata positif Covid-19? “Kita akan kawal, kita tracing. Gunanya RT-RW adalah memantau (siswa) yang sedang positif. Jadi zona itu diklaster, bukan ‘dimerahin’ (dianggap berstatus merah) semua. radius itu kalau kita proteksi di awal. Zonanya tidak akan terlalu luas,” kata Hendy. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar