Iklan Banner Sukun
Politik Pemerintahan

Tragedi Payangan Jember Jadi Momentum Bangun Mitigasi Turisme di Masyarakat

David Susilo

Jember (beritajatim.com) – Tragedi ritual maut di Pantai Payangan, Kabupaten Jember. Jawa Timur, merupakan momentum untuk membangun ekosistem sosial pariwisata di tengah masyarakat.

Tragedi ritual maut yang terjadi pada 13 Februari 2022 menelan 11 korban jiwa. Pantai Payangan adalah salah satu destinasi wisata di Kabupaten Jember yang banyak dikunjungi orang selama ini.

David Susilo, pengamat dan dosen Program Studi D3 Pariwisata di Universitas Jember, mengatakan, kelompok-kelompok sadar wisata di masyarakat sudah harus memiliki mitigasi turisme. “Bagaimana membuat prosedur operasional standar yang sudah digariskan Kementerian Pariwisata, yakni cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment sustainability (kelestarian lingkungan),” katanya, Jumat (4/3/2022).

Menurut David, kejadian di Payangan menunjukkan bahwa harus ada prosedur standar keamanan yang diberlakukan kepada pengunjung di lokasi tersebut. “Terlepas apakah dia datang di luar jam operasional wisata atau tidak, tapi masyarakat komunitas sadar wisata di pesisir harus memiliki aturan jelas manakala ada pengunjung yang datang dan di luar ranah pariwisata,” katanya.

David mengingatkan, peristiwa seperti tragedi ritual maut bisa berdampak serius terhadap dunia pariwisata. “Dengan adanya kejadian seperti itu, early warning system atau peringatan dini pelaku pariwisata menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab. Ini barangkali jadi tantangan teman-teman di lokasi destinasi pariwisata, yakni harus menerapkan standar kepariwisataan nasional,” katanya.

“Apalagi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geosifika sudah mengingatkan adanya fenomena cuaca ekstrem. Di situlah mitigasi turisme sudah harus dilakukan. Ketika ada tanda-tanda fenomena alam yang membahayakan bagi pengunjung, maka saat itu juga masyarakat sebagai garda terdepan di lokasi pariwisata harus menyalakan ‘early warning system’ kepada siapapun yang mendekat di destinasi wisata jika membahayakan keselamatan jiwa,” kata David.

David menyarankan kepada kelompok sadar wisata agar disiplin terhadap jam operasional lokasi wisata. “Tanpa ada persetujuan dari perangkat desa dan kelompok sadar wisata di situ, kunjungan di luar jam operasional harus dilarang keras. Itu bagian dari upaya mempertahankan citra tempat wisata itu. Ingat Payangan bagian dari destinasi pariwisata. Maka mau tidak mau mulai dari pemerintahan desa hingga masyarakat di pesisir harus bahu-membahu,” katanya.

“Harapannya ke depan, pengunjung di luar masyarakat pesisir (yang datang di luar jam operasiona) harus diminimalisasi. Jadi peristiwa ini menjadi momentum untuk berbenah diri, sehingga kejadian kemarin adalah kejadian yang terakhir dan tidak terulang lagi,” kata David. [wir/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar