Politik Pemerintahan

TKN: Survei Jokowi dan Prabowo Bagaikan Langit dan Sumur Bor

Surabaya (beritajatim.com) – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Arief Rosyid mengaku optimistis kemenangan ada di pihaknya pada Pilpres 2019.

“Kami pasti optimis. Semua lembaga survei sudah menyebut betapa jauh jarak antara 01 dan 02. Bagaikan langit dan sumur bor. Mereka berharap dari swing voters. Kami punya banyak jubir yang baru muncul. Kami banyak program yang akan diluncurkan dalam 47 hari terakhir,” katanya.

Menurut dia, pada dua debat terakhir membuktikan adanya perbedaan kelas seperti langit dan sumur bor. “Jauhlah kapasitas dan pengalaman. Kami optimistis memenangkan pertarungan ini dan jarak akan terus bertambah,” tegasnya.

Apakah debat ketiga antara Cawapres KH Ma’ruf dan Sandiaga akan menjadi senjata andalan? “Saya kira kalangan milenial sangat rasional memahami siapa yang punya pengalaman. Dalam berbagai kesempatan saya bersama Pak Erick Thohir bertemu milenial hampir di 25 kabupaten/kota dan provinsi, kami simpulkan cukup seorang Erick Thohir yang menghadapi Prabowo-Sandi. Antara KH Mar’uf dan Sandi, jauh lebih berpengalaman KH Ma’ruf,” jelasnya.

Sebelum pelaksanaan debat ketiga, lanjut dia, akan ada banyak kejutan program yang akan didorong untuk mempertebal jarak antara 01 dan 02.

“Saya yakin KH Ma’ruf dengan pengalaman beliau, kualitasnya jauh dari apa yang sudah dilakukan Sandi. Swing voters, kami sudah dapat data, ini yang sudah kami kerjakan. Tapi kami tidak akan bocorkan, karena jangan sampai ditiru tim 02. Tim 02 sudah kehabisan akal, tentu kami harus hati-hati menyampaikan strategi,” ujarnya.

Pengamat politik, Arya Fernandes berpendapat ada lima ketidakpastian yang harus diwaspadai kedua pasangan kandidat capres cawapres.

“Pertama, kandidat. Saya melihat keduanya mengalami ketidapercayaan diri. Gap betul antara 15-20 persen. Tapi kedua kandidat, saya melihat situasi psikologisnya tidak percaya diri. Tidak seperti SBY dulu. Dulu, kita bisa prediksi SBY menang. Sekarang ada pertanyaan apakah Jokowi menang atau Prabowo kalah,” tuturnya.

Kedua, soal pemilih saat ini tidak bisa diprediksi. Salah satu cara memang adalah survei, tapi dalam kontestasi ketat pemilih sudah diprediksi. Ada tiga segmen pemilih yang bisa diperebutkan, yakni milenial, perempuan dan pemilih islam.

Ketiga, partai juga tidak pasti, kecuali PDIP dan Gerindra. “Partai lain lebih cari aman. Mereka bertarung soal hidup mati di parlemen,” imbuhnya.

Keempat, relawan. Pihaknya mencermati sejak dua tahun ini model kerja relawan berbeda dengan Pilpres 2014.

“Dulu motivasi orang ikut relawan adalah gagasan. Desain pemilu kita menyebabkan relawan mengalami perubahan. Dulu relawan dibentuk dari bawah ke atas, sekarang top down. Bisa cek ke relawan. Relawan juga kerjanya menunggu,” jelasnya.

Kelima, ketidakpastian dari sisi isu. “Kita tidak tahu narasi isu dari kedua kandidat. Itu tidak terlihat kentara. Isunya, isu lama, misal soal pengalaman. Dulu Jokowi juga jual itu. Tim 02 soal asingdan aseng,” pungkasnya. [tok/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar